Janganlah emosi, janganlah menyerah jangan juga terlalu berpasrah. Kamu hanya perlu selalu berusaha. Tanpa pernah mengeluh tentang akhirnya...
•••
Anjani sampai di depan rumah keluarga Adila, ternyata jika memilih berjalan kaki lebih jauh dari pada menaiki kendaraan
Dengan pelan Anjani membuka pintu rumah itu "Assalamu'alaikum" Lalu mengucapkan salam tapi tak ada yang membalasnya rumah juga tampak sepih
Setelah masuk Anjani menutup pintu dan berjalan "Wa'alaikumussalam" seseorang yang menjawab salam Anjani
Sontak Anjani berbalik dan orang itu juga wajahnya ini menjadi kali kedua Anjani melihat wajah itu. Wajah yang baru beberapa jam yang lalu ia tatap 3 detik saat di mushola
Anjani terdiam, jangan jangan pemuda yang bernama Abraham itu mengikutinya sampai masuk kedalam rumah Abila. Abraham mendekati Anjani "Stop! Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Anjani
"Ini rumah orang tuaku, memang aku gak boleh ada disini?"
"Ma-maskudnya?"
Abraham menghela nafas lalu membuka jaket denimnya karena merasa gerah "Aku seorang anak dari pemilik rumah ini dan kamu kenapa bisa datang kesini, ikutin aku yah?"
"Tidak"
Abraham tersenyum, ia ulurkan tangannya untuk berkenalan "Abraham panggil ajah Bram kalau boleh sayang juga gak apa apa"
Bukannya saat di mushola Anjani sudah mengatakan namanya mengapa pemuda itu harus menanyakan lagi. Dan apa katanya sayang? Memangnya dia siapa
Plak~
Tangan Abraham di tepuk keras "Sayang.. sayang! Abang dari mana ajah!" Sentak Aneska yang ternyata sedari tadi melihat mereka berdua dari jauh
Abraham memutar bola matanya dan terhenti menatap Aneska "Nginap dirumah Ali!"
"Iya, terus minum alkohol kan? Awas yah aku tanya bunda!"
"Siapa yang minum?"
"Aku punya bukti, Instagram Kak Laras! Disitu aku liat jelas Abang lagi minum. Emang bener bener yah bandel gak bisa dibilangin!" Aneska marah, sangat marah. Ia seorang adik tapi seperti kakak untuk Abangnya
"Udah ahh!" Kesal Abraham
"Permisi saya pergi dulu" Ucap Anjani, sebaiknya ia memang pergi dari pada hanya mendengar perdebatan saudara ini
"Ehh.. tunggu" Abraham menarik tas Anjani "Aku belum tau kenapa kamu disini?" Lanjutnya
"Anjani cucunya Bi Sasi, cantikkan?" Jawab Aneska
"Iya cantik" Umpat Abraham tak sadar
Dan yang di puji itu tambah menunduk bukan malu, tapi tidak ingin jika Abraham melihat wajahnya
"Ihhh Abang katanya aku yang paling cantik kok Kak Anjani sih?" Celetuk Aneska
"Kan lebih baik jujur, dari pada boong seumur hidup" Ujar Abraham sembari memberikan kode ke Aneska agar meninggalkannya berdua dengan Anjani
"Kita ketemu lagi" Abraham tersenyum lebar
Anjani teridam ingin sekali ia masuk kedalam kamarnya, dan yang bisa ia lakukan saat ini hanya mengelupas kulit jarinya dengan jari lainnya seperti biasa "Saya, ingin masuk ke kamar. Kalau tidak ada apa apa lagi"
"Aku bisa nyuruh kamu?" Tanya Abraham yang dibalas anggukan "Aku mau susu tapi gak usah terlalu manis, aku tunggu di sofa"
Anjani mengangguk paham lalu berbalik "Ehh, gelasnya yang warna putih panjang itu"
Dan Anjani berjalan, minum susu saja harus menentukan gelas mana yang akan ia pakai
Anjani mengambil susu di kulkas lalu menuangkan ke dalam gelas putih panjang, sebelum memberikan ke Abraham ia menyimpan tasnya terlebih dahulu di depan kamarnya
Lalu berjalan menghampiri pemuda itu, nampak santai duduk sambil bermain ponsel. Anjani meletakkan segelas susu itu di atas meja
"Makasih" Ujar Abraham lalu meminum susu itu dengan cepat sebelum Anjani pergi "Ini gelasnya"
Anjani dibuat melongo, baru saja ia taruh segelas susu itu sudah habis. Anjani mengambil gelas dari tangan Abraham dan sepertinya Abraham tak sengajah menyentuh tangan Anjani sehingga Anjani sontak melepas gelas itu. Gelas itu jatuh, pecah "Kenapa?" Tanya Abraham
"Astagfirullah, maaf" Anjani melangkah mundur
Abraham berdiri lalu menatap wajah Anjani yang menunduk "Kamu gak apa apa?"
"Iya" Jawab Anjani sambil mengangguk
"Kamu kaget karena aku?" Tanya Abraham lagi di gabung dengan senyuman, entah senyum apa
"Tidak"
"Terus? Oh.. kamu salting dekat aku?" Cengir Abraham sembari mendekati Anjani "Akh!" Ringis Abraham kerena menginjak pecahan gelas kaca itu. Dan Abraham lupa ia hanya memakai kaos kaki
Anjani langsung berlari dan Abraham duduk untuk membuka kaos kakinya "Kenapa dia lari, takut sama aku?"
Dan yang Abraham tak sangka gadis itu kembali membawa kotak obat. Anjani taruh kotak obat itu di atas meja "Kamu gak mau obatin kaki aku?" Tanya Abraham yang dibalas anggukan
Baiklah, Abraham sendiri yang akan mengobati lukanya sedangkan Anjani masih tetap berdiri lima langkah dari harapan Abraham sambil menunduk dalam "Besok kamu kesekolah bareng aku"
"Makasih saya bisa berangkat sendiri"
"Gak apa apa, entar kita naik mobil di antar supir gak naik motor"
"Tidak usah"
"Aku gak suka ditolak"
Sedangkan Anjani tak suka dipaksa...
KAMU SEDANG MEMBACA
ABRAHAM [SELESAI]
Random❝Kelak kamu akan mengerti disayangi Abraham itu menyenangkan.❞ ❝Ya Allah, jangan kau takutkan hatiku kepada sesuatu yang tidak ditakdirkan menjadi milikku.❞ Ini cinta Abraham. Mencintai gadis tertutup adalah hal paling sulit untuk seorang Abraham Ya...
![ABRAHAM [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/243425186-64-k299740.jpg)