Selamat membaca 💙
^_^
Suara ketukan pintu membuat Lia terbangun dari tidurnya. Ia ketiduran saat sedang mengerjakan soal untuk persiapan UN di meja belajar. Segera saja ia berjalan ke arah pintu kamar, dan membukanya.
"Ada Fahrian tuh," kata Bu Aisyah membuat Lia buru-buru mencari kerudung bergo dan memakainya.
Bu Aisyah sudah pergi. Lia dengan langkah pelan berjalan menuju ruang tamu. Ketika sampai di sana, tatapannya sempat beradu dengan Fahrian. Tapi, sedetik kemudian ia memalingkan wajah dan langsung duduk di sofa yang bersebrangan dengan Fahrian.
"Ada apa datang kemari?" tanya Lia membuka pembicaraan.
"Kira-kira hari minggu lo ada waktu luang gak?"
Kening Lia sempat berkerut mendengar pertanyaan itu. Pasalnya pertanyaan yang terlontar sekarang seperti bukan keluar dari bibir Fahrian. Bukankah laki-laki di depannya ini sangat tak suka dengannya?
"Pagi?"
Fahrian mengangguk.
"Kalau pagi sih ada waktu luang."
"Ouh iya, kalau gitu gue balik, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tunggu! Jadi Fahrian datang kemari hanya untuk menanyakannya sibuk tidak hari minggu. Kepala Lia berspekulasi macam-macam mengenai sikap Fahrian yang menurutnya aneh. Dia sakitkah?
_____
Minggu pagi, Lia terbangun setelah ketukan pintu yang cukup keras. Ia bangun dan menyibak selimut, selanjutnya matanya tak sengaja menatap jam dinding di kamar.
"Astaghfirullah." Lia buru-buru turun dari kasur, baru ingat sebentar lagi waktunya kerja kelompok.
Inilah akibatnya sesudah sholat subuh tadi Lia kembali bergelung dengan selimut. Setelah siap dan perlengkapan untuk belajar kelompok. Ia menghampiri ibunya yang sedang membereskan dua piring di meja makan.
"Ada tamu?" tanya Lia heran melihat dua buah piring yang sedang dibereskan sang ibu
Bu Aisyah hanya tersenyum.
Lia duduk, lalu mengambil nasi goreng yang tersisa setengah mangkuk besar lagi. Belum sempat ia menyuapkan nasi, seseorang yang baru saja keluar dari dapur membuatnya terkejut.
Dia tersenyum, lalu duduk di kursi yang tepat bersebrangan dengan Lia. "Baru bangun?"
Saking kagetnya, Lia hanya mampu menganggukan kepala patah-patah.
"Ada apa kemari?" tanya Lia disela makan.
"Gue lupa bilang pas sabtu. Niatnya gue mau ngajak lo ke taman komplek."
Sumpah demi apapun Lia hampir saja menyemburkan makanan yang sedang dikunyahnya. Apa dia bercanda? Setahunya Fahrian paling tak suka dengan kehadirannya. Tapi, kenapa sekarang sikapnya aneh?
Lia melirik arloji yang ada di tangan. "Hari ini?"
Fahrian mengangguk.
"Emh, kita cuma punya waktu sekitar dua puluh lima menit lagi. Soalnya, aku mau kerja kelompok," beritahu Lia dengan rasa tak enak.
"Oke."
Perjalanan dari rumah ke taman komplek membutuhkan waktu sekitar sepuluh menitan jika jalan kaki. Dan setelah sampai di taman, lima menit berlalu dengan kebisingan anak kecil yang sedang bermain.
"Ada apa?"
Waktunya tinggal sepuluh menit lagi. Jadi, tidak bisa berlama-lama untuk tetap berdiam diri di sini tanpa sesuatu hal penting.
"Gue mau bilang makasih buat semua nasehat lo dan maaf karena sikap gue yang hampir nyelakain lo."
Lia terdiam sesaat berusaha mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan Fahrian. Kemudian ia lebih memilih mengalihkan pandangan ke arah anak-anak yang bermain kejar-kejaran di sekitar taman. "Aku udah maafin dan soal nasehat itu ... sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk saling tolong menolong."
"Apa ada laki-laki yang kamu suka?"
Kedua sudut bibir Lia melengkung sesaat. "Ada."
Walau Lia sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Fahrian. Namun, sebisa mungkin ia bersikap biasa saja. Pembahasannya kali ini sedikit melenceng jauh dari topik utama. Entah, kenapa ia merasa ada sesuatu hal yang ingin disampaikan Fahrian kepadanya.
"Aku pamit duluan, assalamualaikum," kata Lia akhirnya untuk mengakhiri obrolan singkat pagi ini.
Belum genap tiga langkah Lia berjalan, Fahrian memanggilnya. Lia berbalik.
"Jika laki-laki yang lo suka gak menerima, masih ada satu orang yang menunggu."
Debar hebat dalam hati ini memang tak bisa dielakkan lagi. Hanya saja tak seharusnya Lia menyimpan harapan pada satu laki-laki yang bahkan tidak tahu akan rasa ini. Ia diambang kebingungan.
^_^
Kamis, 22 Oktober 2020
Revisi : 28/04/2022
Yang nunggu? Masih pada penasaran gak nih?
Adakah yang paham maksud ucapan Fahrian? Hm🤔
Terimakasih buat para pembaca yang sudah membaca cerita ini😁
See you next part 😎
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry and Thanks (TAMAT)
RomanceSebenarnya yang punya masalah dengan Fahrian, si Ketos itu Dea, tapi kenapa Amalia juga ikutan terseret dalam masalah tersebut. Bahkan lucunya takdir seolah sengaja merancang pertemuan keduanya. Amalia tak mau terlibat masalah dengan Fahrian, tapi...
