20. !!!

1.2K 215 69
                                        


Bulan sudah berganti, sudah memasuki bulan ujian Nasional, Jaehyun menjadi lebih sering duduk sambil diteriaki teteh di rumah, membicarakan buku besar, matematika, sosiologi dan lain sebagainya, tak jarang teteh dengan sengaja menjentikkan jarinya di kening Jaehyun saat ia tak bisa menjawab soal.


Jahat memang si teteh...



“Teteh seneng kamu mau belajar, ya walau telat” Kata si teteh sambil menyodorkan soal matematika kedua yang harus Jaehyun kerjakan.


Jaehyun yang tengah mengunyah snack kentang hanya tersenyum sekilas “Memang” Jawabnya sekilas lalu mulai menerima soal yang diberikan teh Sejong.

“Karena Doyoung kan?” Tanya teh Sejong setelahnya “Baik ya dia? Bisa ngubah kucing garong kayak kamu jadi kucing rumahan begini?” Sejong terkekeh melihat berandalan tengah pusing mengerjakan soal.


“Iya dong” Jaehyun tersenyum, ia saja shock atas perubahanya ini. kalau dihitung-hitung dia sudah absen tempur untuk ketiga kalinya, absen nongkrong dan ngegodain teh Suny di dekat markas juga.


Jangan bilang Doyi kalau Jaehyun suka godain teh Sunny ya.

“Ayah sama bunda bilang, kamu mau masuk TNI?” Tanya teteh selanjutnya.


“Kamu bakal jauh dong dari Doyoung?”

Jaehyun mendongak “Kamu kalau mau jadi tentara supaya Doyoung seneng, nggak usah Jen. Jangan paksain hal yang nggak kamu sukai cuma biar orang yang kamu cintai seneng”


“Enggak, aang emang mau kok jadi tentara. Kalau aang jadi prajurit kan, bisa bantu naikin derajat dan ekonomi keluarga. Jadi bunda nggak perlu lagi jahit baju, ayah nanti juga kalau udah pensiun juga insyaallah enggak berat” Jawab Jaehyun.


“Memang harus jadi tentara? Ada pekerjaan lain loh yang bisa kamu pilih”

“Aang cuma punya fisik yang emang sudah biasa diajak keras, dan jadi panglima tempur kayaknya emang bagian dari diriku, jadi nggak masalah. Kalau dibidang lain yang harus meras otak lagi, takutnya malah sembrono, bukan bantu ayah bunda, nanti malah takutnya ngabisin uang mereka” Jawab Jaehyun

Teh Sejong lalu tersenyum “Terimakasih” ujarnya “Ternyata waktu kamu bilang ‘nanti juga berubah’ tuh secepat ini. teteh pasti selalu dukung kamu” lanjut teteh lalu mengusak puncak kepala Jaehyun.




..


Pukul empat sore, Jaehyun keluar dari kamar, setelah dirasa otaknya melepuh dan pandanganya mengabur, begini nih kalau otak tidak selalu digunakan, sekali digunakan si otak rasa-rasanya kaget.

“Makan ang” Jaehyun menoleh kearah meja makan, nampak bunda Taeyeon tengah menata meja.

“Loh emang sudah masuk waktu makan malam?”Tanya Jaehyun lalu berjalan kearah bundanya, memeluk tubuh si bunda dari belakang, aroma manis selalu ia rasakan ketika memeluk tubuh bunda. Jangan suuzon loh, ini bukan adegan romantis.


“Bukan kok, aang sama teteh tadi serius belajar sampai lupa makan siang, ini buat kalian” Jelas bunda lalu berbalik menghadap anak bujangnya “Semangat belajarnya ya?”


Seulas senyum manis dan elusan hangat pada pipi didapati Jaehyun “Iya bunda” Jawabnya lalu menarik si bunda untuk duduk di meja makan “Ayo temenin aang makan bun”




..



“Wih anak insyaf datang” Suara milik Mingyu menyambut kedatangan Jaehyun dan Lona di markas Arogan.



Panglima Tempur []✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang