Berdiri di sisi jembatan sungai sembari menikmati setiap angin yang menenangkan hatinya. Semua tamparan keras dalam hidupnya terasa ringan walau dengan terpaan angin pada wajahnya.
Tetap berusaha menahan tangisnya walau di tempat sunyi. Berusaha melupakan kepedihan yang ia dapat tetapi semua itu terus berputar di kepalanya.
Akhirnya hujan datang, hal yang paling di tunggu akhirnya datang juga. Air hujan dan air mata bersamaan membasahi wajah jeongwoo. Air mata yang ditahan akhirnya bisa ia keluarkan juga. Menangis di tengah hujan dengan hanya menutup mata memang paling bisa membuat hati tenang. Bahkan sekarang hujan menjadi sahabat yang paling mengerti apa keinginan jeongwoo.
Berdiri sendiri, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya. Tapi tunggu- kenapa hujannya berhenti? Padahal suara gemuruh hujan masih terdengar. Jeongwoo mengusap wajahnya dan membuka matanya.
"Haruto?"
Yaa haruto berdiri di samping jeongwoo dan membawa payung.
"Woo, kamu ngapain disini? Ayo pulang" Ajak haruto.
"Aku suka hujan haru. Nanti juga aku pulang, kamu duluan aja" Jeongwoo senyum.
"Woo, ayo cerita"
"Hah cerita? Aku gapapa haru."
"Yaudah yu masuk ke mobil" Haruto narik jeongwoo ke mobil yang haruto bawa.
"Haruto lo bawa mobil sih? Kan kamu masih di bawah umur"
"Kamu bawa obat apa woo?" Tanya haruto heran.
"Oh ini obat vitamin. Aku suka tiba tiba lemes"
"Hmmmm yakin gamau cerita?"
"Aku gapapa haru, kenapa kamu nanya gitu terus?"
"Hmmm yaudah mungkin kamu belum bisa terbuka, sekarang kita pulang"
Haruto mengantarkan jeongwoo sampai depan rumahnya.
Jeongwoo basah kuyup jadi dia meminta bantuan supirnya untuk mengambilkan baju di kamarnya, jeongwoo akan ganti baju di kamar mandi pembantu.
Tapi saat jeongwoo menerima baju dari supirnya tadi, ayahnya datang dari dalam rumah.
"Loh jeongwoo? Kamu kenapa basah kuyup begini?. Ayo cepat keringkan badanmu atau nanti kamu akan sakit"
"Tidak apa apa ayah, baiklah" Jeongwoo tersenyum lalu pergi untuk mengganti pakaiannya.
Ayahnya menunggu jeongwoo.
"Ayah ngapain disitu?" Tanya jeongwoo setelah melihat ayahnya diam di depan kamar mandi.
"Menunggumu, ayo kita masuk" Ajak ayah jeongwoo, dan ayahnya mengajak jeongwoo ke ruang keluarga.
Jeongwoo bingung kenapa di tempat ini gelap sekali?.
'Ceklek'
"HAPPY BIRTHDAY PARK JEONGWOO!!" Seruu keluarga ayahnya yang membawa kue dan ruangan yang terlihat lucu di dekorasi.
Yaa ayahnya meminta bantuan sepupu jeongwoo dari ayahnya. Berniat membuat jeongwoo senang karena sangat jarang bisa memiliki waktu untuk membahagiakan jeongwoo.
"Tiup lilinnya jeongwoo!" Kata sepupunya.
Jeongwoo tersenyum. Lalu meniupnya.
Tapi-
"Ibu dan junghwan mana yah?" Tanya jeongwoo pada ayahnya.
"Ibu dan junghwan ke acara arisan dulu katanya"
Jeongwoo tersenyum. Jeongwoo tau ibunya berbohong, setiap ulang tahun jeongwo Ibunya tidak pernah hadir bahkan tidak pernah menampakan batang hidungnya itu.
"Hmmmm terimakasih ayah" Jeongwoo tersenyum.
"Tetap jadi jeongwoo anak ayah yang ayah banggakan ya nak, tetap jadi jeongwoo yang kuat dan semoga apa yang kamu inginkan segera tercapai" Ucap ayahnya lalu memeluk jeongwoo.
Jeongwoo mengangguk dan tersenyum.
Setelah semuanya selesai jeongwoo segera pergi ke kamarnya, tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada semua yang telah menyiapkan kejutan ini.
Sekarang jeongwoo sedang menulis diary hariannya. Tapi tidak lama ayahnya datang ke kamar.
'Tok tok tok'
"Masuk"
"Eh ayah? Ada apa?" Tanya jeongwoo bingung.
"Tidak, apa kamu baik baik saja?."
"Apa maksud ayah? Jelas aku baik baik saja" Jawab jeongwoo sambil senyum dengan menunjukkan giginya yang menjadi senyuman favorit ayahnya.
"Anak ayah lucu sekali. Ohiya ada kabar baik jeongwoo. Ayah sudah tidak akan pergi ke luar kota lagi untuk bekerja, karena sekarang ayah lebih dibutuhkan. Jadi mungkin mereka akan datang kesini jika ingin bekerja sama"
"Wah benarkah?!" Tanya jeongwoo antusias.
"Iya, jadi kamu tidak akan merasa kesepian lagi jeongwoo" Kata ayahnya sambil mengusap puncuk kepala jeongwoo.
"Hmmm Terimakasih ayah" Jeongwoo memeluk ayahnya yang entah kenapa sepertinya ayah jeongwoo tau perasaan jeongwoo selama ini. Seakan akan tau semuanya, dan mampu membuat jeongwoo menjadi lebih baik.
Bukankah tadi jeongwoo sedang bersedih? Tapi hari ini ayahnya mampu membuatnya bahagia lagi. Ini adalah hadiah terindah bagi jeongwoo. Tapi- bagaimana jika ayah tau kalau ibu jeongwoo sering memarahinya. Jeongwoo takut ibunya di marahi ayahnya karena bersikap tidak adil padanya.
"Woo?" Ayahnya tiba tiba memanggil jeongwoo.
Jeongwoo mendongkak.
"Ini obat apa?" Tanya ayah jeongwoo saat melihat obat di meja belajar jeongwoo.
"Oo-ooh itu vitamin, belakangan ini aku sering merasa lemas" Jawab jeongwoo gugup.
"Ah benarkah? Apa kita perlu ke rumah sakit untuk memeriksanya? Ayo kita ke rumah sakit sekarang" Ajak ayah jeongwoo.
"Tii-tidak ayah, ini juga obat resep dari rumah sakit. Tadi jeongwoo dari rumah sakit"
"Kamu ke rumah sakit sendirian?"
Jeongwoo mengangguk.
"Maafkan ayah" Ayahnya terlihat menyesal
"Eehh tidak. Aku baik baik saja, jangan terlalu mengkhawatirkan jeongwoo"
"Baiklah, istirahat yang cukup. Besok kita pergi ke sekolah bersama, selamat tidur jeongwoo Malaikat kecilku" Ucap ayah jeongwoo lalu pergi.
Jeongwoo meneteskan air matanya lagi. Bisakah jeongwoo menarik permintaannya pada Tuhan agar dia dirindukan? Rasanya berat jika jeongwoo harus pergi meninggalkan sang ayah yang begitu menyanyinya tanpa mengingat kesalahan besar yang telah jeongwoo buat.
"Ah mengapa aku begitu lemah, Mengapa air mata ini terus keluar" Jeongwoo berbicara sendiri.
°Mi2910.
KAMU SEDANG MEMBACA
Klandestin' || Hajeongwoo (End)
Fiksi PenggemarSelamat datang dalam cerita kehidupanku yang menarik. Aku akan menceritakannya setitik saja, jika kau ingin mendengarnya lebih banyak maka kau harus mati dan menjadi temanku. °251020.
