Bab 25 Hidden Experience: Mate

90 18 0
                                        

🄼🄴🄼🄿🄴🅁🅂🄴🄼🄱🄰🄷🄺🄰🄽

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🄼🄴🄼🄿🄴🅁🅂🄴🄼🄱🄰🄷🄺🄰🄽







.











"Gayoung, kau tak usah memikirkan apa yang tadi kakek bicarakan. Kemungkinan dia hanya melantur, " kata Sunwoo selepas keduanya keluar dari ruangan Raja Eungoo.

"Tapi sayangnya aku memikirkannya," Jawab Gayoung.

Sunwoo menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Menatap Gayoung dengan saksama. "Apa kau mengkhawatirkanku? " tanyanya iseng.

"Iya. Saya mengkhawatirkan Anda, pangeran. Saya tau pastinya ada harga untuk tahta yang akan Anda pikul, "

Sunwoo tersenyum saat mendengar itu. Sudah lama tak ada yang berkata seperti itu padanya dengan tulus. Terakhir kali ia bisa tersenyum dengan tulus pada hari dimana ia melihat Gayoung untuk pertama kalinya saat ia berusia 7 tahun.

"Kamu sangatlah tulus Young. Bagaimana kalau kita berdua mampir minum teh bersama? " tawar Sunwoo.

"Baiklah. Kalau kita minum teh melati hangat saja, bagaimana? " tanya Gayoung sambil menatap Sunwoo.

"As you wish, " balas Sunwoo. Setelah itu, Sunwoo memerintahkan seorang pelayan untuk membawakan pesanan Gayoung menuju kamar pribadinya.

.



















.














.

"Lukisan yang ada di kamar Pangeran sangatlah banyak, " kagum Gayoung sambil melihat satu per satu lukisan.

"Iya, aku sering melukis bersama kakakku. " Jawab Sunwoo.

"Ah, aku jadi ingin punya kakak. Pastinya rasanya menyenangkan, " Ucap Gayoung dengan mata yang berbinar.

"Itu hanya dalam anganmu saja, Young. Aku dan kakakku sudah tidak dekat lagi semenjak kakakku menjabat sebagai seorang administrator kerajaan, "

"Mungkin karena sekarang dia menjadi sibuk. Pikirkan alasan yang positif saja Pangeran, "

Kemudian, seorang pelayan masuk sambil menaruh seteko teh dan 2 cangkir. "Ini pesanan Anda, Pangeran. Jika ada yang Pangeran inginkan lagi saya siap menyiapkannya, " ucapnya sambil membungkuk dan pergi.

Gayoung mendekat pada meja kecil itu dan menuangkan teh ke 2 cangkir yang ada, serta menaruh beberapa buah gula batu ke dalam cangkir-cangkir itu dan mengaduknya perlahan.  Dentingan suara antara sendok dan gelas menjadi pengiring dalam perubahan warna manik mata hitam Sunwoo  menjadi biru laut.

Mata Sunwoo menatap punggung Gayoung dengan penuh puja. Sunwoo mendekat sedikit demi sedikit menuju Gayoung dan memeluknya erat. "Mate~" bisik seduktif dari Sunwoo tepat di telinga kanan Gayoung bersamaan dengan manik mata coklat Gayoung yang berubah menjadi biru laut juga.

Deg!!

Hawa di sekitar Gayoung dan Sunwoo berubah menjadi lebih panas dan aroma citrus dan jeruk mulai memenuhi tempat ini yang membuat Gayoung dan Sunwoo mabuk kepayang.

Tubuh Gayoung berbalik dan langsung mengaitkan kedua tangannya pada leher Sunwoo. Ia menatap Sunwoo dengan dalam hingga Sunwoo memajukan tubuhnya menuju Gayoung dan mulai mengecupi dahi, hidung hingga bibir ranum Gayoung. Ia menyesap bibir itu dengan perlahan seakan-akan ia sedang menyesap minuman termahal di dunia.

"Menjadi milikku? " tanya Sunwoo di sela-sela ciuman itu. Ia memagut bibir itu semakin dalam dan membuatnya mabuk kepayang.

"Selamanya aku akan menjadi milikmu, " balas Gayoung sambil membalas pagutan ciuman dari Sunwoo.

Detik demi detik pun berganti, hawa panas mulai terasa di tubuh mereka berdua. Tangan Sunwoo menarik tubuh Gayoung ke atas dan memeluknya dengan erat. Perlahan Sunwoo berjalan menuju tempat tidurnya tanpa melepas ciuman yang ada.

"Bagaimana jika kita melakukan penyatuan? " tanya Sunwoo lagi selepas ia menghentikan ciumannya. Lalu, ia menurunkan Gayoung dari gendongannya ke tempat tidur dan mematikan obor yang tergantung di sebelahnya.

.
























.















.

"Gayoung, apakah kamu mau pulang? Jika iya, janganlah. Ayo tetaplah disini!" Rengek Sunwoo sambil menahan Gayoung agar tak berdiri dari posisinya kini. Omong-omong, Gayoung sedang dipangku Sunwoo.

"Aku sudah menginap disini selama 2 hari tanpa ada yang menyadarinya. Jadi kumohon biarkan aku pulang ya, " kata Gayoung memohon.

"Tapi, aku akan masih merindukanmu. " jawab Sunwoo yang langsung dibalas jitakan oleh Gayoung.

"Rindu katamu? Aku bahkan hanya di kamar selama 2 hari non stop bersamamu. Jadi bagaimana bisa rindu? " tanya Gayoung tak habis pikir.

"Kau tadi meninggalkanku, " balas Sunwoo dengan cemberut.

"Ya ampun! Aku hanya ke kamar mandi sebentar. Palingan juga hanya 5 menit, " jawab Gayoung.

"Menurutku itu sangatlah lama. Apa aku harus memberitahu kakek untuk menikahkan kita berdua? "

"Jangan! Kita masih terlalu muda untuk menikah dan juga aku jauh dari kata sempurna untukmu pangeran, " kata Gayoung sambil menundukkan wajahnya.

Sunwoo yang sadar bahwa Gayoung sedang merasa insecure langsung mengangkat tubuh Gayoung perlahan dan membalikkan tubuhnya sehingga mereka berdua saling berhadapan. Ia mengangkat dagu sang gadis dan menatapnya.

"Tiada kata sempurna diantara kita karena kita ditakdirkan untuk bersama serta melengkapi segala kekurangan dan kelebihan kita, " Ucap Sunwoo dan mulai mengecup bibir Gayoung dengan dalam.

"Sejak kapan Pangeran Sunwoo yang kamu menjadi cheesy seperti ini? Tapi aku suka, " Pekik Gayoung.

"Kalau begitu apa kita harus melanjutkan yang semalam? " tanya Sunwoo bercanda yang langsung dihadiahi sebuah tabokan sayang dari Gayoung.

Tok.... Tok.... Tok.....

"Siapa itu? " tanya Gayoung dan Sunwoo heboh. Gayoung langsung berdiri dan tiarap memasuki bawah tempat tidur sedangkan Sunwoo langsung membenahi bajunya yang kusut dan mulai berjalan perlahan menuju pintu kamarnya.


Tangannya membuka pintu dan dirinya melihat sang kakek berdiri dengan jubah kebesarannya. "Ada apa kakek kemari? " tanya Sunwoo sambil tersenyum.

"Ada sesuatu yang harus kau lihat dan kalau bisa ajak Gayoung yang sekarang pastinya sedang bersembunyi dibawah tempat tidurmu, " Ajak Raja Sunwoo sambil terkekeh saat melihat wajah pias Sunwoo.

TBC

Hidden MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang