'Karena Allah selalu tau sesuatu yang tepat dan saat yang tepat.'
Elshanum & Albirru
~Thierogiara
***
Shanum menangis semalaman, gadis itu bahkan tak bisa menjelaskan kepada kedua orang tuanya apa yang terjadi. Keluarga Shanum hanya membiarkan anak mereka menikmati kesedihan di kamarnya, rencananya jika Shanum sudah tenang baru Kartika akan mengajaknya berbicara berdua.
Tiba-tiba saja perut Shanum terasa mual, dia yang masih berlinangan air mata langsung masuk ke dalam kamar mandi kamarnya memuntahkan apa yang ingin keluar dari mulutnya, nyatanya tidak ada, yang keluar hanya cairan bening yang kental.
Shanum kemudian duduk tertegun, dia sudah mual sejak dua hari lalu, dia juga sudah telat datang bulan dari minggu lalu, Shanum lantas berjalan cepat ke tasnya lalu mengambil test pack yang sejak sebulan lalu ia beli karena memang dia sangat ingin memiliki anak.
Shanum membawanya masuk kembali ke kamar mandi kemudian langsung mengeceknya, Shanum menunggu beberapa saat, muncul satu garis, kemudian muncul lagi namun samar hingga Shanum menunggu lagi dan hasilnya positif, muncul dua garis merah cerah di alat pengetes kehamilan tersebut.
Shanum membekap mulutnya sendiri kemudian terduduk di closed, saat hubungannya dengan Biru sedang seberantakan ini Shanum malah menganduk anak laki-laki itu. Bagaimana ini? Shanum kembali menangis, di saat yang harusnya ia bahagia malah Shanum habiskan untuk menangisi nasib.
Shanum menghapus jejak air mata di wajahnya, dia harus kuat, demi anaknya, demi sosok yang bahkan tak pernah meminta untuk ada di dunia ini, Shanum sudah belajar menjadi orang tua yang baik, kalau dia stress maka bayi dikandungannya pun akan ikut stress, Shnaum harus bahagia agar anaknya juga bahagia.
Shanum mengelus perutnya sendiri meminta maaf, dia sudah berdosa karena bersedih seperti ini padahal seharusnya ia harus bahagia karena kehadiran anaknya.
Shanum berjalan hati-hati keluar dari kamar mandi, dia menatap dirinya sendiri di depan cermin, menyisir rambutnya kemudian mengikatnya, setelah itu Shanum bergerak ke kasur kemudian merebahkan dirinya lalu memejamkan mata, dia perlu mengistirahatkan diri dari dunia yang melelahkan ini.
Perlahan namun pasti Shanum mulai memejamkan matanya, menenggelamkan dirinya ke alam mimpi menikmati kenikmatan yang Allah sediakan dari tidur.
***
"Please tolongin gue!!"
Biru mengerutkan dahinya, apa maksud perempuan di depannya?
"Lo gila? Hah? Nggak lihat istri gue pergi? Kita udah selesai ya Sa, nggak ada lagi urusan gue sama lo, lo hamil anak gue? Gila lo, kita putus udah setahun yang lalu." Biru masih mengomel-ngomel, persetan dengan para tetangga yang mungkin terganggu wanita hamil di hadapannya harus sadar.
"Bi, please dengerin gue." Raysa meminta.
"Gimana gue bisa dengerin lo kalau bini gue kabur dari rumah gara-gara lo?!"
Biru mengurut jidatnya sendiri, dia susah payah mendapatkan Shanum, susah payah menjaga perasaan Shanum ada saja yang membuat masalah hingga Shanum pergi seperti ini.
Saat Biru akan masuk ke dalam rumah ingin bersiap-siap menjemput Shanum. Raysa langsung menarik lengan bajunya.
"Andre kasar sama gue, dia nyiksa gue selama pernikahan kita, gue nggak sanggup Bi, tolongin gue, dia Cuma percaya pas gue bilang ini anak lo," ungkap Raysa.
Biru mengurungkan niatnya, dia mendekati Raysa kemudian melihat bercak kebiruan di tangan itu, warnanya lumayan gelap Biru tebak itu pasti sakit.
"Gue tersiksa Bi, gue sama sekali nggak ada niat ngancurin rumah tangga lo karena jujur aja gue bahagia ngelihat lo bahagia, tapi tolongin gue, tolongim gue buat kabur dari Andre." Raysa memelas, dia tak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa kecuali mantannya itu karena memang Raysa berasal dari kampung, dia tak memiliki keluarga di Jakarta.
"Terus lo mau gue ngapain?" tanya Biru.
"Anterin gue ke stasiun, gue takut kalau sendirian nanti Andre nyusulin gue dan ngelakuin hal yang lebih parah dari ini, gue takut anak gue kanapa-napa."
"Terus kenapa lo ngakuin anak itu sebagai anak gue di depan bini gue?" Tentu saja Biru tak akan semudah itu menolong, Shanum marah padanya dia tak bisa terima itu.
"Karena Andre Cuma iri sama lo, jadi gue mau dia hanya tau kalau ini anak lo, bukan anak dia, dia selalu mau bunuh anak ini Bi, katanya dia nggak mau tanggung jawab," ujar Raysa menjelaskan.
Biru menarik napas, dia tak bisa lagi marah karena apa yang Raysa alami juga berat.
"Ya udah gue bakal bantuin lo, tapi bantuin gue gue buat jelasin semuanya ke istri gue," ujar Biru.
Raysa mengangguk, Biru kemudian menyuruh wanita hamil tersebut masuk ke dalam rumah, dia kemudian mengambil kunci mobil lalu mengajak Raysa untuk menyusul Shanum.
Keduanya berkendara ke rumah orang tua Shanum, Biru sama sekali tak melirik Raysa, dia hanya mencintai Shanum, sekarang dan kapanpun. Shanum adalah istrinya selamanya akan begitu, sekarang dia hanya berniat membantu, urusan Raysa dan suaminya, biarlah mereka selesaikan nanti.
Biru sampai di kediaman keluarga Shanum, Hanan menyambutnya dengan wajah masam.
"Shanum ke sini Bang?" tanya Biru.
"Kamu apain lagi dia?" tanya Hanan.
"Dia salah paham Bang, sekarang aku mau jelasin semuanya," ujar Biru.
"Siapa wanita hamil itu?" tanya Hanan.
"Dia yang bakal jelasin sama Shanum soal kesalahpahaman ini," kata Biru.
"Ya udah masuk." Meski dengan nada dingin, Biru tetap bersyukur dengan itu, dia langsung mengajak Raysa masuk.
Kartika langsung memanggilkan Shanum, mulanya Shanum enggan menemui Biru, dia baru minggat beberapa menit lalu, masa sudah harus kembali, masalahnya sama sekali tak sebercanda itu kan?
"Ada apa?" tanya Shanum ketus begitu dirinya sampai di ruang tamu.
"Kamu harus denger penjelasan Raysa," ujar Biru.
"Maafin aku, ini bukan anak Biru, tapi aku butuh Biru, aku butuh pertolongan Biru, sampai nanti malam, hanya sampai nanti malam aku butuh Biru, setelah itu aku nggak akan ganggu kalian lagi." Raysa menjelaskan.
"Mau kamu ambil juga dia, aku nggak masalah." Shanum masih dilingkupi emosi sekarang.
Sama seperti tadi, Raysa juga menarik lengan bajunya menunjukkan lebam yang ada di tubuhnya.
"Dia kena KDRT sayang, jadi aku mohon kamu percaya sama aku," ujar Biru memohon.
Shanum terdiam menatap lebam-labam di tangan Raysa. "Aku mohon, suamiku ingin membunuh anak ini, jika dia tau ini anaknya, makanya aku mengakui kalau ini anak Biru."
"Kenapa?"
"Dia nggak mau bertanggung jawab," jawab Raysa.
"Kalau begitu selesaikan urusan kalian, jangan ajak aku pulang sekarang, aku masih butuh waktu." Shanum bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya.
Biru menghela napas lega lantas langsung mengajak Raysa ke stasiun untuk pulang kampung.
***
Biru tak menjemputnya tadi malam, barangkali memang urusannya dengan Raysa belum selesai, Shanum membuka matanya perlahan, dia tak tahu harus bagaimana sekarang, bagaimana cara memberitahu Biru soal anak mereka?
"Num!" panggil Kartika dari luar.
"Iya?" tanya Shanum.
"Biru di bawah, kamu lekas turun ya."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Elshanum & Albirru
SpiritualAku ibarat tunas kelapa yang terombang-ambing di atas permukaan air laut dan kamu adalah tepian pantai yang pada akhirnya menjadi tempatku berlabuh kemudian tumbuh. *** Bagaimana jika seorang pria datang kepadamu dengan membawa komitmen yang ternyat...
