[Completed]
MASIH BANYAK TYPO NAMA, KARENA DIBUAT DALAM 2 VERSI!!! BELUM DI REVISI. MAAF ATAS KETIDAKNYAMANANNYA 🙏
Ini hanya kisah Jaehyun Anugrah si penggemar berat Muhammad Ali dan club Barcelona, jajaran berandal nomor satu di SMA Nasional ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⌐╦╦═─
Menjelang senja. Hal yang paling disukai Jaehyun saat senja adalah ketika ia melihat mobil masuk ke area parkiran,bunda yang tengah sok asik duduk di kursi teras sambil meminum teh hijau kesukaannya, lalu nampak teh Sejong yang sok sibuk menyirami bunga mawar milik bunda, ah dan yang terakhir si cengeng Jisung yang asik duduk di tangga depan rumah dengan segala permen yang ia beli di warung depan rumah.
Jadi kan nampak keluarga Anugerah ini harmonis, tiap sore selalu berkumpul bersama di teras rumah yang kata orang seperti kebun bunga mawar.
Halah...
⌐╦╦═─
Hari sudah mulai gelap, bunda dan ayah sudah masuk ke rumah. Teh Sejong juga sudah menggendong si Jisung yang terkantuk kantuk karena angin sepoi-sepoi, tapi Jaehyun masih asik dengan si Lona,kekasihnya. Azan magrib sudah berkumandang indah di masjid dekat rumahnya, Tapi Jaehyun masih asik berjongkok di depan si Lona sambil menggosok body jadul Lona dengan spons penuh busa.
"Nggak ke masjid aa'?" Tanya seorang gadis berkerudung yang kebetulan lewat depan rumah Jaehyun. Nampak ayu dengan mukena putih motif bunga.
"Eh, duluan aja atulah neng" Jaehyun tersenyum manis menanggapi.
"Nggak ke masjid?" Sebuah pertanyaan sama yang Jaehyun dapatkan. Kali ini dari pemuda yang tampanya kalah jauh dari Jaehyun.
Sombong!!!
"Eh, Wojin? Duluan aja lah. Nanti nyusul hehe" Kata Jaehyun.
"Ke masjid?" Tanya Wojin, sembari membenarkan letak pecis yang dirasa miring.
"Nyusul ayah bunda masuk ke rumah" Canda Jaehyun sembari menggaruk kepalanya yang sejujurnya tidak gatal. Matanya melengkung manis bak bulan sabit, sayangnya sih yang lihat si Wojin, yang biar bagaimanapun manisnya sudah pasti tidak tertarik pada paras Jaehyun.
"Yah, kenapa engga ke masjid? Padahal di depan rumah begini masjidnya. Tinggal nyebrang jalan doang" Sindir Wojin.
Memang benar sih, kebetulan rumah keluarga Anugerah ini hanya berhak sekian meter dari Masjid depan rumahnya.
"Hehe, nggak boleh jadi anak durhaka!"
"Loh?" Wojin memekik bingung.
"Ayah bunda aja nggak ke masjid. Nanti kalau aku ke masjid pasti jadi omongan orang 'Itu anaknya yang kasep rajin ke masjid kok orang tuanya nggak pernah kelihatan ke masjid' Engga ah, kasihan ayah bunda!" Jaehyun menggeleng ribut lalu kembali berjongkok menyikat body bohay milik Lona.
Trik megusir Wojin sih sebenarnya.
Di liriknya Wojin si-anak ustadz tadi hanya menggeleng lalu berjalan menuju masjid depan rumah Jaehyun. Lalu suara lantunan pujian surat alquraan dari masjid menemaninya menginggat hari kemarin, saat ia dan Doyoung tengah duduk di UKS. Setan memang si Jaehyun ini.
Flashback
Doyoung tampak malas menatap Jaehyun. Sedang Jaehyun hanya cengengesan, bingung dia harus ber reaksi bagaimana.
"Yuta, kenapa sih bikin malu terus begini?" Tanya Jungwoo, kekasih Yuta. Si Jungwoo nampak ribut mencari tumpukan celana osis yang mungkin masih layak di pakai.
"Ini gaul sayang!" Jelas Yuta sambil memperlihatkan robekan celana osis yang ia buat ketat pensil.
"Normal sedikit dong. Aku malu" Kesal Jungwoo pada kekasihnya yang bisa dibilang absurd ini.
"Kamu mah gitu, aku salah terus" Goda Yuta sembari menggoyang-goyangkan pipi tembam pacarnya. Lalu setelahnya malah, Jungwoo yang harusnya marah-marah atau pukulin Yuta, malah ia merenggut lucu, sehingga berakhir keduanya berpelukan.
"Lah, dia yang nyobekin celanaku, kenapa dia juga yang ngasih celananya ke aku?" Tanya Jaehyun.
"Mau atau enggak?"
"Iya" Jawab Jaehyun singkat.
"Jaehyun kenapa celana pensilnya dipakai lagi? Kemarin kan udah pakai yang bisa!" Kesal Doyoung.
"Lupa, kamu sih nggak ingetin" Jawab Jaehyun, lalu deretan giginya ia pamerkan pada si pujaan hati.
"Doyi... Boleh tanya?"
"Apa?" Tanya Doyoung, ia nampak dengan serius memperhatikan Jaehyun.
"Punya rencana anak berapa nanti pas udah nikah? Ayo nanti aku bantuin bikin"
PLAKK!!
Doyoung menampar keras pipi Jaehyun, lalu Doyoung pergi keluar UKS yang tentu saja di ikuti Jungwoo yang menahan tawa saat melihat wajah Jaehyun. Tersisa Yuta di pojok tengah tertawa sampai air matanya keluar.Setan Yuta mah.
Flashback off
"Padahal kan Jeje baik dong tanya 'Kamu mau punya anak berapa?' Kenapa Jeje di tampar sih? Kan mau dibantu, soalnya aku mau punya anaknya 10"Gerutunya "Jawab atuh Lon, kamu mah nggak berguna banget. Diajak curhat ,alah diem!" Bentak Jaehyun sembari memukul kemudi lona. Jaehyun lalu mengelus-elus body si Lona, menyesal juga dia marah sama kekasihnya ini. Terlalu mengutamakan Doyoung ternyata membuat Jaehyun berlaku kasar sama Lona.
"Jangan marah" Ujar Jaehyun sambil mengelusi kembali body si Lona. Jangan salah paham loh, si Lona kalau ngambek suka nggak mau jalan soalnya.
Telinganya kemudian mendengar cukup jelas ketika masijd depan rumahnya mengumandangkan Iqomah, tanda shalat magrib akan segera dimulai "Aduh belum mandi!" Kata Jaehyun sembari bersiap membereskan ember bekas memandikan Lona.
Jaehyun lalu berdiri. Ketawa dia saat menyadari sedari tadi dia tengah berbicara sendiri, untung saja semua orang sedang sibuk di masjid. Jadi tidak ada yang lihat gimana Jaehyun ngobrol bareng si Lona.
Kasihan ayah, bunda nanti malu.
Dret..dret...
Jaehyun merogoh saku kolor gambar super mario miliknya. Senyumnya mengembang sempurna ketika menilik siapa yang menganggu waktu magribnya, yang sebenarnya ia habiskan dengan percuma, seperti, tidak shalat misalnya.
|Kecintaannya Jaehyun:| [Jaehyun, besok boleh berangkat bareng?]
Semkin senyum saja si Jaehyun saat ia membaca pesan dari bakal calon kekasihnya ini.
"Ya Allah Lon, Jeje tinggal dulu ya. Harus shalat ini mah Jeje"
"Wojin tungguin woy, itu bapakmu suruh nge-imaminya ditunda lima menit. Aku mau ganti baju sebentar!" Jaehyun berteriak-teriak berbarengan dengan orang yang berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat berjamaah.