Vera memandangi wajah Varel yang tengah meminum teh hangat buatannya.
"Mau ngemil juga gak?,kalau mau gua ambil kue dulu." ucapnya setelah itu dirinya bangun untuk mengambil kue.
Varel mah mau-mau aja orang dia lagi laper.
Vera kembali dengan membawa piring yang berisi kue coklat.
"Nih dimakan ya,kalau bisa sampai habis."
"Makasi."
Varel mengambil kue coklat tersebut dan memakannya.
"Enak gak?."
Varel menganggukkan kepalanya. "Beli apa bikin nih?."
"Bikin lah,gua yang bikin."
"Ternyata seorang Vera yang bar-bar bisa bikin kue juga."
Vera mendengus kesal.
Mereka larut dalam pembicaraan.
"Udah gak hujan,ya walaupun masih gerimis dikit." ucap Vera.
"Yaudah kalau gitu gua balik ya,nyokap lo mana?,calon mantu mau pamit nih."
"Calon mantu palalu,gua panggilin dulu."
Vera masuk kedalam untuk memanggil Yeni ibunya.
"Eh calon mantu udah mau pulang aja nih." ucap Yeni.
"Iya tan,mumpung hujannya gak deres kaya tadi." jawabnya sambil menyalimi tangan Yeni.
Yeni mengelus rambut Varel dengan lembut,perlakuan anak dan ibu sama-sama suka mengelus rambut Varel.
"Jangan ngebut ya hati-hati,pokoknya bawa motornya pelan-pelan aja." Yeni memperingati.
Varel sangat nyaman dengan perlakuan Yeni,dia jadi rindu akan sosok ibunya.
"Iya tan,yaudah aku pamit pulang ya tante Vera,makasi juga atas minuman dan kuenya,aku gak nyangka loh tan anak tante bisa buat kue seenak ini." ucapnya sambil menggoda Vera.
"Vera ini jago masak loh,nanti tante suru Vera buattin kamu kue yang banyak lagi."
"Sip tante."
Setelah itu Varel menjalankan motornya untuk pulang.
*****
"Kita berbeda,lo punya keluarga yang bahagia,sedangkan gua? Jauh dari kata harmonis."
*****
Malam pun tiba,udaranya masih sangat dingin karena hujan tadi.
Varel sedang tiduran di kasur sambil memainkan ponselnya.
"Lucu." gumamnya disaat ia melihat foto Vera di galerinya.
Tiba-tiba saja perlakuan Tante Yeni muncul di otaknya.
Varel tersenyum sinis.
"Kita berbeda Vera,lo bahagia punya keluarga yang saling melengkapi,sedangkan gua? Jauh dari kata harmonis."
Varel tersenyum miris.
"Apa gua harus mutussin lu ya,sebelum lu tau kalau lo cuman gua jadiin bahan taruhan,tapi walaupun kisah kita ini di awali dari taruhan tapi seiringnya waktu gua sayang lo."
Varel memikirkan rencana yang harus ia lakukan besok,tanpa tersadar akhirnya ia tertidur.
*
"Varel lo ini lucu banget sih." ucap Vera sambil memandangi ponselnya yang terdapat foto Varel.
Foto Varel ketika menggunakan helm dikepalanya dan membawa jas hujan dan juga helm untuk dirinya.
"Bener kata orang,benci bisa berubah jadi cinta,buktinya sekarang hati gua masih berbunga-bunga karena perlakuan lo tadi."
Matanya kembali fokus terhadap foto Varel.
"Gua harap lo gak kaya Reza,gua harap juga cinta lo tulus sama gua Rel,gua udah terlanjur memasukkan nama lo di hati gua yang paling dalam."
Tersadar apa yang ia ucapkan tadi Vera menggelengkan kepalanya. "Nahkan mulai bucin nih gua pasti."
Setelah puas melihat foto Varel,Vera memutuskan untuk tidur.
*****
"Hellow cantiknya aku." ucap Nichol dengan gombal.
"Pagi-pagi udah gombal aja sih."
"Tapi kamu suka kan?,buktinya merah tuh pipi."
Bunga menutupi pipinya dengan kedua tangannya dan berlari ke kelas.
"Bunga jangan lari-lari nanti jatuh." Nichol juga ikut berlari.
Sesampainya di kelas Bunga langsung duduk di kursinya.
"Kamu kenapa lari-lari sih ntar kalau jatuh kan sakit."
"Menurut kamu aku lari gitu karena apa?,ya karena aku malu kamunya gombal mulu sih."
Bunga menutup mulutnya ketika dirinya keceplosan mengucapkan bahwa dirinya malu.
"Aduhhh pasangan yang satu ini pagi-pagi udah berantem aja sih." ledek Vera,dirinya baru datang bersama Varel.
Bunga baru dari duduknya menghampiri Vera lalu menarik tangan Vera.
"Ehh gua mau dibawa kemana ini." Vera memandangi tangannya yang ditarik Bunga.
"Gimana hubungan lo berdua?.tanya Nichol ketika sudah memastikan kedua perempuan itu pergi.
Mendengar pertanyaan Nichol,Varel menghela napas pelan. "Hari ini gua mau mutussin Vera."
"Serius?."
"Iya,gua takutnya pas kita masih pacaran,tiba-tiba Vera tau kalau gua jadiin bahan taruhan,ntar dia makin sakit hati,dan gua gak mau itu terjadi."
"Tapi menurut gua kalau lo mutussin Vera,si Reza juga bakal tetep ngebongkar,lo kaya gak tau dia aja."
"Seenggaknya Vera gak sakit hati banget nantinya,dan gua gak terlalu menyakitinya sampai dalam."
Tanpa mereka berdua sadari ada yang mendengar semua omongan mereka.
'Jadi selama ini cuman dijadiin bahan taruhan?.'
*****
Ngegantung ya? Hehe
Makasih yang selama ini udah vote n comment,dan masih setia menunggu dan membaca cerita ini
Gak kerasa udah hampir 500 pembaca
16-04-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Betting Boy (END)
Teen FictionKenalin Vera Clasrissa,gadis cantik dengan rambut sepinggang,kulit putih dan pipi yang sedikit berisi Seorang Vera dikenal sebagi murid yang pintar,jago dalam segala hal,semua orang menyukai,dan sebaliknya ia menyukai semua orang,eh tapi dia gak suk...
