❌Waktu❌

236 32 11
                                    

Hari pertama Kinanti dirumah keluarga Nakamura berjalan buruk. Bu Ayumi memarahinya habis habisan akibat beberapa kesalahan yang gadis itu lakukan. Tak tanggung-tanggung, istri kolonel Hikaru itu memarahinya didepan Naomi, yang diam diam merasa senang atas perlakuan bu Ayumi kepada menantunya.

"Apa ibumu tidak pernah mengajarimu memasak? Kau tidak tau caranya menumis, kinanti?" Begitu omelnya tatakala Kinanti gagal membuat washoku sebagai menu utama makan malam mereka.

Bukannya Kinanti tidak bisa memasak, bahkan ia sangat mahir dalam memasak. Namun masakan yang harus dia sajikan dirumah ini amat berbeda dengan yang ia masak sehari hari. Jika biasanya rempah rempah menjadi bumbu utama, kini daun shiso dan shoyu adalah penggantinya.

Akhirnya hidangan itu siap. Para perempuan dirumah keluarga Nakamura bahu membahu menyiapkan berbagai hidangan ke meja makan berbentuk persegi. Tak lupa Kinanti mengelap piring piring putih yang sebenarnya sudah sangat higenis.

Dua kepala keluarga pulang dengan wajah masam. Mereka membawa kabar buruk. Tentara Jepang mulai banyak yang memutuskan kembali negaranya, juga tak sedikit yang akhirnya menjadi tawanan perang. Di satu sisi kolonel Hikaru ingin melindungi keluarganya, di sisi lain, ia harus melindungi pasukan yang semakin tak tentu nasib. Dalam satu tarikkan nafas, sebuah keputusan besar diambilnya.

"Kita semua harus meninggalkan tanah ini, dengan atau tanpa persetujuan pemerintah pusat." Keheningan makan malam terpecah oleh suara Hikaru, membuat semua yang ada disana menghentikan aktivitasnya. Bagaimanapun, bagi Hikaru keluarga lebih penting dari pengabdiannya kepada kaisar.

Hiro melirik kearah istrinya yang kini menunduk gelisah. "Apakah tidak ada cara lain, ottosan?"

"Pilihan lain. Membusuk di penjara dan terserang penyakit menular." Jawabnya datar. Cepat cepat menengguk segelas air putih. Rautnya begitu lelah, tak henti hentinya ia memijat pelipis. Beberapa saat, semuanya hanya mampu terdiam, seolah hanyut dalam dunia sendiri sendiri.

Tiba tiba Kinanti bangkit dari duduknya. Dengan tetap menunduk, bibirnya berujar lirih. "Sepertinya aku tak enak badan. Lebih baik beristirahat terlebih dahulu, maaf membuat makan malam ini tak menyenangkan. Selamat malam ottosan, okassan.." wanita itu membungkuk separuh badan seperti yang diajarkan Hiro. Kolonel Hikaru mengangguk, tak ingin memusingkan sikap aneh menantunya. Langkah kinanti yang tergesa membuat Hiro memicingkan mata. Sekarang Hiro paham, Kinanti hanya tak ingin berpisah dengan tanah kelahirannya. Suapan terakhir ia lahap dengan cepat, dan bergegas menyusul sang istri.

Seorang wanita muda dengan yukata tengah memandangi rembulan melalui jendela besar, menjadi pemandangan pertama saat Hiro menjejakkan kaki dikamarnya. Tatapan Kinanti begitu sayu, memandang kosong sang purnama yang tengah bersinar indah indahnya. Percikan gerimis kecil menciptakan buliran embun di balik kaca, seolah awan ikut bersedih. Kinanti hanyut dalam lamunan, hingga tak menyadari Hiro sedang memeluknya mesra. "Ada apa hm?"

Yamada Hiro berusaha menenangkan wanita yang tengah bersedih itu. Kinanti tak menjawab, namun tangan kanannya meremas jemari Hiro yang melingkar possesif di pinggangnya.

"Tidak bisakah kita disini saja?" Tubuh mungil Kinanti berbalik, mengiba kepada Hiro yang agak senewen. Hiro menarik nafas, mengembuskannya perlahan. Dengan sabar, ia menjawab.

"Dan membiarkan mereka menyiksaku dalam barak tahanan?" Hiro menaikkan sebelah alisnya, mencoba memberi pengertian yang tepat untuk istri tercinta.

Kinanti Brawijaya menggigit gigit bibir bawahnya, lantas menggeleng lemah "Tidak..."

"Kemerdekaan bangsamu sudah didepan mata. Kelak, jika keadaan membaik, aku akan membawamu kembali kesini, dan hidup disini. Hanya kita." Hiro berbisik lembut tepat didaun telinga Kinanti, yang kini hatinya berdebar tak karuan.

𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐢𝐧 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝 𝐖𝐚𝐫 𝐥𝐥Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang