Rangga Aditya Mahendra. Cowok yang terkenal dengan sifat dingin, datar, angkuh, dan juga pintar seantero sekolah. Walaupun seperti itu Rangga termasuk ke dalam orang yang tak lupa dengan tanggung jawabnya, terbukti dengan ia yang menjabat sebagai ke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌈🌈🌈
Disinilah sekarang Bella berada, cafe biasa tempat dimana ia dan Rangga belajar. Sudah hampir setengah jam Rangga belum datang, dan itu membuat Bella kesal.
"Awas aja kalo ntu kakak kelas belum datang juga sampe jarum panjang udah di angka 8, gue tinggal pergi. Ya kali gue nungguin suatu hal yang gak pasti kaya perasaan ini," keluh Bella.
Dia berfikir jika Rangga tidak akan datang, dan lihat jam sudah menunjukkan waktunya.
Dengan cepat Bella menyusun barang-barangnya, dan membayar minuman yang dipesannya tadi, dan bergegas pergi dari cafe ini. Begitulah Bella kadang dia tak sabaran.
"Bella, kenapa keluar? Gak jadi belajaranya?" Itu Rangga yang tiba-tiba datang ke hadapan Bella.
"Minggir, gue mau pulang," ujar Bella yang memang dia sudah merasa kesal pada Rangga.
"Lah kok gini sih. Ayo masuk, gue jelasin kenapa gue lama datang," ajak Rangga yang mendapat anggukan dari Bella yang tengah memakan lolipop kesukaannya.
Setelah sampai di salah satu meja yang ada di cafe itu, Bella langsung mengeluarkan buku biologinya dan tetap diam. Itu berhasil membuat Rangga merasa bersalah.
"Jadi Bel, tadi itu gue lama datang kesini karena gue harus nemenin Keysia beli buku dulu. Maaf ya Bel," ujar Rangga dan tidak mendapat reaksi apapun dari Bella.
"Bel, Bella."
"Kita jadi belajar gak? Kalo enggak gue mau pulang capek, soalnya nanti malam gue ada acara keluarga." Ini hanyalah tipuan Bella, ya kali Bella ada acara keluarga.
"Jadi, sini bukunya."
Satu setengah jam telah berlalu, dan mereka masih larut dalam pelajaran tersebut. Waktu Rangga memberikan soal kepada Bella, Bella dengan serius mengerjakannya, dan Rangga dengan senantiasa selalu menatap Bella. Hingga mata Rangga tertuju pada pergelangan tangan Bella yang membuatnya merasa aneh, seperti bekas sayatan pikirnya.
"Ini udah liat dulu, ada yang salah apa kaga," ujar Bella sembari memberikan buku catatannya pada Rangga.
"Benar semua, makin pintar aja lo gak sia-sia gue ngajarin lo selama ini," kata Rangga sambil mengacak-acak rambut Bella dan Tersenyum manis."Yaudah, pulang yuk." Bella tidak menjawab, dia hanya mengikuti apa yang di katakan Rangga.
Dan sampailah mereka di depan rumah Bella.
"Bel, lo bilang lo ada acara keluarga, tapi rumah lo sepi kaya kuburan kaya kaga ada penghuninya."
"Kaga kak, gue gak ada acara keluarga. Tadi itu gue kesal aja sama kakak," kata Bella sambil menunduk dan memainkan sepatunya. Ntahlah hari ini perasaan Bella sedang tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu.
"Astaga Bella kenapa lo ga bilang ke gue. Yaudah maafin gue ya karna udah lama datang tadi."
"Gak apa-apa kak, gue masuk dulu ya kak." Belum sempat Bella melangkah, tangannya sudah terlebih dahulu dicekal oleh Rangga. Dan itu membuat Bella merasa kesakitan. "Lo kenapa Bel? Tangan lo kenapa?" tanya Rangga penasaran.
"Kakak tu apa-apaan sih, sakit tau tangan gue. Ini itu karna gue kena serpihan kacanya bingkai foto, makanya kaya gini," bohong Bella tentunya.
"Lo gak usah bohong sama gue, gue tau kalo itu bukan karena serpihan kaca bingkai karena itu kejauhan ke sini Bel," ujar Rangga.
"Lo apa-apaan sih kak gak percayaan banget. Lagian ini ga ada urusannya sama lo kak, udah ah gue mau masuk gue capek." Dengan cepat Bella pergi dari hadapan Rangga.
"Gue punya urusan atas hal itu Bel, karna gue suka sama lo." Ups Rangga keceplosan, oh tidak lebih tepatnya refleks dan itu berhasil membuat Bella menegang.
Tidak mungkin, tidak mungkin seorang Rangga suka sama cewe kaya Bella. Penampilannya saja sudah menunjukan Bella wanita tidak baik. Dan lihat, Rangga suka sama dia? Ini bisa dibuat dalam tujuh keajaiban dunia. "Seorang es menyukai gadis si permen lolipop strowbery."
"Ada-ada aja lo kak, mending lo pulang dan mandi sana biar ga ngaco kaya gini."
***
Lagi dan lagi, orang tua Bella pulang ke rumah. Bukannya membuat hati Bella senang namun makin sedih. Bagaimana tidak, Bella yang tengah duduk santai sambil menonton film di ruang tamu tiba-tiba ia di kagetkan dengan kehadiran orang tuannya.
"Oh, jadi gini Bella. Kamu di sekolah tidak di ajarkan sopan santun ya? Orang tua datang bukannya disambut malah di acuhin gitu aja," ujar mama Bella dan sontak membuat pipi Bella memanas.
"Kebiasaan kamu begitu ya, pantasan tidak ada orang yang suka sama kamu, tidak ada sopan santun," sambung papanya Bella dan semakin menaikkan amarah Bella.
"Mama sama papa aja ga pernah ngajarin aku gimana caranya sopan santun, jadi aku ga tau," ujar Bella santai, tapi matanya terus mengarah ke televisi.
"Oh, udah mulai berani kamu ya sama orang tua kamu sendiri!" bentak mama Bella sambil menjambak rambut Bella hingga membuat Bella meringis kesakitan. "Kamu siapa yang ngajarin melawan orangtua sendiri ha? Dasar gak berguna."
Jleb
Anak gak berguna. Sebegitu bencinyakah orang tua Bella padanya? Perlahan air mata Bella menetes, dia sudah tak tahan lagi.
"Ma, aku anak ga berguna? Iya Ma? Asal Mama sama Papa tau ya aku kaya gini itu karena Mama sama Papa, kalian gak pernah ngajarin aku gimana caranya biar berguna. Kalian selalu mikirin dan nyari kesalahan aku. Hiks...hiks... Aku emang gak ada gunanya, aku selalu salah di mata kalian. Mah, pah, aku cuma butuh 5 menit oh tidak, 3 menit, salah 1 menit mah, pah. Aku hanya butuh 1 menit buat mama sama papa biar bisa peluk aku, biar bisa bilang ke aku Bella sayang, apa itu susah? Sekali aja! Apa aku harus berlutut di kaki mama sama papa? Aku pengen pah, mah kaya anak-anak lainnya yang dapat kasih sayang dari orang tuannya."
"Cukup Bella, apa maksud kamu bicara seperti itu hah?" Satu tamparan berhasil meleset di pipi mulus Bella.
"Tampar pa, tampar lagi nih sebelahnya. Tampar aja terus, karena aku ga rasain gimana sakitnya. Mama sama papa jahat, kalau dari dulu kalian ga niat buat aku ada di dunia ini kenapa kalian buat? Anak itu untuk di sayang bukan untuk di caci, di marahin dan di asingin. Kalian tau gak? Aku tinggal di rumah ini kaya anak kost, aku makan disini, aku tidur disini, aku mandi di sini, tapi aku gak pernah di kasi kasih sayang. Aku benci sama Mama sama Papa." Dengan cepat Bella berlari ke kamarnya dan menumpahkan segala keluh kesahnya di sini.
Sudut kamar ini, disinilah Bella menumpahkan rasa kekesalan, kekecewaannya.
"Kalo enggak sayang sama aku setidaknya jangan marahin aku mah, pah. Aku capek kaya gini terus, aku anak kalian darah daging kalian, apa kalian lupa itu? Aku rasa tidak. Ya Allah, kenapa harus sekejam ini dunia yang aku hadapi? Aku capek ya Allah, jemput Aku aja aku udah ga tahan. Mama sama papa yang seharunya nenangin aku malah mereka yang buat luka di diri aku. Orang-orang salah, rumah bukanlah tempat terbaik untuk mengadu, tapi rumah adalah nereka terpanas yang ada di dunia," batin Bella.
Sudah 3 jam lamanya Bella menangis dan 3 jam pula dia melamun, sepertinya pikirannya kosong. Hingga akhirnya ia terlelap di sudut kamarnya itu tanpa lampu yang menyala, dia bahkan tak tau apa lagi yang akan terjadi pada dirinya.