❌Liefde Keer Terug❌

223 51 7
                                    

Tidak akan kubiarkan siapapun menghalangi hubungan kita.. Sekalipun mereka adalah keluargamu.

-nakamura yamada hiro

❌♥️❌

Sore itu, mereka telah usai latihan. Mereka dibubarkan cepat karena tidak ada latihan berat hari ini. Hiro mengajak Kinanti mampir kerumahnya sekedar untuk mengajak makan malam, sekaligus mengenalkan pada Damini sesuai janjinya. Dengan senang hati Kinanti mengiyakan ajakan sang kekasih. Mereka berjalan bersama menuju perumahan khusus militer di ujung jalan. Kinanti ternganga dibuatnya. Rumah Hiro terbilang sangat luas tak seperti rumah rumah yang sedari tadi mereka lewati.

Rumah putih bergaya Eropa modern yang megah lagi menjulang memanjakan setiap mata yang memandang. Rumah besar itu memiliki taman berumput hijau yang sangat luas. Taman itu ditata sedemikian rupa agar terlihat nyaman. Bangunan megah peninggalan Belanda ini tentu tidak dimiliki oleh sembarang orang.

"Kinanti, ayo masuk!" Hiro menggandeng lengan kekasihnya untuk masuk kerumahnya. mereka disambut oleh bibi Damini yang telah menyiapkan makanan khas Indo untuk mereka

"Bi... kenalkan, ini adalah Kinanti Brawijaya. Gadis yang kuceritakan tempo hari." mengenalkan kinanthi pada bibi Damini dengan malu-malu. Damini hanya tersenyum menanggapinya dan menunduk sopan kepada Kinanti tanda menyapa gadis itu. Damini tahu betul, hanya dari penampilannya Kinanti bukanlah seorang gadis pribumi biasa. Gadis ini tampak baik dan istimewa.

"Mari silahkan duduk den, non." Damini mempersilahkan mereka untuk duduk di meja yang penuh dengan hidangan.

"wah lihatlah apa yang bibi masak!" ucap Hiro dengan mata yang berbinar-binar memandangi makanan yang tersaji di hadapannya dengan rasa lapar.

"Hari ini bibi memasak kentang sambal goreng, sup iga sapi dan ayam rica-rica silakan dinikmati Aden, nona."

"sepertinya sangat lezat! Ayo makan Kinanti jangan malu-malu." Ucap Hiro dengan tak mengalihkan tatapannya dari makanan di hadapannya.

Damini mulai menyajikan dua piring nasi untuk majikannya. Hiro mulai mengambil beberapa potong ayam rica-rica dan lauk kentang sambal goreng yang terlihat amat menggoda.

Sedangkan Kinanti hanya mengambil sedikit sup iga daging sapi untuk lauk nya.

"Mari bi.. makan lah bersama kami." ucap Hiro sebelum menyantap makanan nya.

"Tidak perlu den, nanti bibi akan makan di belakang saja." Jawab Damini karena merasa tidak enak. takut dianggap lancang karena terlalu berbaur dengan sang majikan.

"Tidak apa-apa, bibi damini sudah aku anggap seperti ibuku sendiri." ucap Hiro dengan senyuman yang mengembang.

"Iya bi.. Lebih nikmat jika kita makan bersama-sama." Kinanti menimpali

Damii duduk dan mengambil satu porsi yang tersisa dengan ragu-ragu. Masih ada rasa segan di hatinya, karena tak pernah diperlakukan oleh majikan dengan sebaik ini. Selama 14 tahun mengabdikan dirinya kepada tuan Belanda, Damini belum pernah sekalipun mencicipi makanan mereka apa lagi makan bersama mereka di satu meja yang sama.

Akhirnya sore itu mereka makan bersama-sama di meja makan minimalis. sesekali mereka tertawa dan bercanda bersama, seperti layaknya satu keluarga.

Sore menjelang malam, senja mulai nampak. Hiro mengajak Kinanti untuk pergi ke lantai 2. Mereka sampai di kamar Hiro. Kinanti ragu-ragu memasukinya, namun karena ajakan sang kekasih, gadis itu tak enak hati untuk menolak.

Kinanti duduk di sofa empuk Hiro di ujung ruangan. Seraya mengerlingkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Hiro. Tidak menyangka lelaki jenaka nan selengekan ini memiliki kamar yang begitu nyaman dan bersih. Untuk ukuran kamar lelaki, kamar Hiro adalah kamar seorang lelaki terbersih yang pernah Kinanti datangi. Bahkan kamar kakak laki lakinya tak sebersih ini.

𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐢𝐧 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝 𝐖𝐚𝐫 𝐥𝐥Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang