27 | Disampingnya

152 12 4
                                        

"Aku tau kamu terluka terlalu dalam."

****

Vera masih setia mengenggam tangan Varel,ini sudah pagi tapi Varel belum juga membuka matanya.

"Pasien terluka cukup parah bahunya mengalami cidera dan dirinya mengalami demam tinggi dikarenakan stres sepertinya pasien banyak mengalami tekanan ."

Vera terus teringat akan ucapan dokter yang memeriksa Varel.

Apakah selama ini Varel telah banyak terluka karena keluarganya?apakah Vera bisa menerima Varel kembali?

"Cepet bangun gua sayang lo." ucap Vera sambil mengelus tangan Varel yang terbebas dari infus.

Cahaya matahari pagi telah masuk melewati celah-celah jendela.

Varel membuka matanya perlahan karena sedikit terganggu oleh cahaya yang masuk.

"Sendiri lagi." lirihnya ketika melihat tidak ada seorang pun didalam ruangannya kecuali dia.

"Jangan bangun dulu kalau masih lemas."

Varel mendapati suara Vera dan menemukan gadis itu yang tengah keluar dari kamar mandi.

"Masih sedikit hangat." ucap Vera sambil memegang dahi Varel untuk mengecek suhu badan Varel.

"Kamu kenapa bisa disini?." tanya Varel.

"Aku nemenin kamu lah,dan juga gimana aku gak mau panik kamu tiba-tiba pingsan didepan aku."omelnya.

"Maaf."

"Lengan kamu kenapa bisa berdarah gitu?." tanya Vera dengan lembut.

Varel terdiam tidak menjawab.

"Yaudah gak papa kalau kamu belum bisa jawab sekarang." "Mau peluk?." tawar Vera

Varel langsung menghambur kedalam pelukan Vera,Vera mengelus lembut surai milik Varel.

"Maafin aku Vera."

"Aku udah maafin kamu kok."

"Jangan pergi,jangan tinggalin aku,tetap ada disamping aku ya." ucap Varel

"Iya aku akan tetap berada disamping kamu."

Varel tambah mengeratkan pelukannya,nyaman sekali berada di pelukan Vera.

"Sekarang kamu gak boleh cape-cape apalagi melakukan kegiatan yang memberatkan bahu kamu,bahu kamu cidera tahu."

Varel menganggukkan kepalanya.

"Maafin aku juga ya udah ngebiarin kamu kehujanan kemarin,dan berakhir kamu jadi sakit begini." ucap Vera.

"Bukan salah kamu."

Vera melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Varel. "Ih masa cowo nangis sih." ucapnya sambil mengusap pipi Varel yang sudah basah karena air matanya.

"Jangan diliattin ah aku malu." Varel sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Dih ngapain malu biasanya juga malu-maluin." jawab Vera diakhiri dengan kekehan.

Varel memasang muka masamnya.

Lalu dokter datang dengan membawa suster,untuk memeriksa Varel dan melepas nasal canula yang masih bertengger di hidung Varel.

"Ayo makan aku suappin." ucap Vera.

Varel membuka mulutnya bersiap untuk menerima suappan Vera.

"Kamu gak bawa garam?." tanya Varel.

Vera mengernyitkan dahinya bingung.

"Garam?."

"Iya kalau kamu bawa mau aku taburin di bubur,lagian buburnya gak ada rasa sama sekali hambar." jawabnya.

"Makanya siapa suruh sakit." ucap Vera sambil mencubiti hidung Varel.

Cklek.

"Varel teman gua yang unyu ini kenapa bisa masuk rumah sakit sih." suara Nichol sangat menggelegar.

"Berisik lo." ketus Varel

Nichol datang bersama dengan Bunga,lalu gadis itu menghampiri Vera.

"Awww lo gila ya." adu Varel karena Nichol dengan sengaja menepuk keras bahu Varel.

"Eh yang ini luka juga ternyata." ejek Nichol.

Vera yang melihat itu membalas dengan memukul tangan Nichol dengan kencang.

"Sakit Vera ih."

"Makanya jangan iseng."

"Bunga kamu kok diem aja sih,elus-elus tangan aku dong." ucap Nichol.

Bunga memutar bola mata malas. "Sini-sini mana yang sakit."

"Sumpah lo berdua geliin." Vera seketika ingin muntah rasanya.

Kring...

Vera mengambil ponsel yang berada di atas meja,lalu melihat siapa yang menelfon dirinya.

Mila nama itu tercantum diponsel Vera.

"Rel aku angkat telfon dulu ya." ucap Vera.

Varel membalas dengan anggukkan.

"Iya halo Mil."

"Vera lo dimana?."

"Gua lagi di rumah sakit emangnya kenapa?."

"Lo sakit?."

"Bukan Varel yang sakit."

"Yah Varel lagi sakit ya,padahal gua mau ngajakin lo ketemuan."

"Ketemuan disini aja kebetulan ada Bunga juga."

"Ok gua kesana ya sekalian jenggukkin Varel."

"Sipp gua tunggu."

Vera masuk kembali ke ruang rawat Varel.

"Siapa yang nelfon?." tanya Varel.

"Mila dia mau kesini."

*****

"Gua mau lo berdua celakain Reka abangnya Varel,buat di terluka." ucap Reza kepada kedua temannya.

"Gua dapat kabar dari orang suruhan gua katanya abangnya Varel mau ngejalanin operasi." jelas Firza

"Operasi apaan?."tanya Reza.

"Transplantasi ginjal."

"Bagus kalau gitu tugas lo berdua ambil ginjal itu,gimanapun caranya ginjal itu harus ada ditangan kita." ucap Reza dengan puas

'Lo bakal merasakan kehancuran Varel.' batin Reza.

*****

Mereka bertiga tertawa sangat kencang.

"Jadi si Azka ngajakin lo pacaran?." tanya Bunga.

"Iya Azka yang terkenal sebagai cool boy nembak gua coba."

"Terus lo terima?." tanya Vera.

"Belum gua jawab."

"Diterima aja Mil biar lo gak jomblo lagi." ucap Vera dan Bunga berbarengngan

"Sue lu berdua."

"Biar lo gak jadi nyamuk kalau kita berdua lagi pacaran hahaha." Vera sangat senang kalau menggoda sahabatnya itu.

*****

Update yuhuuu

Jangan lupa pencet bintang yang ada di pojok kanan ya,maaci

Tidak luput dari typo

07-07-2020




















Betting Boy (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang