Selamat membaca💙^_^
Semenjak kejadian kemarin, Lia merasa setiap berpapasan dengan Fahrian laki-laki itu selalu menatapnya sinis. Apakah itu kebetulan atau memang Fahrian tidak suka melihat Lia?
Sungguh rasanya Lia ingin sekali menolak ajakan Dea untuk menemui Fahrian di ruang OSIS. Hah, membayangkannya saja membuat perasaan Lia campur aduk. Antara malas dan lelah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan. Yah, kalian sudah tahu permasalahan tentang proposal itu. Huh, sedikit menyebalkan juga, yah sikapnya.
Lia duduk di salah satu kursi di ruang OSIS. Sekilas Lia menatap Dea yang masih diam seraya memijat pelipisnya sesekali. Ah, Lia jadi kasihan melihat Dea yang tampak sedikit prustasi dengan permasalahan ini.
Ketika jarum panjang di jam dinding menunjukkan tepat ke angka sembilan. Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan. Mendadak suasana di ruang OSIS mencekam begitu Fahrian duduk di kursi yang bersebrangan dengan Lia dan Dea.
"Lo masih mau nuduh gue?" tanya Dea dengan sorot mata menyiratkan rasa kecewa dan benci.
Lia buru-buru mengusap pundak Dea, setidaknya berusaha mengingatkan Dea untuk tidak emosi. Ia melirik ekspresi Fahrian yang lempeng saja kayak triplek.
"Maaf soal tuduhan gue, ternyata yang ngilangin proposalnya itu si Na—"
"Gue gak butuh penjelasan lo! Heran gue sama anggota OSIS angkatan sekarang. Pada belagu semua. Mungkin hanya beberapa orang yang masih punya etika dan sopan santun sama KAKAK KELAS." Dea berucap panjang lebar kali tinggi. Dan sedikit menekankan kata 'kakak kelas'
Fahrian berdiri, lantas menghampiri Dea yang tampak acuh dengan tindakan Fahrian.
Fahrian sedikit berjongkok. "Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Kak atas ucapan dan tindakan saya yang tidak sopan," kata Fahrian lalu mengulurkan tangannya ke depan Dea.
Dea tetap acuh. Lalu menjawab, "Bukan muhrim," ucap Dea masih dengan sorot ketidaksukaannya.
Fahrian menghela nafas pelan. Lalu menarik kembali uluran tangannya. "Sekali lagi saya minta maaf."
Dea berdiri diikuti Lia. "Gue maafin." Setelah mengatakan dua kata tersebut Dea segera menarik tangan Lia untuk keluar dari ruang OSIS.
-------
Sedari tadi Lia duduk gelisah di sofa ruang tamu. Matanya tak berhenti bergulir ke sana ke mari. Ia menghembuskan nafas beberapa kali berusaha tenang. Tapi, nihil bukannya tenang ia justru semakin tegang. Begitu mendengar suara salam dari pintu depan. Lia menoleh dan menjawab salam.
Sesaat Lia merasa pasokan oksigen di rumah ini berkurang saat melihat siapa yang datang.
"Lo ngapain di rumah gue?" tanyanya sarkas tak lupa dengan tatapan setajam silet.
Belum sempat Lia membuka mulut. Bu Mirna datang dengan segelas jus mangga dingin di tangannya. Ia meletakan segelas jus mangga tersebut di atas meja. Setelahnya menatap Fahrian. "Lho, memang kenapa. Tadi kebetulan Bu Aisyah nitip Lia sebentar. Gak apa-apalah."
Tak ada sahutan dari Fahrian. Dia melangkah pergi menaiki anak tangga. Namun, di anak tangga kedua Fahrian berbalik menatap Lia dengan tatapan membunuh.
Lia segera mengalihkan pandangannya.
------
Pukul 16.00 setelah shalat ashar. Lia kembali duduk di sofa ruang tamu. Ia jadi bingung sendiri mau apa di rumah Bu Mirna, sedangkan orang yang punya rumah sedang pergi ke minimarket.
Bosan menunggu. Iseng Lia melangkahkan kakinya menuju area kolam renang. Setidaknya meskipun ia tidak bisa berenang. Mungkin dengan melihat air di sore hari akan sedikit menghilangkan ketegangan ini.
Tapi, sebelum Lia membuka pintu kaca. Sebuah suara membuatnya mengurungkan untuk membuka pintu.
"Meong, meong."
Lia mencari sumber suara tersebut. Ia berjongkok dan menemukan seekor kucing berwarna putih bersih yang sedang bersembunyi di kolong meja. Lia meraih kucing tersebut lantas menggendong dan mengelus-elus bulunya.
Masih menggendong kucing. Lia menggeser pintu kaca dengan sebelah tangannya yang bebas. Namun, pemandangan di kolam renang membuat Lia tersentak. Di sana Fahrian dan seorang perempuan dengan rambut pirang sedang duduk berhimpitan dengan kaki tergantung menyentuh air kolam.
Lia tidak suka melihat pemandangan ini. Ia hendak berbalik tapi kucing putih yang digendongnya tiba-tiba meloncat dan berlari menghampiri Fahrian.
"Woy! Jauh-jauh lo!" teriak Fahrian dengan wajah yang sudah pucat pasi.
"Hus hus."
Fahrian langsung berdiri berusaha menghindari kucing putih yang terus mengejarnya. Melihat itu Lia sedikit menahan tawa.
Byur!
Tanpa diduga Fahrian terpeleset dan jatuh ke kolam. Lia ingin membantu tapi tidak bisa. Sebab, ia tidak bisa berenang juga.
Beberapa menit kemudian Fahrian sudah duduk ditepi kolam dengan pakaian yang basah kuyup. Perempuan berambut pirang itu menghampiri Fahrian. "Fahrian aku minta putus!"
Lia menutup mulutnya sedikit terkejut dengan ucapan perempuan itu.
"Apa?" tanya Fahrian kebingungan.
"KITA PUTUS!" tegas perempuan itu sekali lagi.
"Tapi kenapa?"
"Lo udah tahu jawabannya. Gue gak suka cowok penakut macam lo, masa sama kucing takut."
Perempuan itu berdiri lantas pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan Fahrian. Dan Lia juga buru-buru pergi dari rumah Fahrian dengan ekspresi menahan tawa sekaligus merasa kasian juga dengan Fahrian.
^_^
Jumat, 9 Oktober 2020
Revisi : 21/04/2022
See you next part 😎

KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry and Thanks [TAMAT]
Teen FictionSebenarnya yang punya masalah dengan Fahrian, si Ketos itu Dea, tapi kenapa Amalia juga ikutan terseret dalam masalah tersebut. Bahkan lucunya takdir seolah sengaja merancang pertemuan keduanya. Amalia tak mau terlibat masalah dengan Fahrian, tapi...