Dua puluh enam

10.5K 160 2
                                        

Haiii....

Happy reading

Jam berdetik mengisi sunyi ruangan yang seorang wanita dan pria tempati kini. Sang pria dengan senyum manisnya, dan sang wanita dengan wajah masih terkejutnya.

Tadi, Tian terus saja menelponnya, sebenarnya ia sudah tak marah. Hanya saja ingin mengerjai pria itu saja, lalu ketukan pintu terdengar dan seorang pria tinggi tegap masuk dengan wajah tak asingnya "apa ada hal yang penting sampai buat kamu kesini?" Tanya Vie.

Pria itu yang sedang duduk di hadapan Vie itu tersenyum kecil, lalu mengubah posisi duduk nya menjadi menopang wajahnya dengan siku yang berada di atas meja "aku hanya... Merindukanmu" jawabnya di akhiri dengan senyum smirk.

Vie mengerutkan dahinya "maksutnya? Aku tak...."

"Tak usah mengelak, aku juga tau bahwa kamu juga merindukanku Vie" potongnya.

Vie sungguh tak mengerti, ada apa pria ini setelah sekian lama menemuinya. Bukanya hubungan mereka sudah berakhir, Vie bahkan hampir melupakan pria itu jikalau dia tak berkunjung "oke lupakan. Sekarang aku yang bertanya, mengapa kau disini? Bukanya kau melanjutkan kuliahmu di Jepang?" Tanya Vie.

Pria itu terkekeh kecil lalu mengangguk "ya kau benar, tapi aku juga menjalani bisnis papahku, dan seminggu ini aku libur lalu aku tiba tiba merindukanmu. Kau tau?..." Pria itu berdiri lalu berjalan kesamping Vie. Ia menunduk untuk membisikan sesuatu "...aku merindukan lubang sempitmu yang menjepit miliku baby" terusnya.

Vie menegang, dan pria itu tau ketegangan Vie. Vie menoleh dan berhadapan langsung dengan wajah pria itu.  Pria itu tersenyum smirk "aku menginginkanmu" ucapnya.

Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Vie. Semakin dekat hingga hembusan nafas mereka saling terasa pada wajah masing masing. Sentuhan kulit hidung mereka membuat gelenyar aneh dalam diri Vie.

Lalu sedetik kemudian Vie tersadar dan refleks mendorong dada pria itu "maaf aku tak bisa" ucapnya.

Pria itu menggeram marah "kenapa?" Tanyanya lirih namun dengan penekanan di setiap hurufnya.

"Aku sudah memiliki kekasih" jelas Vie. "Aku tak bisa menghianatinya" terusnya.

Pria itu terkekeh sinis "maksudmu Sebastian Vettel?" Tanyanya. "Kalau tak salah, bukannya dia mantan kekasihmu dulu yang tiba tiba pindah sekolah?" Terusnya.

Vie hanya terdiam. Ya, siapa yang tak kenal Tian. Dia adalah pria yang selalu menjaga Vie dari awal memasuki sekolah laknat itu.

Pria itu kembali mensejajarkan tubuhnya untuk berbisik "dan.... Yang meninggalkanmu dalam kondisi...hamil...anaknya?" Tanyanya. Ia tersenyum smirk saat Vie menegang.

Vie menoleh "bagaimana kau tau?" Tanyanya, karna selama ia hamil ia tak pernah bercerita pada siapapun. Siapapun!

"Kamu tak perlu tau bagaimana aku tau.  Baby... Kau hanya perlu tau aku kesini untuk menjemputmu" jelasnya santai lalu berjalan kembali ketempat duduk di hadapan Vie.

Vie menggelengkan kepalanya "maaf Ri, aku ngga bisa. Aku udah punya Tian. Dan kita udah lama selesai" jawab Vie.

"Tapi aku menginginkanmu Vie" senggah pria itu. "Aku bisa berikan, apa yang pria itu tak bisa berikan padamu Vie" terusnya.

Vie menatap mata pria itu, dan Vie tak menemukan kebohongan "berikan apa?" Tanya Vie.

"Aku bisa menikahimu. Kalau perlu besok kita menikah, atau sekarang pun kalau kau sudah siap" jelas pria itu dengan semangat menggebu dan tak lupa senyum di wajahnya yang tak pernah pudar saat menjelaskannya.

Students'ex (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang