Minho melamun, mengabaikan guru yang sedang sibuk menjelaskan materi di depan sana. Pikirannya masih sibuk memikirkan keadaan Jisung.
"Seharusnya aku tidak perlu sampai terbawa emosi seperti tadi. Siapa yang merawatnya sekarang?"
Minho bergumam pelan, merasa kesal dengan emosinya yang terlalu mudah terpancing. Seharusnya sekarang dia masih berada di UKS dan merawat Jisung. Tapi karena emosinya, kini ia berakhir kembali di bangku kelasnya dan terpaksa mengikuti kelas yang tadi ia tinggalkan.
Pikiran Minho semakin bercabang kemana-mana, dan yang menjadi pusat pikirannya sekarang adalah saat dimana dirinya mulai merasa tertarik dengan Han Jisung.
Sudah satu tahun ini pikirannya dipenuhi oleh pemuda manis yang berstatus sebagai adik kelasnya. Iya, rasa itu memang sudah ada sejak lama. Namun baru akhir-akhir ini Minho berani menunjukkannya.
Satu tahun yang lalu, dimana murid tahun pertama yang baru menyelesaikan masa orientasi nya sudah mendapatkan kelasnya masing-masing, itulah awal dari munculnya ketertarikan Minho terhadap Jisung.
Tidak ada hal spesial yang Jisung lakukan, hanya kebetulan bertanya dimana letak kelas X IPA 4 kepadanya, dan itu berhasil menarik seluruh perhatian Minho.
Kedua bola matanya yang membulat lucu, dan bibirnya yang kecil sangat melekat diingatan Minho. Belum lagi tinggi dan ukuran badannya yang tidak seberapa, menambah kesan manis dimata Minho.
Berawal dari hanya mengetahui kelasnya, berubah menjadi mengetahui hampir seluruh kebiasaannya.
Dimulai dari kebiasaan membawa bekal, sampai kebiasaan berjalan menuju persimpangan untuk menunggu jemputan dari sang kakak Minho ketahui.
Minho mengaku, bahwa dirinya selalu memperhatikan si adik kelas baik secara sadar maupun tidak. Bagaimanapun Jisung sudah sepenuhnya menjadi focus utama Minho selama satu tahun terakhir.
Sebenarnya bisa saja Minho mendekati Jisung sejak tahun pertama Jisung di sekolah ini. Namun sayangnya saingannya sangat berat.
Younghoon ; saingannya, siswa yang sangat diidolakan oleh hampir semua masyarakat sekolah. Mungkin hanya para dominan dan Jisung lah yang tidak mengidolakannya.
Pertengahan semester ganjil tahun lalu, Younghoon menyatakan perasaannya kepada Jisung. Hari yang tidak pernah bisa Minho lupakan, karena hari itu adalah hari dimana jantung Minho berpacu sangat cepat karena khawatir Jisung akan menerima ajakan berkencan dari Younghoon.
Bagaimana tidak khawatir kalau sainganmu adalah incaran semua orang disekolah, belum lagi cara Younghoon menyatakan perasaannya sangatlah romantis.
Minho bahkan mengakui kalau dirinya kalah telak dari Younghoon.
Walau pada akhirnya Jisung menolak ajakan Younghoon secara mentah-mentah, tapi hal itulah yang membuat Minho semakin tidak percaya diri.
Seorang Younghoon saja ditolak, apalagi dia.
Dan itulah alasan mengapa ia memilih untuk memendam perasaannya selama ini.
Lee Minho insecure.
- On Track -
"Han Jisung, kau sudah sembuh?"
Jisung menoleh karena tepukan pelan dipundaknya. "Sudah."
Pandangannya kembali ia arahkan ke arah depan, berusaha fokus dengan langkahnya karena kepalanya masih sedikit sakit. Memang Brian bukanlah kakak yang pengertian, adiknya sedang sakit pun tetap disuruh untuk menunggu di persimpangan, padahal jarak antara persimpangan dan sekolahnya tidak begitu jauh.
Terlalu fokus dengan jalanan, tanpa disadarinya tiba-tiba pundaknya dirangkul oleh pemuda yang masih setia berjalan disampingnya.
"Sebenarnya apa maumu?"
Kali ini Jisung bertanya dengan sedikit lebih lembut, sambil berusaha untuk tidak terpancing emosi.
"Aku takut kau terjatuh, jalanmu masih terlihat seperti orang mabuk."
"Asal kau tahu, tanganmu dipundakku malah menjadi penambah beban."
Minho terkekeh karena gerutuan Jisung. "Kalau begitu aku meralat alasanku. Aku hanya ingin merangkul mu."
"Tidak ada yang mengizinkan mu untuk merangkul ku."
Si lawan bicara mengedikkan bahunya tidak peduli.
"Kau tidak memberikan penolakan berarti, jadi aku tidak akan melepaskannya."
"Andai perasaan bersalah itu tidak ada, maka sudah ku hempaskan tanganmu jauh-jauh."
Kali ini Minho tertawa keras. Tidak usah heran, Minho sudah tahan banting dengan segala tindak tanduk Jisung.
"Kau menggemaskan Ji."
"Aku tidak."
Sebisa mungkin kali ini Jisung menjawab seluruh perkataan Minho. Tidak mau bertindak semakin buruk kepada kakak kelasnya yang sudah sangat baik padanya.
"Apa kau menghabiskan buburnya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Minho menjawab dengan bibir yang merengut, merasa kecewa karena bubur pemberiannya tidak dihabiskan.
"Porsinya terlalu banyak Lee."
"Setidaknya kau menghabiskan setengahnya kan?"
Jisung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, membuat senyum Minho kembali terukir.
Tangan kecilnya beralih mengusak surai hitam lembut si adik kelas.
"Pintar."
Keduanya kembali terdiam, fokus dengan pikiran masing-masing yang jelas berbeda isinya. Jisung yang berharap untuk segera sampai ke persimpangan, dan Minho yang memikirkan topik apa yang harus dia buka agar keadaannya tidak hening seperti saat ini.
"Terimakasih."
Minho terkejut, kepalanya menoleh dan mendapati Jisung yang masih setia menatap jalanan.
"Terimakasih untuk?"
"Bubur."
Tanpa sadar senyum manis terukir di wajah tampan Minho. "Han Jisung, kau benar-benar menggemaskan."
"Aku hanya mengatakan 'bubur' Lee. Apanya yang menggemaskan dari kata 'bubur'?!"
"Tidak tahu, intinya kau menggemaskan."
"Terserah."
Salahkah jika Jisung berasumsi kalau kakak kelas disampingnya ini memiliki sedikit gangguan di otaknya?
"Dimana motormu? Kau tidak melakukan hal bodoh dengan cara meninggalkan motormu di parkiran demi menemaniku menuju persimpangan kan?"
"Sepertinya aku memang bodoh Ji. Karena aku benar-benar melakukan itu. Hehe."
"Astaga, benar-benar bodoh."
Tbc
Baru satu chap begaduh udah gw buat baikan aja. Ckckck gaasik bener
-151020-
KAMU SEDANG MEMBACA
On Track ; Minsung (end)
Fiksi Penggemar"Aku menyukaimu, Han Jisung." "Tapi aku tidak. Jadi, permisi." - - - - - "Aku masih menyukaimu Ji." "Aku juga masih tidak menyukaimu." - - - - - "Tidak ingin menjalin sebuah hubungan bukan berarti aku tidak memiliki perasaan khusus padamu, Lee Minho...
