HAPPY READING♥
Di parkiran SMA Garuda, terlihat dua remaja laki-laki yang sedang berbincang-bincang kecil. Pembicaraan itu hanya di dominasi Azka, maklum saja dia sekarang sedang berbicara dengan Awan. Laki-laki yang bersuara saat seperlunya saja. Irit tentunya. Saat berbicara pun ia akan memilih kata-kata yang singkat, padat dan tentunya juga jelas.
Mereka berdua tengah menunggu Ardan yang sedang memenuhi panggilan alamnya di toilet. Tiga A hari ini berniat berkumpul di rumah Ardan. Mereka bertiga biasa menghabiskan waktu untuk sekedar bermain mobile legends, play station, dan balap liar di malam hari. Bukan Awan namanya jika tidak melakukan salah satu dari tiga hal tadi.
"Kok si Ardan lama banget ya?" tanya Azka pada Awan. Laki-laki dengan kemeja SMA yang digulung dilengan kiri dan kanannya itu kini mulai bosan menunggu.
Awan yang sedang memperhatikan benda pipih berlogo apple-nya pun lantas mengedikkan bahunya, pertanda ia tidak tahu.
Tak jauh dari dua mereka berdiri, seorang gadis bersurai coklat berkuncir kuda tengah berjalan dengan langkah ragu-ragu untuk menghampiri mereka. Ralat maksudnya menghampiri Awan saja.
Rain berniat mengembalikan jaket dan saputangan yang waktu itu dipinjamnya. Beberapa hari yang lalu, ia selalu lupa saat hendak mengembalikan dua benda tersebut pada sang empunya. Maklumlah pikirannya sedang kacau kala itu.
Hari ini pun pikirannya masih tetap kacau tetapi ia berusaha terlihat baik-baik saja. Bahkan tubuhnya juga belum pulih betul. Dia masih agak demam namun ia tetap bersikukuh untuk sekolah.
Neneknya sampai mengalah, terpaksa mengizinkan Rain tetap sekolah namun sebelumnya wanita yang kini telah beruban itu menyuruhnya meminum obat dan vitamin. Lalu jika kalian menanyakan Sarah? Wanita paruh baya itu sama sekali tidak peduli dengan keadaan anaknya, bahkan sekedar menanyakan keadaannya saja dia enggan.
Langkahnya semakin dekat dengan Awan. Kini ia telah berada tepat di samping laki-laki jangkung itu. Ia membuang napas pelan berusaha mengusir rasa gugupnya yang membuat badannya mendadak kaku. Aishh kenapa akhir-akhir ini ia selalu merasa gugup ketika dekat dengan laki-laki es itu?
"Awan," panggilnya pada Awan.
Dia menoleh pada Rain dengan alis yang terangkat sebelah. Ada apa dengan gadis itu? Kenapa tiba-tiba mendatanginya? Lalu pandangannya beralih pada tote bag yang dibawa Rain.
"Eh ada Rain mau ngapelin Babang Awan ya?" tanya Azka dengan nada genitnya.
"Ehh ... bukan ... i-itu a-anu." Rain merutuki dirinya. Ada apa dengannya? Hanya melihat rupa Awan saja tiba-tiba dirinya menjadi tidak khatam bicara.
"Ya elahh Rain jangan gugup gitu, kayak mau gue gigit aja," ujar Azka. Ia terkekeh pelan.
"Neng Erainn ... kok di sini? Ikut nungguin Babang Ardan yang ganteng maksimal mirip Jin betees ini ya?" tanya Ardan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Rain. Membuat gadis itu sedikit terlonjak.
"Woy! Anjir lo dateng ngagetin orang ogeb! Lihat tuh si Rain sampe kaget kayak lihat petir nyambar korban azab indosiar," ujar Azka sambil menjitak kepala Ardan yang kini telah duduk di jok motornya.
"Eh berak kebo. Sakit, Ka. Lo mau bonyokin pala gue lagi, hah?" Ardan mengusap-usap kepalanya yang kena jitak Azka. Hampir setiap hari nasibnya selalu kena jitakan. Dah lah nasib-nasib.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brittle [Tamat]
Teen FictionRain Oktavia Pradipta, gadis rapuh yang selalu terlihat kuat di depan semua orang. Hal langka baginya jika mendapatkan sebuah kebahagiaan. Hidup dengan topeng yang menutupi semua kesedihannya. Selalu berusaha menjadi gadis ceria di depan semua orang...
![Brittle [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/229715410-64-k347770.jpg)