'Janjiku pada diri sendiri adalah membahagiakanmu, maka jangan menangis lagi.'
Elshanum & Albirru
~Thierogiara
***
Shanum menghadap ke Tuhannya dengan air mata mengalir deras, lagi-lagi semua ini sangat menyakitinya. Tak ada lain lagi yang bisa Shanum lakukan kecuali menghadap Rab-Nya meminta kekuatan yang tak habis-habisnya, agar dirinya tak terkejut lagi meski akan banyak hal-hal mengejutkan menghampiri hidupnya.
Shanum tak lagi mampu berkata-kata, air matanya langsung tumpah selepas salam setelah salat subuh hari ini. Shanum menempelkan telapak tangannya di dada berusaha menghalau segala hal yang membuatnya merasa sesak.
"Ya Allah, setiap rencana yang telah terjadi tak sesuai rencana kuharap ini adalah yang terbaik menurut-Mu, terima kasih telah memberikan sesak ini ke dadaku, terima kasih karena telah menunjukkan cinta-Mu untukku." Shanum kembali berhenti, dia tak mau menyalahkan siapa pun dari semua yang terjadi, ketentuan Allah pasti tak pernah salah, selalu ada hal baik di balik semua ini. Hari ini Shanum akan menikah dengan Biru, rencana indah yang sudah dirancang sedemikian rupa, akhirnya berakhir tidak sesuai rencana.
Sekarang Shanum hanya harus pasrah, dia harus menjalani semuanya sebagaimana yang sudah terjadi, Biru datang di saat yang tepat membawa harapan baru ke keluarga Shanum tentang pernikahan yang akan tetap terlaksana hari ini. Shanum tak marah karena Biru menyelamatkannya, gedung dan segalanya sudah dipesan, Biru menyelamatkan keluarga Shanum dari rasa malu sebab Ibra membatalkan pernikahan. Biru menyelamatkan martabat Shanum sebagai wanita. Entahlah Shanum harus bersyukur atau malah bersedih, Biru datang di saat yang tepat, namun di saat yang sama pula Shanum sedang berusaha memantapkan hatinya memilih Ibra.
***
Shanum yang awalnya ingin di make up tipis, akhirnya harus terima di make up tebal, karena mata gadis itu sangat bengkak, jika di make up tipis maka wajah sedih Shanum tergambar jelas.
"Boleh nggak saya pakai niqab?" tanya Shanum ke penghias pengantin yang dipanggil khusus untuk menghiasnya.
Penghias pengantin tersebut tampak bingung. "Tugas saya adalah make up-in Mbaknya, jadi kalau itu ya terserah Mbak, atau tanya ibunya dulu," jawab penghias pengantin yang sedikit medok tersebut.
Shanum langsung menoleh ke ibunya yang baru saja masuk ke kamarnya. "Boleh Bu?" tanya Shanum.
"Shanum mau mengenakan niqab," lanjut Shanum menjelaskan pertanyaannya tadi.
Kartika tampak berpikir lantas tersenyum dan mengangguk, Shanum telah mengalami beberapa tekanan dalam hidupnya, saat ini mungkin dia sedang tak percaya diri, lagipula hal itu tak buruk, semua ini mengejutkan Shanum dan mereka semua, jadi untuk acara ini sepertinya pendapat Shanum harus tetap didengar.
Shanum membalas senyuman ibunya dengan senyuman pula, namun bedanya senyum Shanum penuh dengan kepalsuan, Shanum berjalan menuju lemari bajunya sendiri untuk mengambil selembar kain penutup kecantikan yang memang selalu Shanum simpan, beberapa kali Shanum kenakan saat menghadiri kajian.
Shanum membiarkan perias pengantin yang memasangkan niqab ke wajahnya, sehelai kain putih yang senada dengan warna baju dan hijabnya itu perlahan menutup wajah cantik Shanum, Shanum berusaha menahan diri untuk tak menangis lagi. Rasanya sudah cukup, sekarang semuanya sudah terjadi, Shanum tak boleh menyesali kalau hari ini, bukan Ibra yang menjabat tangan ayahnya untuk menerimanya menjadi istri.
Setelah semuanya dirasa selesai, Kartika langsung menggamit lengan Shanum, akad nikah akan dilaksanakan di sebuah masjid agung di kota tempat Shanum tinggal. Shanum hanya diam, bahkan hingga masuk mobil dan melaju menuju masjid Shanum tetap diam, Kartika bolak-balik meremas tangan Shanum untuk menguatkan anak gadisnya yang sebentar lagi akan menjadi istri orang tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elshanum & Albirru
SpiritualAku ibarat tunas kelapa yang terombang-ambing di atas permukaan air laut dan kamu adalah tepian pantai yang pada akhirnya menjadi tempatku berlabuh kemudian tumbuh. *** Bagaimana jika seorang pria datang kepadamu dengan membawa komitmen yang ternyat...
