3. (Kecaman)

631 48 9
                                        


Selamat membaca 💙

^_^

Lia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamar. Nampak jelas ia yang sudah siap dengan seragam batik bawahan rok putih dan kerudung putih. Sejenak  aktivitasnya terhenti saat mendengar suara pintu kamar di buka.

"Jangan ngaca mulu deh! Cepet sarapan, nanti kesiangan," teriak Aliya—kakak sepupunya yang juga tinggal serumah dengan Lia dikarenakan Tante Andin dan Om Jaya sedang tugas keluar kota.

"Iyah, sebentar," sahut Lia sembari membenarkan letak kerudungnya yang terasa kurang rapi.

Aliya membuka pintu kamar lebar. "Cepetan elah! Udah jam 06. 25 ini."

Tak mau membuat Aliya semakin marah, Lia bergegas mengambil tasnya yang terletak di tepi kasur. Lantas sedikit berlari kecil keluar dari kamar melewati Aliya yang masih berdiri di ambang pintu.

____

"Dea, kamu kenapa?" tanya Lia setelah mendudukkan diri di kursi. Ia merasa Dea sedang tidak dalam keadaan  baik-baik  saja.

Dea sempat menoleh dengan tatapan yang bahkan sukses membuat Lia terdiam di tempat. Lia mengalihkan pandangannya enggan menatap Dea. Sepertinya ia jangan ikut campur dulu urusan Dea jika tidak mau jadi sasaran kemarahannya.

Namun, tanpa diduga Dea menarik tangan Lia keluar kelas. Beruntungnya Lia bisa menyeimbangkan tubuh dan kakinya secara bersamaan.

Langkah Dea terhenti di depan ruang OSIS. Ia masuk duluan diikuti Lia. Heran, tentu saja. Sebenarnya ada masalah apa Dea dengan OSIS?

"Lo bisa gak, sih gak nuduh orang sembarangan!" Dea menunjuk Fahrian yang sedang fokus pada laptopnya.

Lia menghampiri Dea sambil mengusap bahunya pelan. "Sabar, De. Jangan marah dulu. Coba rundingin aja baik-baik."

Fahrian yang sedang fokus pada laptop itu berdiri. Tatapan menghakimi dan sorot tajam matanya tertuju pada Dea. "Jangan bohong! Gue tahu lo yang udah ngambil proposal buat pengajuan penggalangan dana. Iya kan?! Ck, munafik!" sentak Fahrian dengan nada merendahkan.

"Lo sebagai ketua OSIS gak bisa, yah nyelesain masalah dengan kepala dingin? Gue emang mantan sekretaris OSIS dan masih sering keluar masuk ruang OSIS. Tapi, bukan berarti lo bisa nuduh orang sembarangan!" teriak Dea dengan tatapan benci.

Tak mau lebih dalam lagi mencampuri urusan Dea. Lia bergegas tarik tangan Dea cepat. "Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

____

"Apa sih Lia!" amuk Dea masih dengan tatapan benci yang belum hilang.

"Duduk!" perintah Lia.

Dea mengikuti perkataan Lia. Setelahnya Lia duduk di samping Dea. Ia mencoba untuk menasihati. "Coba tenang dulu," kata Lia.

"Kalau aja Fahrian gak nuduh gue. Gak bakalan gue semarah ini," jelas Dea dengan suara kembali normal tanpa adanya bentakan dan nada tinggi.

"Aku tahu, coba dibicarain dulu."

Dea hanya mengangguk sebagai jawaban.

____

Istirahat pertama Lia terpaksa pergi sendiri ke kantin. Jika saja perutnya bisa dikompromi mungkin Lia tidak akan ke kantin. Sayangnya, memang dasar perutnya minta diisi mau tak mau Lia harus ke kantin. Meskipun tak bersama Dea. Tahu sendirilah pasti karena masalah tadi pagi.

"Jadi, ini temannya si Dea munafik itu," celetuk Fahrian dengan nada merendahkan.

Lia mendengar celetukan Fahrian yang kurang mengenakkan. Namun, ia berusaha mengabaikannya. Toh, tidak berguna juga jika meladeninya. Jadi, Lia tetap melangkah melewati Fahrian.

Baru beberapa langkah Lia melewatinya, tiba-tiba dari samping Fahrian mencekal pergelangan tangan Lia kuat.  Lia menepis kasar tangan Fahrian. Mendadak wajahnya pucat pasi. Namun, beberapa detik kemudian wajahnya kembali normal. Ia lantas menelungkupkan tangan di depan dada.

"Maaf, ada perlu apa?" tanya Lia sopan.

"Si munafik itu kemana?!" tanya Fahrian dengan nada tinggi.

"Maaf, siapa?"

"Dea!"

"Ada di kelas. Memang kenapa?"

"Bukan urusan lo!" sentaknya lantas berbalik. Namun, belum juga genap dua langkah Lia berjalan. Fahrian kembali menghampiri Lia.

"Gak usah sok munafik lo!" kecamnya.

Dahi Lia mengkerut dalam. "Maksudnya?"

"Jangan sok alim. Kalau nyatanya enggak. Dasar munafik!" bentaknya dengan sorot mata meremehkan.

Lia mengangkat kepala. Tanpa memandangnya ia menjawab, "Aku emang gak sealim itu. Aku masih memperbaiki diri."

"Kebanyakan orang kayak lo itu munafik!!" sentak Fahrian sembari menunjuk ke arah Lia dengan emosi.

"Maaf, assalamualaikum."

Dengan langkah cepat segera meninggalkan tempat tadi. Ia hanya tak mau membuat masalah di sekolah. Juga aku tak mau menanggapi seseorang yang sedang dalam keadaan emosi.

Dalam hati Lia lafalkan istighfar beberapa kali. Apa tadi termasuk ujian untuk menguji keistiqomahan?

^_^

Kamis, 8 Oktober 2020
Revisi : 20/04/2022

Yeah udah update!
Semoga suka😁
Maaf pendek

See you🍁

Sorry and Thanks (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang