Irene.
Pagi ini aku tak sengaja memasak banyak sekali makanan. Tak menutup kemungkinan Papa dan aku tak akan sanggup memakan ini semua. Mengingat juga kondisi Papa sedang tidak sepenuhnya fit, pola makan pun juga harus terjaga. Itulah sebabnya, mulai beberapa hari yang lalu aku memasakkan makanan sehat khusus untuk Papa. Dan yang baik untuk kondisi jantungnya.
Entah dapat angin ide darimana aku telah tiba disini. Di depan rumah Taehyung. Membawa dua paket pack rantang yang penuh dengan makanan. Yang pasti, aku berharap Taehyung, Nenek, Jungkook, dan Yeri, belum pada sarapan supaya bisa memakan masakanku ini. Ya semoga saja.
Ting tung..
Kenapa aku jadi deg-degan gini kalo yang bukain pintu itu Taehyung? Padahal kan udah berulang kali gue ketemu sama dia. Tapi kenapa debarannya sama ketika aku melihat Taehyung pertama kali? Asshhh, sudahlah Irene... Fokuslah pada hal apa yang kamu lakuin sekarang -batin Irene.
Ceklek
"Eh, ada Kak Irene. Mau cari Kak Tae ya, Kak?", oh ternyata Jungkook. Syukurlah. Aku sedikit lega.
"Ah tidak. Aku kemari tidak ingin menemui siapapun. Tapi---aku hanya ingin memberikan ini", kuangkat kedua pack rantang di hadapan Jungkook menuai tatapan tanda tanya dari Lelaki itu.
"Kak, ini masakan Kakak semua?".
"Iya. Kenapa?".
"Yahh, Bi Hesty mah udah masak Kak. Gimana dong?".
Raut wajahku berubah kecewa atas ucapan Jungkook. Ternyata asisten rumah tangga disini sudah memasak sarapan untuk mereka. Lantas sekarang bagaimana?. Melihat wajahku yang murung, Jungkook pun menggaruk tengkuknya tak enak padaku, merasa sungkan dan tak tau harus bagaimana lagi.
"Jungkook, ada apa?", tanya Taehyung tiba-tiba menghampiri kami. Namun aku masih merunduk kecewa tanpa menatap Taehyung.
"Oh ini, ada Kak Irene kasih makanan buatannya ke kita Kak. Bukannya apa---tapi kan Bi Hesty udah masak banyak untuk sarapan dan nanti makan siang. Sebenernya, aku juga seneng sih Kak Irene bawain makanan, tapi takut kebuang kalo disini kebanyakan makanan", jelas Jungkook membuat Taehyung memangut mengerti.
Tiba-tiba dua pack rantang yang kupegang itu diraih oleh Taehyung. Tentu saja aku ikut tergerak melihatnya.
"Udah gausah manyun gitu. Kamu pikir cantik apa kalo lagi manyun gitu? Udah ayo masuk", ucap Taehyung sedikit membuatku sumringah namun belum 100%.
"Loh Tae, tapi---".
"Kamu ada kuliah ngga hari ini?", tanyanya membuatku menggeleng karena memang aku sedang libur dan malas kuliah.
"Yasudah. Sekarang masuk, temenin Nenek sambil nunggu aku siap-siap ke kantor. Hari ini, kalo kamu ngga keberatan, temani aku di kantor seharian ya? Tentu saja makananmu ini, kita makan nanti waktu makan siang. Okay?", kata Taehyung diakhiri dengan senyuman.
"A-apa? Aku nemenin kamu di kantor?", tanyaku kembali memastikan. Taehyung mengangguk mantap.
"Iya Irene. Kamu akan menemaniku di kantor seharian ini", jawab Taehyung kembali memastikan dengan menekankan setiap kata-katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Your Eyes Tell
Fanfiction"Mengapa mataku dipenuhi air mata? Irene, tetaplah disisiku dan tertawalah. Masa depan tanpamu bagai dunia tanpa warna, dipenuhi dengan dinginnya monokrom. Aku ingin kamu percaya padaku. Aku tidak akan pergi kemanapun", ucap Taehyung dengan derai ai...
