"Rid, maafkan aku," ucap Adinda dengan nada bergetar.
"Aku kecewa sama kamu, Din! Selama ini kamu membohongiku. Aku kecewa padamu!"balas Ridho, menekan rahangnya yang tegang.
"Maafkan aku, Rid. Aku melakukannya karena aku takut kamu pergi. Aku teringat janji mu, Rid..." tangisnya mulai pecah.
Ridho menghapus air mata yang membasahi wajahnya. "Aku kecewa padamu, Adinda. Tapi, aku tidak bisa membenci kamu! Karena aku sudah mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Empat belas tahun aku mencintaimu, Din. Hanya kamu yang ada di pikiranku dan di hatiku. Hanya kamu wanita yang aku cintai setelah Mama."
Adinda terus menangis, hatinya penuh penyesalan. "Rid, maafkan hiks dindaaa. Huaaaa."
Ridho menarik napas berat. "Jaga dirimu baik-baik, Din."
Adinda menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak mau! Hiks!"
Ridho tidak menjawab, ia langsung pergi meninggalkan Adinda seorang diri.
"Ridho! Dulu kamu yang berjanji akan menjagaku! Tapi kenapa sekarang kamu menyuruhku menjaga diriku baik-baik?!" Jerit Adinda, suaranya berpenuhi rasa sakit.
Namun, Ridho terus berjalan pergi, meninggalkan Adinda dalam kesediha
"Ridhooooo!"
Adinda terbangun dari tidurnya, keringat membanjiri tubuhnya. Mimpinya terasa begitu nyata.
"Astagfirullah. Cuma mimpi," bisiknya pada diri sendiri sambil menarik napas.
Ia membuka laci lemari dan mengambil foto dirinya bersama Ridho. "Aku harus bilang semuanya."
Tapi hatinya bertanya, "Apakah benar dia mencintaku?"
"Mana mungkin dia suka padaku. Dia hanya lebih memilih bersahabat denganku, tidak lebih,"ucap Adinda, bersikap skeptis.
Adinda telah siap untuk mendaki. Tujuannya adalah Gunung Mutis. Setelah keluar dari hotel, ia langsung menuju tempat itu.
Beberapa jam kemudian, Adinda tiba di lokasi. Ia mulai mendaki gunung. Bagi Adinda, mendaki adalah sesuatu yang selalu ia nikmati. Dulu, bersama Ridho saat masa SMA, mereka sering mendaki.
Adinda membuat keputusan untuk tidak pergi hingga puncak. Ia merasa tidak akan kuat.
Setelah melalui perjalanan yang panjang, saat sampai di pos dua, Adinda hampir terjatuh. Namun, tiba-tiba seseorang menahannya.
"Hati-hati!"
"Huu. Terima... iihh," ucapnya terhenti ketika melihat siapa yang telah menolongnya.
"Bengong? Ga biasa ya liat cowok ganteng dan keren kayak gue?"Pria itu menggoda.
Adinda masih terdiam.
Pria itu menghembuskan napas. "Dinda. Heyyyy," ucapnya sambil mencubit kedua pipi Adinda dengan gemas.
"Hah? Iya."
"A--anu--"
"Aaa ee ooo," potong pria itu.
"Ridhoooo mahhh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Fiksi Umum🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
