OT 22

1.6K 303 28
                                        

"Mau kubawakan sesuatu?"

"Ice cream cornetto."

"Kau lagi sakit Ji,"

"Baiklah, aku tidak mau apa-apa."

Tuttt...

Jisung mendengus, buat apa menawarkan kalau ujung-ujungnya dilarang?

Anak itu kembali memfokuskan diri kepada kartun yang ditayangkan oleh benda pipih yang berada ditangannya, sambil sesekali menghela nafas bosan.

Sore ini rencananya Minho akan menjenguk Jisung yang lagi sakit, sekaligus menemani sebenarnya. Karena si manis bercerita kalau kedua orangtuanya sedang mengurus sang nenek yang juga lagi sakit di kampung halaman dan kakaknya yang hari ini pulang lebih lama dari biasanya. Jadilah Minho berinisiatif untuk menemani Jisung sampai kakaknya kembali ke rumah.

Sebenarnya Jisung sudah menolak tawaran kakak kelasnya itu berkali-kali, tapi yang namanya Lee Minho tidak pernah menyerah walau mendapat penolakan berkali-kali membuat Jisung mengalah pada akhirnya.

Anak itu bahkan tidak ada niatan menyambut kedatangan kakak kelasnya. Tubuhnya yang hanya dibalut kaos hitam kebesaran dengan celana training abu-abu, rambut yang acak-acakan, dan mata yang terlihat sayu itu menjelaskan semuanya.

Sesekali kakinya menendang asal selimut yang berantakan dibawah sana. Dirinya merasa sangat bosan karena harus menghabiskan hari di dalam kamar dengan ponselnya. Sebenarnya hari ini ia berniat untuk tetap masuk sekolah, tapi mamanya memaksa agar dirinya beristirahat dirumah. Karena kalau keadaannya semakin buruk, tidak ada yang bisa merawat Jisung untuk saat ini.

Matanya terpejam, rasa pusing kembali menyerangnya. Diletakkanya ponsel itu diatas nakas, lalu ia memijit dahinya dengan kedua jarinya. Jisung memang termasuk orang yang mudah sakit, kelelahan pun dia akan jatuh sakit dan harus berakhir beristirahat diatas ranjangnya selama beberapa hari.

Ting!

Diraihnya kembali ponsel silver miliknya, lalu mengecek notifikasi yang baru saja masuk.

| Lee |

|Ji aku sudah didepan

Masuk saja, ambil kuncinya|
dibawah keset

Benar saja, Jisung dapat mendengar pagar rumahnya dibuka lalu setelahnya terdengar suara deru motor yang ia yakini milik Minho. Sela beberapa saat, dapat didengar suara pintu utama rumahnya dibuka. Anak itu kembali mengirim pesan kepada kakak kelasnya.

Aku ada di kamar, dilantai dua|
kau akan menemukan pintu berwarna putih.

Itu kamarku|

Selang dua menit, pintu putih yang berada di sisi kanan kamarnya terbuka secara perlahan, menampilkan seorang pemuda yang masih mengenakan seragam khusus sekolahnya.

"Hai Ji, aku masuk ya?"

Yang lebih muda mengangguk, memberi izin kepada kakak kelasnya untuk memasuki ruang pibadinya. Minho menaruh kantung belanja khas salah satu supermarket diatas nakas, membuat Jisung mengernyit. Seingatnya ia tidak menitip apapun kepada kakak kelasnya.

"Ku belikan biskuit dan susu kotak untuk cemilan mu."

Pada akhirnya Jisung mengangguk, tidak mungkin menolak pemberian kakak kelasnya yang sudah kelewat baik padanya.

"Tingkat akhir memang lagi pulang cepat ya?"

Minho yang tadinya sibuk memperhatikan kamar bernuansa galaxy milik Jisung mengangguk kecil. Memang, hari ini para murid tingkat akhir dipulangkan lebih cepat karena minggu depan akan menghadapi ujian lagi. Jadi minggu ini mereka hanya berlatih mengisi soal saja.

"Minggu depan tingkat akhir sudah mulai sibuk?"

"Ya, kurasa begitu."

Jisung menggeser badannya, memberi ruang untuk Minho duduk diatas ranjangnya. Yang lebih tua pun menurut, ia mendudukkan dirinya di samping Jisung yang sedang menatapnya.

"Kau mau kuliah dimana?"

"Entahlah, rencananya aku ingin kuliah diluar kota agar bisa jauh dari orangtua ku."

"Kau harus segera menentukkan pilihan, semuanya sudah berada didepan mata."

Minho mengangguk patuh, tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan ramping Jisung yang terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

"Kita akan berpisah,"

Yang lebih muda tersenyum kecil, "memang kalau sudah berpisah kau tidak akan menghubungi ku lagi?"

"Tidak, aku pasti akan tetap menghubungi mu. Tapi kan tetap saja berbeda rasanya."

Jisung terkekeh, ekspresi kakak kelasnya yang sedang merengut terlihat sangat konyol. Jisung menepuk bagian kasurnya yang kosong, membuat isyarat yang tidak dimengerti oleh Minho.

"Kemarilah Lee, aku ingin dipeluk."

Si pemilik nama tersenyum manis, dengan segera ia menidurkan dirinya disebelah Jisung, lalu memeluk tubuh mungilnya.

Si mungilpun menyamankan dirinya didalam dekapan hangat Minho, tangan rampingnya ia gunakan untuk membalas pelukan Minho dan tak lupa untuk mengusap punggung kakak kelasnya itu.

"Jangan jadikan aku hambatan untukmu Lee, kau harus mengejar cita-cita mu."

Minho memposisikan dagunya dipucuk kepala Jisung. Dirinya mengangguk meski tetap merengut. Bagaimanapun apa yang Jisung katakan adalah kebenaran.

"Lalu, kau tidak akan mencari pengganti ku kan?"

Yang lebih muda tergelak, astaga pemikiran Minho benar-benar konyol.

"Tidak ada yang mampu bertahan menghadapi ku selain dirimu Lee. Jadi jangan khawatir—

Jisung menghela nafasnya, tangannya yang sedari tadi mengusap lembut punggung Minho pun berhenti.

—justru seharusnya aku yang bertanya. Apa kau akan melupakanku? Kau pasti akan bertemu dengan seseorang yang jauh lebih baik dariku, jadi kemungkinan aku dilupakan sangat lah besar."

Minho memejamkan kedua matanya, lalu ia mengeratkan pelukannya.

"Kau yang membuatku tetap bertahan Ji, mana mungkin aku melupakan mu?"

Tbc

Sejujurnya aku gak pede sama cerita ini. Hshshsh

-011120-

On Track ; Minsung (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang