7

1.3K 182 41
                                        

Yerim terlihat enggan melepaskan tangannya dari tangan Hyunbin. Ia menyenderkan kepala di lengan Tuan Bae itu. wajahnya terlihat muram. Ia harus kembali ke tempat asalnya untuk melanjutkan sekolah. Woobin maupun Minah tak ada yang mengganggu kedekatan Yerim atau berusaha memisahkannya. Mereka membiarkan Yerim bermanja-manja dengan Hyunbin sebelum benar-benar berpisah. Yejin juga tak banyak bicara. Dengan lengan yang digamit oleh Jisoo, mereka mengikuti langkah Hyunbin yang sudah berjalan lebih dahulu menuju ruang tunggu.

Ketika enam orang di depan berjalan dengan penuh ketenangan, berbeda dengan dua orang di belakang. Pasangan suami istri yang saling acuh, bahkan keduanya melihat-lihat kearah yang berbeda. Bae Joohyun berjalan santai dengan kacamata hitam menutupi matanya. Kopernya dibawakan oleh asisten sementara Seokjin berjalan di sebelah Joohyun dengan membawa kopernya sendiri. Mereka akan berangkat ke Maldives untuk berbulan madu seperti yang diinginkan oleh Tuan Bae.

"Hey," panggil Joohyun pada Seokjin yang tak membuat pria itu menoleh. Tapi Joohyun tau jika Seokjin mendengarkan. "Kita sudah dipesankan penginapan. Kalaupun satu kamar, aku tak akan mau tidur satu ranjang denganmu."

Seokjin menghentikan langkahnya. Ia menoleh kepada Joohyun. "Haruskah itu dibahas sekarang?"

"Seokjin, Joohyun," panggil Yejin. Wanita itu dan Jisoo berhenti. Nampaknya Yejin mencium aroma-aroma percikan api yang akan membawa mereka ke pertengkaran yang lebih hebat.

"Iya ma," Seokjin mengangguk ke mertuanya. Seperti kode jika ia akan menahan diri.

"Yerim akan segera berangkat. Singkirkan ego kalian."

Yejin berbalik setelah mengatakan itu. Ia meninggalkan Joohyun dan Seokjin yang hanya bisa terdiam.

"Ayo kak," ajak Jisoo lalu menyusul calon mertuanya.

Setelah itu, Seokjin memilih berjalan lebih dahulu meninggalkan Joohyun seorang diri. Wanita itu hanya bisa bergumam kesal.

.

Tidak perlu menunggu berjam-jam, baik Joohyun dan Seokjin sudah berjalan menaiki pesawat. Mereka fokus pada hidup masing-masing. Joohyun sibuk dengan ponselnya begitu juga dengan Seokjin. Ketika berada di pesawat, keduanya juga demikian. Sembari mencari di bangku mana mereka duduk, keduanya saling diam. Tidak ada sapaan sama sekali.

Hingga, Seokjin sudah duduk di bangku yang memang seharusnya ia duduki. Joohyun datang. Ia berusaha menarik Seokjin untuk pergi menjauh.

"Apa yang kau lakukan?!" kesal Seokjin.

"Aku yang duduk disini. Aku duduk dekat jendela. Kau, minggir."

Seokjin menggelengkan kepala. Ia ingi tenang. Ia tak ingin berdebat. Akan tetapi, si 'nenek sihir' yang satu ini selalu saja bisa mencari celah agar mereka bisa saling berdebat.

"Aku bilang minggir."

"Aku tidak mau. Kalau kau ingin duduk, ya duduk di sebelahku. Jika tidak, berdirilah sampai tiba di Maldives."

Joohyun yang kesal segera berusaha menarik Seokjin. Seokjin juga berusaha mempertahankan diri. Mereka bertingkah seperti sedang bertengkar. Menarik, menahan, mencubit, memukul, sudah dilakukan. Seokjin masih di tempat dan Joohyun mulai kelelahan. Hingga satu tarikan terakhir, Joohyun mencoba kembali namun tubuhnya terjerembab sendiri. Ia terjatuh di pangkuan Seokjin.

"Permisi, nyonya, tuan. Kita akan take off lima menit lagi," seorang pramugari mencoba menegur Joohyun yang kini terlihat duduk 'mesra' di pangkuan Seokjin. Wajah pramugari itu memerah terlihat malu. "Nyonya dan Tuan bisa melanjutkan yang tertunda, akan tetapi, untuk nyonya, silahkan duduk di tempat yang seharusnya," setelah mengatakan hal itu, pramugari cantik tersebut bergegas pergi.

HEARTLESS [JINRENE Ver]√Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang