Abraham sudah stay di depan rumah menunggu Anjani pulang, apa yang dilakukan gadis itu sampai pulang sekolah lama sekali
Dan tak berselang lama yang ditunggu pun datang, berjalan masuk ke gerbang rumah. Tak lupa dengan kepalanya terus menunduk kalau tau Abraham ada "Kenapa kamu kabur, kan aku sudah bilang pulang bareng" Ucap Abraham marah, seperti memarahi istrinya yang terlambat pulang saja
"Saya kan sudah bilang gak mau pulang bareng"
Abraham menelan salivanya "Yah udah kamu masuk, Aku udah lapar. Aku mau kamu yang siapkan makanan" Ucap Abraham, tapi ia tau pasti didalam sudah ada makanan yang dimasak Bi Sasi tapi untuk saat ini Abraham entah kenapa merasa nyaman didekat Anjani, meski baru mengenal nya
Anjani tetap berdiri tak kunjung masuk. Karena jika ia masuk bisa saja bahunya bertabrakan dengan bahu Abraham mana pintu terbuka hanya satu "Kenapa gak masuk?" Tanya Abraham
"Kamu masuk duluan, saya akan jalan di belakang" Jawab Anjani
"Kamu memang suka yah jalan dibelakang aku seperti.." Ucap Abraham lalu berhenti ia ingin mengatakan seperti mengikuti imam hidup saja. Setelah itu Abraham masuk duluan diikuti Anjani dari belakang sedikit jauh
Sampai di meja makan Anjani melihat makanan masih banyak "Makanan sudah ada apa yang saya harus masak?"
Abraham menarik dua kursi satu untuk ia duduki dan satu untuk Anjani "Kamu temani aku makan ajah"
"Saya makannya sebentar saja"
"Oke aku juga makannya bentar ajah sampe kamu mau makan"
Anjani menghela nafas pasrah, mengapa Abraham ini keras kepala sekali terlalu memaksa. Sebelum duduk Anjani melihat sekeliling rumah, sepi. Ahhh baiklah dengan berat hati Anjani duduk tapi tidak di kursi yang Abraham tarik untuknya melainkan Anjani duduk sedikit jauh dari Abraham
Abraham menata gerak gerik Anjani, Aneh duduk saja tidak ingin berdekatan semua tidak mau. Jalan bersebelahan, di pegang yang ada ditepis, di ajak pulang malah nolak
"Ini" Abraham memberikan piringnya ke Anjani agar mengambilkan nya nasi
Anjani mengambil piring itu, mengisinya dengan nasi lalu mengembalikan ke Abraham "Berasa punya istri" Umpat Abraham lalu mengambil ayam goreng
"Maksud kamu?" Tanya Anjani, apa hanya mengambil kan sepiring nasi sudah dianggap istri, ada ada ajah Abraham
"Oh.. maksud aku, kita udah kaya suami-istri. Cuman duduknya gak deket, memangnya kamu kenapa gak mau dekat dekat sama aku, ilfil yah?"
"Karena kamu bukan mahram saya" Jawab Anjani
"Ohh, kayanya aku harus jadi mahram kamu deh. Biar gak jauh jauh"
Anjani hanya diam sambil mengunyah, mendengarkan celotehan Abraham yang tak henti, selalu bertanya dan Anjani hanya membalas dengan anggukan jika iya dan gelengan jika tidak
Selesai makan Abraham melarang untuk Anjani pergi dari meja makan
"Kamu kan kerja disini, jadi kamu harus tau makanan dan apa yang aku sukai"
Anjani mengangguk lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang ada di belakangnya "Itu buat apa?" Tanya Abraham
"Buat saya tulis"
Abraham mengangguk, yang ia sukai baru baru ini hanya satu "Oke, catat. Aku suka makanan pedas, aku juga gak minum kopi tapi suka susu, dan gak suka dengan makanan yang berhubungan dengan kacang tapi berhubung dengan sayuran"
Anjani menulis kesukaan Abraham seperti ini
List kesukaan Abraham :
1- Makanan pedas
2- Susu
3- Sayuran
4-
Anjani berdiri "Yah sudah saya mau ke kamar dulu" Pamit Anjani
"Ehh tunggu! Yang terakhir tapi gak usah di catat kamu gak bakal lupa"
Anjani tatap memegang buku dan pulpen itu, siap untuk menulis
"Belakangan ini aku jadi suka sama...KAMU!" Ucap Abraham menekan kata kamu. Tapi Abraham ragu dengan ucapannya entah benar benar suka atau mungkin suka ajah
Respon yang Anjani berikan hanya menunduk dalam tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya setelah itu Anjani pergi dengan pikiran Abraham mengapa menyukainya padahal Anjani tidak pernah menggodanya bahkan berniat saja tidak, dan yang harus Anjani lakukan hanyalah menjauhi Abraham
Dimalam harinya seperti biasa Anjani selalu berbincang dengan Adila dan Aneska di depan tv dan begitu juga dengan Abraham yang duduk tak jauh dari mereka hanya untuk melihat wajah Anjani
"Ayah" panggil Abraham ke Aksa yang sibuk dengan laptopnya dan hanya deheman yang Abraham dapatkan
"Dulu gimana jalan cerita Ayah bisa nikah sama Bunda?" Tanya Abraham dengan tatapan matanya hanya fokus ke satu gadis-Anjani
"Ayah dulu gak pacaran sama Bunda, kita mulai semua setelah menikah ayah juga pernah ada dititik terendah saat Bundamu kecelakaan" Curhat Aksa. Ini baru pertama kali ia katakan kepada putranya soal kisah cinta mereka
"Terus bagiamana Bunda sama Ayah nikah kalau gak ada kata saling menyukai?" Tanya Abraham lagi
"Dulu Ayah hanya diberikan foto Bundamu, dan yah ayah setuju. Tapi Ayah kira hari pertama pernikahan Bundamu sudah cinta dengan ayah sama seperti ayah tapi tidak"
Abraham terdiam berusaha memahami jalan cerita percintaan orang tuanya "Aku lagi suka sama cewe, tapi masih bimbang"
Aksa tertawa "Masih kecil udah suka suka ajah kamu" Lalu mengusap rambut putranya
"Astaga, aku udah gede gini juga"
"Memangnya siapa perempuan itu?" Tanya Aksa
Abraham seketika menunjuk Anjani "Fatim" Umpat Abraham
Aksa menutup laptopnya "Mending kamu perbaiki sikap dan perilaku, baru cari cara buat dapatkan Anjani. Ayah rasa kamu bakal susah dapatkan dia"
Benih benih cinta Abraham udah mulai tumbuh niih, semoga Anjani makin sabar ngehadapin Abraham:')
Tapi tetap yah, gak boleh pacaran!.
Lebih baik tuhh...
Kalem ajah
Tau taunya nyebar undangan
Kan seru😁
KAMU SEDANG MEMBACA
ABRAHAM [SELESAI]
Random❝Kelak kamu akan mengerti disayangi Abraham itu menyenangkan.❞ ❝Ya Allah, jangan kau takutkan hatiku kepada sesuatu yang tidak ditakdirkan menjadi milikku.❞ Ini cinta Abraham. Mencintai gadis tertutup adalah hal paling sulit untuk seorang Abraham Ya...
![ABRAHAM [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/243425186-64-k299740.jpg)