OT 04

2.1K 358 15
                                        

"Ji, apa kau sudah mengerjakan tugas mr. Jae?"

Jisung menunjuk buku tulis yang tergeletak diatas mejanya menggunakan dagu, paham akan tujuan dari basa-basi sahabatnya.

"Kau memang yang terbaik."

"Mulailah untuk berubah menjadi sedikit lebih rajin Fe. Bahasa Inggris bukanlah perkara yang sulit untukmu, bahkan itu adalah bahasa sehari-hari mu selama dua belas tahun. Jangan sampai kemampuan berbahasa Inggris mu terbuang sia-sia hanya karena kau terlalu malas untuk mengerjakan tugas."

Felix mengangguk mengiyakan, selagi tangan kanannya sibuk menyalin pekerjaan Jisung. Benar, dirinya memang pandai berbahasa Inggris, tapi ia terlalu malas untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan gurunya. Baginya bereksperimen di dapur lebih mengasyikkan daripada mengurung diri di kamar sambil mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Perhatian! Kepada seluruh siswa diharap segera menuju lapangan upacara karena sebentar lagi upacara akan segera dimulai. Terimakasih.

"Huh? Upacara?"

"Bukannya minggu kemarin kita sudah upacara?"

Keduanya sama-sama bingung. Pasalnya sekolah mereka hanya melakukan upacara dua minggu sekali, dan jadwal upacara berikutnya seharusnya senin depan.

"Apa ada pengumuman?"

"Entahlah, lebih baik kita segera pergi kelapangan."

Felix mengangguk, lalu membenarkam dasinya yang sedikit berantakan. Baru detik berikutnya dia menyadari sesuatu.

"Ji, dimana dasimu?"

Jisung berdecak saat menyadari satu hal, dia tidak tahu kalau hari ini akan ada upacara dadakan, jadi dia tidak membawa dasi hari ini. Memang, dasi disekolahnya hanya wajib dipakai saat upacara berlangsung.

"Aku tidak membawanya."

Jisung meringis, mungkin hari ini akan menjadi pengalaman pertamanya mendapatkan hukuman.

"Maaf Ji, aku tidak membawa dasi cadangan. Mau ku coba tanyakan ke yang lain?"

Jisung menatap kesekitar, mendapatkan pemandangan para siswa yang bernasib sama dengannya dan sibuk mencari pinjaman dasi.

"Tidak usah, saingan ku banyak."

Felix menatap khawatir sahabatnya, dihukum hormat bendera selama setengah hari bukanlah hal yang mudah. Terlebih jika Jisung yang melakukannya. Tidak menutup kemungkinan kalau Jisung akan pingsan setelahnya, karena sahabatnya itu tidak tahan dengan terik matahari.

Tapi tatapan Jisung yang berusaha meyakinkan Felix membuatnya mau tidak mau menuruti Jisung yang keras kepala.

Keduanya sudah sampai di lapangan. Para siswa sudah mulai membentuk barisannya sesuai kelas masing-masing membuat Jisung semakin menyesal karena tidak membawa dasinya hari ini. Lihatlah, barisan kelasnya mendapatkan tempat yang teduh. Namun sayangnya dia tidak bisa ikut baris disitu, dia harus baris di barisan khusus para siswa yang tidak memakai seragam dengan baik dan lengkap.

"Sanah Fe, masuk ke barisan kelas. Aku akan baris di barisan situ."

Felix mau tidak mau mengangguk, keduanya mulai berpisah dan memasuki barisannya masing-masing.

Saat dirinya baru saja akan memasuki barisan khusus, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang. Jisung yang terkejut dengan refleks mengikuti arah orang yang menariknya.

"Hey, apa-apaan kau Lee Minho?!"

Minho tidak mengindahkan protesan Jisung, langkah panjangnya terus menggiring keduanya menuju suatu tempat.

Jisung ditarik untuk masuk ke dalam barisan yang seharusnya, barisan kelas Jisung. "Disini barisanmu."

"Kau tidak melihatnya Lee? Aku tidak mengenakan dasi."

Minho menyampirkan dasi miliknya ke leher Jisung. "Pakai ini. Kau akan pingsan jika harus terkena panas saat dihukum nanti."

Sebenarnya dari tadi mereka berdua sudah menjadi perhatian siswa lain yang berada di sekitar mereka. Namun, siapa peduli. Keduanya asik dengan dunia pertengkarannya sendiri.

"Pikirkan dirimu sendiri, kau akan dihukum jika memberikan dasimu padaku."

Minho mengusak rambut yang lebih muda, "aku sudah terbiasa dengan hukuman, jadi tidak masalah."

Setelahnya Minho pergi untuk memasuki barisan khusus di ujung lapangan. Meninggalkan Jisung yang kesal bukan main, apa-apaan ini? Kenapa sosok Minho selalu mengganggu kehidupannya akhir-akhir ini. Dia tidak suka dengan segala tindak-tanduk yang Minho lakukan kepadanya. Apalagi kali ini ia jadi memiliki hutang budi kepada orang itu. Sebenarnya apa yang Minho inginkan?

"Ji, cepat pakai dasinya. Upacara akan segera dimulai."

Felix yang melihat kejadian beberapa menit lalu akhirnya menyadarkan Jisung dari rasa kesalnya. Sebenarnya Felix bingung kenapa Jisung memasang tampang kesal seperti itu, bukankah seharusnya sahabatnya itu senang karena akan terbebas dari hukuman? Tapi yang Jisung tampilkan malah tampang seperti ingin memakan seseorang. Tak mau menghabiskan waktunya untuk memikirkan sesuatu yang tidak penting, Felix kembali memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah depan, dimana para petugas sibuk berlalu lalang menyiapkan upacara dadakan pagi ini.

- On Track -

Jisung memasukkan cheesecake buatan Felix ke dalam mulutnya. Memang, Felix yang gemar bereksperimen itu sangat menguntungkan bagi Jisung. Karena dia akan selalu dijadikan orang yang wajib mencicipi percobaannya. Dan untungnya masakan Felix selalu enak, itulah mengapa uang jajan Jisung selalu utuh setiap bulannya.

"Apa kau tahu Ji? Kak Minho tadi dimarahi habis-habisan oleh pak Sungjin karena sudah terlalu banyak melanggar peraturan."

Felix tersenyum kecil ketika menyadari pergerakan Jisung berhenti. Mau sekeras apapun seorang Han Jisung, dia masih memiliki sisi lembut yang sayangnya disembunyikan oleh sifat tidak peduli nya.

"Bukan urusanku,"

"Dia dihukum karena menggantikan mu kalau kau lupa."

Jisung berdecak, mood yang sudah membaik karena cita rasa cheesecake buatan Felix yang sangat enak kembali hancur berantakan. Felix membuat perasaan bersalahnya kembali muncul.

"Itu kan bukan keinginanku."

"Tapi tetap saja dia sudah membantu mu Han Jisung. Berterimakasih lah kepadanya."

Jisung mengangguk pasrah, bagaimanapun Jisung masih tahu terimakasih.

"Pulang sekolah."

Felix yang memahami kata-kata yang dilontarkan Jisung tersenyum manis. Benar kan, hanya perlu sedikit bujukan untuk melembutkan hati Jisung.

Yah sebenarnya itu hanya berlaku untuk Felix dan keluarganya sendiri. Kalau saja yang membujuknya adalah orang lain, sudah dipastikan Jisung akan menolaknya secara mentah-mentah.

Tbc

Kalau dipikir" si Jisung gak sopan bener dah ke si Lino.

-280920-

On Track ; Minsung (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang