Jisung mendengus melihat gurunya yang dengan santai masuk kedalam kelas, yang jelas-jelas sudah terlambat satu jam pelajaran. Bagaimana murid tidak terbiasa dengan kata terlambat, kalau guru yang seharusnya menjadi panutannya saja masih sering terlambat?
"Perhatian, hari ini ibu hanya bisa memberi kalian tugas karena setelah ini ibu ada urusan. Sekretaris tolong tulis tugas ini di papan tulis, sepulang sekolah tugas itu harus sudah ada di meja ibu. Permisi."
Seperti dugaannya, datang dan hanya memberi tugas dengan batas waktu yang tidak masuk akal. Apa gunanya ia hadir ke sekolah kalau tidak mendapat penjelasan apapun dari guru yang mengajar.
Setelah mengerti dengan tugas yang tertera di papan tulis, Jisung memutuskan untuk mengerjakannya di perpustakaan.
"Setidaknya disini lebih tenang."
Jisung mengambil salah satu buku yang dibutuhkan untuk membantu mengerjakan tugasnya lalu mendudukan dirinya di salah satu bangku yang tersedia di perpustakaan. Lembar demi lembar buku itu dia baca, sampai-sampai dia tidak menyadari panggilan dari seseorang yang ditujukan padanya. Sampai akhirnya orang itu menepuk pundaknya, dan membuatnya terlonjak kecil.
"Maaf telah mengagetkan mu, tapi apa boleh aku duduk disini?"
Jisung menatap orang itu dengan sinis, ia sedikit menyesali keputusannya untuk ke perpustakaan, karena harus berakhir dengan bertemu Minho seperti saat ini.
"Tidak."
"Aku hanya akan duduk disampingmu Ji, janji tidak akan menggangumu sama sekali."
Pemuda bersurai hitam lembut itu mendengus kesal. Ia benar-benar tidak suka dengan orang yang keras kepala, tapi ia terlalu malas untuk sekedar meladeninya lebih lama.
"Terserah,"
Senyum Minho mengembang sempurna, ternyata bahagianya sesederhana ini. Hanya karena mendapatkan izin dari Jisung pun sudah berhasil membuat Minho kegirangan.
"Jangan berisik! Kau sudah berjanji."
Minho mengangguk berkali-kali sambil terus menatap Jisung dengan girang.
Penasaran mengapa Minho bisa dengan bebasnya datang ke perpustakaan di waktu yang bertepatan dengan Jisung?
Gampang saja, Minho bolos kelas dan mendapati Jisung berjalan menuju perpustakaan.
Jadi tanpa pikir panjang Minho mengikuti Jisung ke perpustakaan.
"Ji apa aku boleh memainkan rambutmu?"
"Kau sudah berjanji Lee Minho."
Minho merengut, sedikit menyesali janjinya yang membuatnya tidak bisa berlaku apa-apa kepada Jisung. Masalahnya dia sendiri bingung harus melakukan apa selain mengganggu Jisung. Bermain dengan ponselnya? Tidak, Minho tidak begitu tertarik dengan benda elektronik yang satu itu. Baginya bermain ponsel sangatlah membosankan.
"Tapi aku bosan Ji~"
"Tak ada yang menahanmu untuk tetap disini."
"Memang tidak ada sih, tapi kan aku ingin tetap disini."
Jisung mengepalkan telapak tangannya. Sungguh, ia sudah berada di puncak kesabarannya.
"Diam."
"Iya Ji, maafkan aku."
Tak mau membuat Jisung semakin kesal, Minho membaringkan kepalanya di atas meja dan mulai memejamkan matanya. Aura perpustakaan memang sangat kuat, belum ada setengah jam ia menginjakkan kaki disini, tapi rasa kantuk sudah menyerangnya dengan telak.
KAMU SEDANG MEMBACA
On Track ; Minsung (end)
Fanfiction"Aku menyukaimu, Han Jisung." "Tapi aku tidak. Jadi, permisi." - - - - - "Aku masih menyukaimu Ji." "Aku juga masih tidak menyukaimu." - - - - - "Tidak ingin menjalin sebuah hubungan bukan berarti aku tidak memiliki perasaan khusus padamu, Lee Minho...
