Semilir angin berhembus kencang, masuk lewat jendela kamar gadis yang sekarang sedang menulis diary. Gadis itu meneteskan air matanya, ia tidak membendungnya lagi hingga air mata itu lolos. Penyakit yang menyerang tubuhnya mulai menyebar, rasa sakit yang selalu ia rasakan kadang membuatnya ingin menyerah dengan melakukan bunuh diri. Ditambah kedua orang tuanya yang selalu tidak pernah meluangkan waktu dengan gadis itu karena lebih mementingkan pekerjaannya, yang gadis itu butuhkan sekarang ini adalah kasih sayang dari kedua orang tuanya dan juga mendapatkan cinta dari orang yang sedang ia cintai.
Terkadang aku ingin menyerah dengan semua ini, namun aku juga masih ingin merasakan bahagia di dunia ini. Ma.. pa.. Anna sayang sama kalian, Anna butuh kasih sayang kalian. Anna pengen di peluk dan di gendong seperti dulu lagi, tapi itu hanya angan-angan saja. Makasih karena kalian Anna bisa hadir di dunia ini, makasih karena udah merawat Anna sampai sekarang walaupun kalian gak pernah luangkan waktu untuk Anna. I love you mom and dad!
Lagi-lagi Annaya meneteskan air matanya, ia menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit nya menyerang tiba-tiba, rasanya sangat sesak! hidungnya mengeluarkan darah, wajahnya sudah sangat pucat bahkan penglihatan pun mulai gelap hingga gadis itu pingsan.
Tidak ada yang tahu bahwa Annaya keadaannya sangat mengkhawatirkan, bahkan bisa dibilang mereka tidak peduli.
Adira-- mama Annaya, mengetuk pintu kamar putrinya. Hampir 10 menit Adira berdiri di depan pintu kamarnya Annaya, Adira berteriak memanggil nama putrinya itu bahkan menggedor pintu kamar. Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar, mungkin Annaya belum pulang pikirnya.
***
Disisi lain, Reynaldi sedang bertengkar dengan ayahnya. Reynaldi tak habis pikir dengan ayahnya, bagaimana bisa ia selingkuh disaat mamanya sedang sakit bahkan kondisi mamanya semakin parah.
"Papa itu kenapa sih?! Mama lagi sakit pah! dan dengan teganya papa selingkuh disaat kondisi mama seperti ini!" Ucap Reynaldi dengan nada tinggi.
"Saya tidak selingkuh! dia rekan kerja papa, jangan nuduh yang engga-engga!" Ucap Bayu-- ayahnya tak kalah tinggi.
Rahang Reynaldi mengeras lalu mengepalkan tangannya, jika saja Bayu bukan ayahnya mungkin dia sudah menghabisinya.
"Rekan kerja papa bilang?! Sampai harus nganterin jalang itu pulang tengah malam, lalu makan siang di restoran. Itu yang disebut rekan kerja?" Ujar Reynaldi kemudian tertawa.
"Jaga ucapan kamu! Saya tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini! Dan jangan pernah asal tuduh!" Bayu membentak Reynaldi, lalu melangkahkan kakinya pergi menjauh dari putranya.
Reynaldi berjalan menuju kamar mamanya, ia sangat khawatir dengan kondisi mamanya. Wanita yang sudah mengandungnya selama 9bulan, lalu merawat dan mendidiknya penuh dengan kasih sayang hingga Reynaldi tumbuh dewasa. Ia mencium punggung tangan mamanya, lalu memeluknya.
Maya-- mamanya, bangun dari tidurnya karena merasakan ada seorang yang tengah memeluknya. Maya mengelus punggung putranya itu, lalu menatapnya sendu.
"Rey, mama gak apa-apa." Ucap Maya pelan seraya tersenyum. Reynaldi melepas pelukannya lalu menatap Maya sendu.
"Tapi ma--"
"Apa yang papa kamu katakan itu benar, sayang.. wanita itu adalah rekan kerjanya, jadi kamu jangan tuduh papa yang engga-engga ya sayang... mungkin, wanita itu adalah wanita yang baik." ujar Maya meyakinkan Reynaldi.
Reynaldi pasrah, ia tersenyum menatap mamanya yang juga tersenyum. Bahagia mamanya adalah bahagianya juga.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Annaya (SUDAH TERBIT)
Fiksi Remaja"Kalo kamu gak suka sama aku karena aku itu penyakitan gapapa kok. Karena suatu saat nanti aku gak akan ganggu hidup kamu lagi dan akan pergi dari kamu. Semoga kamu bahagia terus ya, Rey." Ucap Annaya sembari memandang Reynaldi dengan mata yang berk...
