36. ETHAN BRAMASTA WILLIAM

739 77 5
                                        

HAPPY READING♥

Rain mendudukkan bokongnya di sofa sebelah Mamanya. Ia menatap semua orang yang ada di ruangan ini secara bergantian. Kemudian ia mulai merengek karena sedari tadi ia berbicara tidak ada yang menanggapinya.

"Kalian kenapa, sih?! Kok diemin Rain. Iya Rain tahu, Rain salah nggak izin dulu main ke rumah teman. Tapi tadi Rain beneran lupa terus setelah inget ternyata ponsel Rain mati. Kalian jangan marah ya. Rain janji nggak akan ngulangin lagi."

Semuanya masih hening. Lalu beberapa detik kemudian tawa Raga pecah. Ia tak kuat menahan sandiwara untuk mendiamkan putrinya yang lucu ini.

Ya, Raga ada di sini. Mobil yang dikenali Rain tadi ialah mobil milik Raga.

"Yah kamu gagalin rencana kita," ucap Sarah membuat Rain bingung.

"Maaf-maaf soalnya ekspresi Rain udah kelihatan menyedihkan banget."

"Papa!" Rain mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya didada.

"Jadi kalian ngerjain Rain dari tadi. Diemin Rain gitu?"

Jaya, Rina, Raga, dan Sarah mengangguk. Tebakan Rain sangat benar sekali.

"Kok gitu? Rain udah takut kalian beneran marah tahu?!"

"Abisnya kamu sampe lupa nggak izin. Tadi kita semua panik karena kamu belum pulang sampai malam gini. Papa kamu aja sampai bela-belain ke sini. Katanya mau nyari kamu kalo sampe di atas pukul delapan kamu belum juga pulang," jelas Sarah membuat Rain tertawa kecil.

"Kok Rain malah ketawa?" tanya Rina yang bingung dengan tingkah Rain.

"Itu tandanya kalian khawatir, kan kalo Rain ilang. Rain jadi seneng kalo dikhawatirin."

Semuanya geleng-geleng kepala.

Sarah tertawa lalu menatap Raga. "Anak kamu, Mas."

"Anak kamu juga," balas Raga ikut tertawa.

                                    ✥✾✥

Seorang gadis berjalan tergesa-gesa menuju halte bus. Hari ini tidak ada yang bisa menjemputnya. Termasuk sopir rumahnya. Waktu sudah hampir sore, tetapi ia belum pulang ke rumah. Jika bukan karena ia anggota osis mungkin sekarang ia sudah rebahan santai di kamar.

Ia tidak lupa untuk mengubungi orang rumah agar mereka tidak khawatir seperti kemarin.

Di halte sangat sepi. Hanya ada Rain seorang. Rain bergerak mengambil earphone-nya yang berada di tas lalu menyambungkannya dengan ponsel. Untuk mengurangi kebosanan ia memilih mendengarkan musik agar tidak merasakan takut seorang diri di sini.

Saking asyiknya dengan musik yang didengarnya, Rain tak sadar jika ada sebuah motor yang berhenti di depannya. Seseorang itu turun dari motor lalu duduk di sebelah Rain. Namun, Rain masih bergeming.

Orang itu menarik pelan earphone Rain agar menoleh padanya. Hal itu tentu saja membuat Rain terlonjak kaget. Ia hampir berteriak, tetapi mulutnya langsung dibekap oleh orang tersebut.

"Maaf. Gue nggak niat jahatin lo," katanya setelah menjauhkan tangannya dari bibir Rain.

Rain mengerjapkan matanya. Ia masih berusaha mengatur napasnya. Ia benar-benar terkejut. Rain kira ada hantu yang tiba-tiba muncul.

"Lo ngapain di sini?" tanya Rain setelah beberapa saat. Ia beralih menatap jalanan sepi di depannya, tidak mau melihat wajah orang itu.

"Gue bakal minta maaf terus sama lo sampai lo bener-bener maafin gue," katanya dengan raut wajah bersalah.

Brittle [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang