"I know it, i still loving you?"
~❄❄❄~
"Udah balik lo?"
Gue baru masuk ke dalam rumah, tiba-tiba kak Jeka mengagetkan gue. Dia menyender di tembok dekat meja makan.
"Anjir." gue mengumpat sambil mengelus dada karena kaget. Gue hampiri dia dan bersiap membalas.
"Rasain." gue memukul lengannya yang katanya kekar berotot itu. Dia mengaduh kesakitan lalu mengelus lengannya itu.
"Woy cil, buru-buru amat." Jeka mendapati adiknya itu sudah menaiki tangga menuju kamarnya. Segera dia susul cewek itu ke atas.
"Jangan ganggu." titah gue dari dalam kamar dengan nada mengancam.
Jeka yang mendengar itu seketika bergidik ngeri. Dia tidak mau mengganggu Cecil dari pada harus mendengar cewek itu berteriak memakinya.
Di dalam kamar gue masih berpikir. Banyak hal yang gue lewatkan belakangan ini. Soobin jadi banyak berubah. Dia lebih banyak bicara terus banyak tingkah kayak Yeonjun.
Dan yang bikin keselnya lagi, ketika gue sudah mencoba untuk gak peduli sama dia malah jadi penasaran. Apa iya gue gak jadi putusin dia?
"Anjir gue tadi dipeluk dia kan ya? Hadeuh panas dingin gue ah," gue menyilangkan kedua tangan dan menggosok-gosok kedua bahu gue.
"Gak, gak, gue gak boleh baper." selanjutnya gue mengusap wajah gue seakan menyadarkan diri gue sendiri.
"Main HP aja deh, atau chat Yeji? Atau cerita sama kak Jeka? Ah jangannnnn, nanti dia laporin ke oma lagi." gue mondar mandir kebingungan. Kayaknya sih gue salting parah.
"Oke main HP aja," gue ambil HP lalu mencoba untuk membuka semua aplikasi. Namun tetap saja pikiran gue mengingat kejadian pelukan tadi. Lama-lama gue bisa gila kalau gini.
Layar HP gue mendadak berubah menjadi hitam ditambah lagi dia malah ikut error. "Anjir napa lagi sih, ahh." gue coba memencet layar HP ini.
Dan yang muncul adalah sebuah panggilan dari nomor yang tidak gue kenal. Panggilan masuk lewat wa, jadi gue bisa lihat foto profilnya.
"Candid dia, mukanya mirip siapa gitu ya? Kek kenal," gue bergumam sendiri.
"Ehhhhhh!" kaget. Gue melempar HP ke atas kasur.
"Napa dia nelfon sihhhh. Mati gak, mati plissss." gue mengutuk HP itu supaya panggilannya berhenti. Namun, getaran karena panggilan itu terus membuat gue jadi ketakutan.
Gue pasrah dan dengan setenang mungkin menjawab panggilan itu. "Ekhem,"
"Halo, ini siapa?" (gue pura-pura gak tau)
"Gue, soobin."
"Dapet nomor gue dari mana?"
"Lah, kan gue pernah sms lo. Lupa?"
(oiya anjir goblok gue)
"Oh. Maap lupa,"
"Iya gapapa."
"Kenapa nelfon?"
"Mau nanya, tapi lo harus jawab."
"Yaudah buruan." (gue masih berpikir positif)
"Lo lagi ngapain?"
"Lagi tiduran."
"Lah. Kan lo lagi telfonan sama gue."
"Ya itu juga."
"Udah makan belom?"
"Udah, bin."
"Hm, masih suka gak sama gue?"
"Hah?"
"Gajadi, ganti pertanyaan deh."
"Lah."
"Kalau 831 meaning itu apa?"
"Hah? Ya, itu kan angka. Mana ada artinya."
"Coba cek gugel,"
"Ribet ah."
"Cari dulu napa."
"Yaudah, bentar." (gue membuka aplikasi gugel lalu mencari arti angka itu)
Gue deg-degan setelah tahu dan membaca arti angka itu. Anjir sumpah ngeselin, mana bisa gue lanjut telfon kalau gini.
"Udah."
"Simpen dulu, ada lagi. Nanti baru sambungin artinya."
"Emm,"
"Kalo 224 meaning?"
"Huh, oke bentar." (mau copot aja udah jantung gue)
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Crush [On Hold/Slow]
Fanfiction"Emangnya bisa gitu, gunung es meleleh karena satu sentuhan?" "Bisa lah. soalnya, lo nyentuhnya pake cinta njir," °•🌜Jeonuwuw🌛•° Maaf bahasanya bisa aja baku bisa aja santuy; tergantung mood aing🌚 Start: 19 Maret End: Highest rank✔️ [...
![My Cold Crush [On Hold/Slow]](https://img.wattpad.com/cover/180809985-64-k125010.jpg)