❌Lembaran Baru❌

191 35 34
                                    


"Yoshida-kun!" seorang wanita berbadan dua tergopoh-gopoh berlari kearah suaminya di suatu sore, tepat saat sakura sedang berguguran. Lelaki yang dipanggil 'ikogume' itu menoleh. Mengulas senyum tipis, namun matanya memancarkan kesedihan.

"Naomi-san..." panggilnya lirih saat sang wanita sudah berdiri dihadapannya. Naomi tersenyum, entah mengapa ia merasa sangat merindukan lelaki ini. Naomi memeluknya erat, tak terasa air mata berjatuhan. Raga suaminya terasa sangat nyata, begitupun dengan aroma tubuhnya yang tak pernah berubah.

Yoshida ikogume mengurai pelukan mereka, menatap istrinya lekat lekat. Lalu menggerakkan ibu jarinya menghapus sisa air mata yang membasahi pipi Naomi. "Jangan menangis lagi.. lihatlah dimana kita berada." Pandangan lelaki itu bergulir ke sekitar mereka, diikuti oleh sang istri.

Hanami sakura terpampang disana, berwarna merah muda, berguguran menghujani keduanya, indah sekali. Sepasang manusia itu hanyut dalam keindahannya. Yoshida ikogume mengambil salah satu sakura putih yang sedang berjatuhan, menyematkannya di telinga kanan sang istri. Pipi mulus Naomi bersemu kemerahan, mengundang kecupan Yoshida ikogume. Tatapan lelaki itu beralih pada perut besar Naomi, dan membisikkan sesuatu kepadanya.

"Ī ko ni nari nasai... jangan merepotkan mama mu.."(jadilah anak yang baik). Yoshida mengecupnya lembut sambil memejamkan mata, begitu dalam. Si jabang bayi menendang nendang, seolah ikut merasakan kehadiran sang ayah. Tak lama kemudian lelaki itu bangkit, meraih kedua tangan Naomi yang terasa kecil dalam genggamannya.

"Jangan bersedih Naomi-san.. aku selalu berada di dekatmu, dihatimu.." Yoshida ikogume mengecup dahi istrinya untuk beberapa saat sambil menitikkan air mata. Kupu kupu berterbangan dalam dada Naomi, wanita yang sedang hamil itu merasa sangat bahagia.

Namun, saat bahagia mereka tak lama, angin kencang berembus menerpa keduanya. Tidak, lebih tepatnya membawa serta Yoshida ikogume. Tak tinggal diam, sang istri berusaha mengejarnya, walau sulit membawa beban diperutnya.

"Yoshida-kun matsu!!" (tunggu, Yoshida)

Namun angin membawa suaminya semakin menjauh, tak tergapai, hingga menghilang ditelan cahaya putih yang begitu menyilaukan. Tinggallah Naomi sendiri ditengah sakura yang kini berubah layu. Ia menjerit, menangis pedih, memanggil nama suaminya...




Baru saja Yamada Hiro terpejam, pekikan keras membuat matanya kembali terjaga. Hiro terperanjat, cepat cepat melepaskan tubuhnya yang tergelung selimut, membuka pintu dan berlari menuju asal suara. Ternyata suara itu bersumber dari sebelah kamar tidurnya, tempat tidur Naomi.

Matanya membelalak setelah membuka pintu kamar Naomi yang memang tak terkunci. Hiro mendapati wanita itu menangis sesenggukan sambil memejamkan mata.

"Daijobu, Naomi-san?" tanyanya khawatir setelah mendudukkan diri di ranjang berseprei putih tulang. Tiba tiba Naomi membuka matanya, dan memeluk Hiro tanpa sadar. Hiro terkejut, cepat cepat menyambar gelas berisi air putih yang tergeletak di nakas, menyodorkan kepada Naomi yang bercucuran keringat.

Wanita itu menenggaknya sampai tandas, ia terlihat menyedihkan. Hiro mengelus punggung Naomi yang basah oleh keringat, berusaha menenangkannya.

"Ada apa, Naomi?" Hiro bertanya sekali lagi, membuat Naomi menoleh dengan mata berkaca-kaca seperti hendak menangis.

"Yoshida-kun... A-aku melihatnya dalam tidurku, membawaku ke pelukannya, namun sesuatu membawanya pergi." Naomi berusaha menjelaskan walau terbata bata. Hiro mencoba bersabar sambil tetap mendengarkan.

"Kami sedang menikmati indahnya sakura bersama-sama.. tiba tiba angin berembus menerpa tubuhnya hingga menghilang, kemudian a-aku..."

"Sssttt... tenanglah, tak perlu kau jelaskan." Hiro memotong cerita Naomi sebelum terselesaikan. Tak lama, mata sipitnya menatap Naomi dan tersenyum menenangkan. "Itu artinya, Yoshida tak ingin kau berlarut dalam kesedihan.. jangan lupa kau masih memiliki anak dalam kandunganmu yang membutuhkan kasih sayangmu. Kamu wanita yang kuat, Naomi-san!" tangan Hiro beralih mengelus rambut hitam Naomi.

𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐢𝐧 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝 𝐖𝐚𝐫 𝐥𝐥Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang