Chapter 45

46.5K 4.8K 718
                                        

Vote and comment please.
***

          "Engh."

Sean mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk dan menerangi ruangan beraroma desinfektan yang dia tempati saat ini.

"Astaga Sean!"

Sean mendengar suara ibunya yang terlonjak.

Dia membuka matanya perlahan, dan menolehkan wajahnya dengan sangat tidak bertenaga ketika menemukan dirinya sedang berbaring di ranjang rawat pasien.

"Kamu sudah sadar?" tanya Irene, dia berdiri di samping ranjang Sean.

Sean mengangguk, lalu terbatuk saat merasakan tenggorokannya begitu kering dan sangat haus.

Irene segera membantu Sean untuk bersandar di kepala ranjang, kemudian memberikan minum air hangat pada anaknya itu.

"Jam berapa sekarang?" tanya Sean setelah menghabiskan minumnya.

Irene melihat jam tangannya.

"Jam sepuluh pagi, apa kamu baik-baik saja? Mama panggil dokter dulu ya."

Sean tidak menjawab, namun wanita senja itu sudah lebih dulu berbalik dengan terburu-buru untuk keluar ruangan dan sepertinya meminta pada perawat agar memanggilkan dokter yang menangani Sean.

Ibunya masuk beberapa menit kemudian, dia bersama seorang dokter senior berkacamata yang Sean kenali sebagai salah satu dokter penyakit dalam yang sudah cukup lama bekerja di rumah sakit ini, empat orang dokter koas serta tiga orang perawat.

"Selamat pagi dokter Sean."

Dokter senior itu tersenyum sopan saat memberi salam.

"Apa anda bisa berbaring lagi? Saya akan melakukan pemeriksaan vital sebentar."

Sean mengangguk, Irene segera membantu anaknya itu untuk kembali berbaring di ranjang lalu dokter itu mulai memeriksa beberapa bagian vital Sean menggunakan stetoskop serta tekanan darah Sean menggunakan tensimeter.

"Kondisi dokter Sean sudah lebih baik dari kemarin, nyonya Aldarict." Kata dokter senior itu pada Irene.

Dia menyerahkan alat-alatnya periksanya kembali pada perawat.

"Demamnya sudah turun dan tekanan darahnya sudah kembali normal. Tapi karena beliau sudah sering melewatkan jam makan dan tidur selama sebulan ini, juga karena benturan yang dia terima saat jatuh dari podium kemarin, saya sarankan agar pemeriksaan dilanjutkan ke tahap intensif melalui CT Scan untuk melihat apakah ada hal yang mengkhawatirkan di perut dan kepala dokter Sean atau tidak."

Irene mengangguk meski wajahnya masih terlihat cemas.

"Baik, dok."

"Tapi sekarang dia baik-baik saja kan, dok?"

Dokter senior itu menoleh pada Sean, kemudian tersenyum simpul.

"Saya pikir juga begitu, nyonya Aldarict."

Irene mendesah lega, "Syukurlah."

"Apa saya sudah bisa keluar hari ini?" tanya Sean tiba-tiba.

Suara lemahnya terdengar serak, membuat orang-orang di ruangan itu terperangah.

"Ya?"

"Saya ada jadwal operasi hari ini."

Dokter senior itu langsung tertawa, "Anda benar-benar pekerja keras ya dokter. Tapi sayangnya, dokter Aldebaran sudah meminta bagian bedah umum yang lain untuk menggantikan anda hingga seminggu ke depan. Jadi tolong istirahat dengan tenang ya."

at: 12amTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang