Sembilan belas

13.6K 193 7
                                        

Happy reading ♥️

Matahari sudah berada di atas, orang orang sudah berlalu lalang dengan kesibukan masing masing. Tak tertinggal beberapa kendaraan yang berhenti di perempatan untuk mematuhi lampu lalu lintas.

Seorang wanita tengah duduk di kemudi, ia menunggu sebuah lampu berwarna warna hijau. Pikiranya masih berkecambuk, ia masih mengingat dimana anaknya tak di akui oleh ayah kandungnya sendiri.

Wanita dengan surai panjang itu terkekeh, menertawakan dirinya sendiri "haha, kenapa aku begitu bodoh" lalu terisak kecil, tak bisa di pungkiri bahwa sekarang ia mengandung dan sayangnya ayahnya tak mau mengakui. Ia harus apa, ia tak mungkin tega menggugurkannya tapi bagaimana dengan dirinya.

Lampu berganti warna hijau, ia melajukan kendaraannya, namun dengan pikiran yang masih kalut ia tiba tiba menambah kecepatanya, meliak liukan mobilnya di kepadatan kota metropolitan.

Ia tak sadar bahwa di depan ada seorang wanita yang sedang berjalan, wanita pengendara itu terkejut lalu menekan rem sedalam dalamnya.

Huuuft....

Hampir saja.

Mulut mobil BMW keluaran terbarunya berhenti di depan wanita yang juga sama sama terkejut. Wanita di depan mobilnya itu masih diam mematung.






🐾







Vie sedang mengunjungi supermarket di dekat kantornya, ia hanya ingin membeli beberapa Chiki Chiki kesukaanya dan beberapa minuman seperti susu atau soda.

Karna supermarket itu hanya kurang lebih 200 m dari kantor kakanya yang ada di sebrang jalan ia memilih untuk berjalan kaki saja.

Setelah mendapatkan apa yang ingin ia beli Vie membayar belanjaan di kasir. Penjaga kasir hanya bisa menelan ludah melihat tubuh bak gitar spanyol di hadapanya.

Ya, Vie hanya memakai kaos putih dan rok mini berwarna pink pastel, sebenarnya ia membawa jas untuk memadukan pada pakaiannya, jas berwarna senada dengan rok nya ia tinggal di ruangan Daniel karena ia merasa gerah.

"Trimakasih..." Kata Vie setelah membayar lalu bergegas pergi.

Saat sedang bersenandung ria, kakinya berhenti di depan zebra cross. Saat lampu pejalan kaki berwarna hijau ia melangkah, namun belum saja sampai sebrang ditengah jalan mobil BMW seri terbaru mengarah kearahnya dengan kecepatan sangat cepat membuat tubuhnya menegang. Entahlah ia ingin lari tapi tak bisa, kakinya sulit di gerakan.

Pengendara di dalam mobil itu mengerem mendadak membuat Vie memejamkan matanya 'apakah ini akhir hidupnya, apakah ia akan bertemu dengan peri kecilnya sebentar lagi' batinnya. Namun tidak ada apa apa yang menubruknya. Ia kira sekarang dirinya sudah terpental jauh.

Vie mencoba membuka mata, entahlah, ia baru sadar sedari tadi ia menahan nafasnya. Vie mulai bernafas, tapi tetap diam berdiri di depan mobil itu. Ia juga tak tau mengapa.

Pintu mobil berwarna hitam itu terbuka dan menampakan wanita cantik serta anggun yang tadi hampir saja membunuhnya. Wajahnya sangat cemas dan khawatir "ap,,, apa kau baik baik saja??" Tanyanya khawatir.

Vie bisa melihat wajah wanita di depannya seperti sangat bersalah. Vie yang sadarpun mulai mengontrol mimik wajahnya agar lebih tenang,

Vie tersenyum "aku tidak apa apa"jawab Vie yakin walau jantungnya masih berlari marathon.

Wanita di depannya bernafas lega, ia sangat bersyukur tidak ada yang celaka "aku sungguh minta maaf. Aku sedang tidak fokus" ucapnya menyesal.

Vie lagi lagi tersenyum "ia aku maafkan, lain kali hati hati" jelasnya.

Students'ex (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang