7. (Masalah)

376 35 0
                                        


Selamat membaca 💙

^_^

Hari Senin, seharusnya Lia sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Tapi, karena Bu Reta, guru Bahasa Indonesia menyuruhnya untuk membantu mengoreksi ulangan harian minggu kemarin. Jadilah Lia terpaksa pulang sore sekali.

Pukul 17.06 Lia selesai membantu mengoreksi hasil ulangan, bukan cuma satu kelas tapi banyak. Ia mengelap keringatnya yang bercucuran. "Sudah, Bu."

"Oh, iya. Terimakasih, yah, Lia sudah mau membantu ibu," kata Bu Reta dengan senyuman setelah merapikan tumpukan kertas ulangan.

"Kalau begitu saya pamit pulang, Bu. Assalamualaikum," pamit Lia sembari mencium punggung tangan Bu Reta.

"Waalaikumsalam."

Lia akhirnya keluar juga dari kantor. Perasaannya jadi lega setelah selesai mengerjakan perintah Bu Reta tadi. Ia berjalan santai menyusuri koridor sekolah yang sepi. Menikmati angin yang berhembus membuat kerudungnya sedikit berkibar.

Di belokan menuju arah gerbang depan Lia tak sengaja menabrak seorang cewek hingga barangnya jatuh. "Aku minta maaf."

Lia segera membantunya. Cewek itu menatap Lia dengan tatapan sinis. "Maaf? Setelah lo ngerusak proposal gue? Ini mau gue serahin ke Fahrian! Cape-cape gue revisi kalau akhirnya bakal kayak gini," sembur cewek tersebut.

"Mau aku bantu? Sekali lagi maaf."

Cewek tersebut menghela nafas kasar. Lantas bergumam yang masih terdengar oleh Lia. "Haduh ... gawat, nih kalau si Fahrian tahu proposalnya basah dan rusak. Bisa kelar gue."

"Aku bisa bantu bicara sama Fahrian," usul Lia membuat cewek tersebut menoleh.

"Yaudah, tuh proposalnya ambil! Dan bilang sama Fahrian kalau lo yang udah ngerusak proposalnya. Gue balik!" Cewek tersebut memberikan proposalnya kasar, lantas berbalik, dan berlalu pergi.

Lia menepuk jidatnya. Kenapa baru kepikiran sekarang? Mampus! Harusnya tadi ia lebih hati-hati. Bisa gawat kalau  Fahrian tahu. Tapi, mau bagaimana pun Lia harus tetap bertanggung jawab.

Ruang OSIS sudah ada di depan mata. Hanya tinggal menunggu kakinya ini melangkah. Tapi, rasanya sangat sulit. Tanpa sadar Lia meremas proposal itu. Setelah menghela napas, ia melangkah memasuki ruang OSIS.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, masuk Din."

Meski ragu Lia tetap melangkahkan kakinya pelan menghadap Fahrian yang sibuk menatap layar laptop. Laki-laki itu mengangsurkan tangannya. "Mana proposalnya. Gue mau cepet-cepet selesain ini dan minta tanda tangan kepsek."

Karena lama tak ada respon Fahrian mendongak. "Lo ngapain disini?!"

"A-aku mau minta maaf sebelumnya," kata Lia sedikit terbata.

Fahrian mengernyitkan dahi heran. "Apa? Coba langsung keintinya aja."

"Aku minta maaf udah gak sengaja ngerusak proposalnya. Tadi aku nabrak cew-"

"Stop!" Fahrian memijat keningnya.

"Gue gak mau tahu pokoknya proposal itu harus jadi besok! Kalau gak, gue bakal laporin ini ke kepsek," ucapnya penuh penekanan.

"Oke." Satu kata yang bagi Lia sangat berat untuk diucapkan.

___

Semalaman Lia termenung di depan laptop. Sesekali melirik proposal yang sudah tak berbentuk akibat remasan dan tulisannya luntur karena terkena air.

"Kamu ngapain, Lia? Tumbenan ngerjain tugas sampe pusing gitu." Ibu duduk di tepi kasur.

"Bu, gimana dong? Aku gak bisa buat proposal dan parahnya besok harus diserahin," aku menjatuhkan diriku dikasur menatap langit-langit kamar.

"Kenapa gak minta bantuan temen."

"Ah iya ya, 'kan Dea sekertaris OSIS pasti dia bisa." Lia segera menghubungi Dea.

____

Masalah proposal itu sudah selesai. Dan saatnya bersantai ria dikarenakan tanggal merah. Tapi, kesenangan itu berakhir begitu Ibu Aisyah menyuruh Lia untuk memberikan kue ke rumah Bu Mirna. Dia itu mamanya Fahrian. Malas juga kalau harus bertemu si kerempeng. Tapi Lia tak bisa membantah perintah sang ibu.

"Assalamualaikum."

Tak lama pintu rumah terbuka. Dan yang membuat Lia shock adalah karena  yang membuka pintu bukan Bu Mirna melainkan si kerempeng Fahrian. "Waalaikumsalam."

"Mana ibu kamu?"

"Emang kenapa?" Fahrian bersandar di sisi pintu sembari menatap Lia dari atas sampai bawah. Membuat Lia sedikit tak nyaman.

"Kue dari ibuku." Lia menyerahkan sekantung plastik berisi kue. Fahrian menerimanya.

"Yaudah masuk aja, mama ada di dapur," ucap Fahrian.

Setelah dipersilakan masuk, Lia baru sadar sikap Fahrian kok kayak bunglon yah. Berubah-ubah. Ah, masa bodo lah!

"Tante," panggil Lia.

"Eh, Lia! Sini, Nak bantu Tante sebentar, yah." Bu Mirna nampak sibuk dengan adonan kue yang baru saja di mixer.

Lia menghampiri Bu Mirna. "Ibu juga kebetulan buat kue. Tadi kuenya aku kasih ke Fahrian," ucapku sedikit basa-basi.

"Yaudah gak apa-apa. Tante juga lagi bereksperimen nyoba buat brownies dari macam-macam buah dan sayur." Bu Mirna menuangkan adonan kue yang sudah jadi ke dalam loyang.

Tanpa sadar Lia tersenyum. "Wah, kayaknya seru, Tan."

"Yaudah bantu tante aja kalau gitu. Itu ada satu adonan lagi yang belum di mixer," tunjuk Bu Mirna.

Lia mengangguk semangat.

Tak terasa lebih tiga setengah jam Lia berkutat dengan alat dapur, membantu Bu Mirna bereksperimen membuat brownies. Rasanya antara senang, seru dan sangat menantang.


^_^

Sabtu, 10 Oktober 2020
Revisi : 22/04/2022
See you next part 😎

Sorry and Thanks (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang