26 | Maaf

169 12 3
                                        

"Bilang sama tuhan aku mau bahagia sebentar aja."

*****

Disinilah Varel berada di pusara Gea,ia sedikit berjongkok lalu tak lupa ia berdoa.

"Aku kangen kamu Gea." lirih Varel sambil mengusap nisan yang bertuliskan nama Gea.

"Alasan aku bertahan waktu itu ya karena kamu,setelah kamu gak ada aku gak tau harus bertahan buat siapa?."

Varel benar merasa banyak kekosongan dalam hidupnya.

"Gua jahat ya?." gumamnya.

"Bantu aku,bilang sama tuhan aku mau bahagia sebentar aja."

Setelah itu Varel meletakkan buket bunga lalu pergi.

*****

"Varel jahat sama gua Bung." Vera menceritakan semua yang terjadi.

Bunga memeluk Vera untuk menenangkannya.

"Udah ya jangan nangis,jelek ih."

Vera melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya.

"Siapa juga yang nangis,ini mah cuman netes dikit doang."

"Vera." panggil Bunga.

"Ya?."

Bunga menghela napas terlebih dahulu. "Sebenarnya gua udah tau kalau lo cuman dijadiin taruhan."

Vera terkejut mendengarnya ucapan Bunga.

Bunga akhirnya menjelaskannya."Nichol bilang disaat lo udah tau,harapan Nichol adalah dia pengen lo tetap selalu ada buat Varel."

"Varel butuh lo Vera." lanjutnya.

Vera menundukkan kepalanya,ia benar-benar tidak tahu apa yang ia harus lakukan sekarang.

*****

Pikiran Varel benar-benar jenuh,rasanya ia ingin pergi dari muka bumi ini.

"Rel gua mohon lu jangan balapan." pinta Nichol

"Nichol udah lo diem bisa gak sih lo gak usah ikut campur."

"Gua begini karena peduli sama lo." ucap Nichol lalu melenggang pergi dia benar-benar sudah muak dengan Varel.

Varel sudah siap di atas motornya untuk balapan.

Brum...brum

Varel melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Namun naas di pertengahan jalan ia terjatuh dirinya terseret bersama motornya.

"Shhh,akhhhhh."

Varel sempat melepaskan dirinya dari motor agar ia tidak terseret terlalu jauh.

"Akhh kenapa harus jatuh sihh,Varel lo benar-benar payah."

Yogi lawan Varel turun dari motornya untuk membantu Varel.

"Varel lo gak papa?." tanyanya khawatir ketika melihat Varel jatuh tepat di depan matanya.

"Lo kenapa sih gak biasanya lo kaya gini,lo juga kalau balapan gak pernah jatuh kaya gini."

"Gak usah banyak tanya,bantuin gua nih sakit."

Yogi membantu Varel untuk bangun,lalu mengambil motor Varel yang terseret lumayan jauh.

"Balapan nya gak usah dilanjuttin,lo pulang aja."

"Lo menang,tenang aja ntar gua kasih uang nya."

"Gak usah anggap aja balapan kali ini kita seri."

"Ok thanks."

"Mendingan lo pulang aja,mau gua antar?." tanya Yogi.

"Gak usah." jawab Varel,lalu ia menghampiri motornya dan berjalan meninggalkan Yogi sendiri.

Varel melajukan motornya dengan kecepatan tinggi,hari ini hari yang tidak beruntung untuk Varel,buktinya sekarang turun hujan.

Varel sama sekali tidak ada niattan untuk berteduh,ia lebih memilih terkena air hujan dan berakhir akan basah kuyup.

Motornya berhenti di salah satu perumahan elit.

Dirinya sudah bertekad ia akan meminta maaf lagi kepada Vera.

Tok..tok

Setelah ketukan ketiga pintu baru terbuka.

"Yaampun nak Varel ada perlu apa kesini,sampai hujan-hujanan begini."

Varel mencium tangan Yeni.

"Tante Veranya ada?."

"Ada mau tante panggilin?."

"Boleh tante."

"Tapi kamunya masuk dulu,dingin diluar."

"Gak usah tante saya disini aja."

Yeni meninggalkan Varel untuk memanggil Vera putrinya.

Tok...tok

"Vera mamah masuk ya."

"Iya mah." sahut Vera dari dalam kamar.

"Vera ada Varel diluar."

Vera langsung menatap ibunya dengan bingung.

"Varel kesini?."

"Iya itu ada diluar sana kamu temuiin kasihan dia sampai hujan-hujanan gitu."

"Bilang sama Varel mah,Vera gak mau ketemu sama dia."

Yeni mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Kamu lagi ada masalah sama Varel?."

Vera tidak menjawab.

"Vera dengerin mamah kalau kamu lagi ada masalah sama Varel temuiin dia selesaiin masalahnya secara bersama-sama."

"Aku gak mau mah,suruh dia pulang aja."

"Yaudah mamah gak maksa,mamah suruh Varel pulang ya."

Yeni keluar dari kamar Vera.

Hancur sudah pertahanan Varel sekarang,Vera tidak mau bertemu dengannya.

Namun Varel tidak bergerak dari tempatnya sama sekali,ia terus menerus menatap ke balkon kamar Vera,berharap gadisnya itu keluar dan melihatnya.

Vera sudah bersiap untuk tidur namun pikirannya terus dipenuhi oleh Varel.

Vera berjalan ke arah balkon untuk menenangkan pikirannya ia tidak peduli dengan hujan.

Vera membulatkan matanya tidak percaya ketika melihat Varel masih berada di rumahnya.

"Varel udah gila."

Akhirnya Vera memutuskan untuk turun kebawah dan tak lupa ia membawa payung,Sejahat-jahat Varel tapi Vera masih peduli dengannya.

"Varel lo tuh bodoh atau gimana sih?." tanya Vera yang sudah sangat kesal.

Varel menatap Vera dengan tatapan sendu.

"Lo ngapain juga masih disini,udah pulang sana."

Varel membawa Vera ke dalam pelukannya

"Maaf."

Pertahan Vera untuk tidak menangis runtuh juga.

"Maaf gua udah nyakitin hati lo,gua benar-benar nyesel,gua emang cowo bodoh."

Tanpa sengaja mata Vera melihat lengan Varel darah.

Vera melepas pelukannya lalu tangannya memegang lengan Varel.

"Lo kenapa berdarah gini?." tanya Vera khawatir.

"Gua gak papa." lirih Varel

Namun seperdetik kemudian,Varel jatuh meluruh dihadapan Vera.

*****

27-06-2020









Betting Boy (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang