HAPPY READING ♥
"Rain lo kenapa, sih?" tanya Tasha curiga melihat gerak-gerik Rain.
Sedari tadi Rain senyam-senyum sendiri tidak jelas. Kejadian tadi saat Awan mendekap dan mengusap bahunya lembut berhasil membuat pipinya merah merona. Ia juga merasa heran. Sejak kapan Awan bisa berbicara panjang kali lebar? Ah peristiwa yang langka. Seharusnya ia mengabadikan momen itu di museum agar semua orang dapat menyaksikannya.
"Nggak papa," jawab Rain lalu mengalihkan pandangannya ke depan untuk mendengarkan guru yang sedang mengajar.
"Ck dasar cewek aneh. Untung temen," cibir Tasha.
"Emang kenapa kalo gue bukan temen lo?" tanya Rain. Ia mengangkat sebelah alisnya.
Tasha nyengir. "Mau gue jual ke om-om."
Rain mencubit lengan Tasha membuat gadis itu mendesis tertahan.
"Enak aja. Lo pikir gue cewek murahan yang suka jual diri?!"
"Ya ka—"
"Rain, Tasha kalau mau ngobrol di luar!" tegur guru yang sedang mengajar di kelas XI-IPA 1.
✥✾✥
"Dua tiga main Voli. Ardan yang paling ganteng kembali." Ardan masuk ke dalam kelas dengan senyuman merekah. Efek habis ketemu pacar.
"Iya gue tahu lo lagi bahagia. Udah jadian sama gebetan tapi nggak usah senyam-senyum kayak gitu. Jijik gue lihatnya. Sangat menyeramkan," ucap Azka yang langsung mendapat gaplokan gratis dari Ardan.
Setelah puas mengaplok kepala Azka, ia mendudukkan dirinya di kursi. Ardan memperhatikan Awan sejenak dan bertanya, "Bos resep ganteng yang cool kayak lo gimana, sih?"
"Perasaan hampir tiap hari gue makan es batu tapi nggak dingin-dingin sifat gue. Lihat hal dikit aja gue pasti ngakak. Kok lo betah, sih jadi cowok dingin yang jarang mandi. Ralat, maksudnya jarang ngomong." Ardan menumpukan satu tangannya didagu sembari memperhatikan Awan.
Dua alis, satu hidung berlubang dua, dan satu bibir. Sama. Tidak ada yang beda. Tapi kenapa Ardan merasa Awan lebih tampan darinya? Ah, ini semua gara-gara Nia, pacarnya yang dulu pernah terjatuh pada pesona Awan. Ia jadi takut jika ia ditikung Awan. Secara zaman sekarang tikungan di mana-mana. Harus siaga satu dirinya.
"Ck gaje," decak Awan.
"Nggak kaget gue! Si Ardan emang suka gaje kayak hidupnya." Azka tertawa.
"Lo mau aib buruk lo gue sebarin, hah?!" ancam Ardan pada Azka sembari memasang wajah sinis.
"Cupu lo! Beraninya pake anceman terus!" Azka menatap Ardan tak kalah sinis.
Awan menarik napasnya kemudian mengeluarkannya. Dua temannya ini memang tidak bisa jika tidak berdebat sehari saja. Ia juga hafal betul. Usai berdebat biasanya mereka akan saling jitak-jitakkan kepala lalu setelahnya saling merangkul seperti orang tak pernah punya masalah. Awan jadi ragu. Mereka normal tidak sebenarnya!
Seorang cowok berkulit sawo matang kehitaman menarik kursi yang tak jauh dari Awan lalu mendudukinya. Ia berdehem untuk mengawali pembicaraan.
"Awan gue mau tanya penting sama lo," ucapnya. Dia sedikit melonggarkan dasinya karena gerah.
Awan menaikkan sebelah alisnya dengan raut wajah bingung. Ia jadi kepo. Ia menunggu Janu untuk melanjutkan ucapannya.
"Jamu gendong! Ngapain lo transmigrasi si Awan?" tanya Ardan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brittle [Tamat]
Teen FictionRain Oktavia Pradipta, gadis rapuh yang selalu terlihat kuat di depan semua orang. Hal langka baginya jika mendapatkan sebuah kebahagiaan. Hidup dengan topeng yang menutupi semua kesedihannya. Selalu berusaha menjadi gadis ceria di depan semua orang...
![Brittle [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/229715410-64-k347770.jpg)