satu

160 26 10
                                        

Awal
.
.
.

" Agas " panggil seseorang dari kejauhan.

Merasa namanya terpanggil, remaja yang tengah duduk meminum segelas soda itu menoleh mencari asal suara. Dari kejauhan, terlihat seorang pemuda berjaket datang ke arah remaja itu. Tau jika ada yang mendekatinya, Agas meletakkan gelas soda yang ia pegang dan menoleh ke arah pemuda itu.

" ngga balik lo? inget besok sekolah " ucapnya pelan sambil memegang bahu Agas.

Mata Agas terlihat sangat sayu, wajahnya terlihat sangat lelah. Agas menunjuk salah satu pemuda di sebelahnya yang sudah lebih dulu terlelap dalam tidurnya.

" ngeliat Teo tidur kayak ngga ada beban " ujarnya acuh.

Vigar sudah terbiasa dengan kelakuan temannya itu. Menghabiskan waktu di basecamp hanya sekedar melamun. Ah ralat, sepertinya bukan melamun, melainkan meratapi kemalangan hidupnya.

Vigar terdiam sejenak, menatap teman-temannya yang sudah tertidur. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, lalu melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Sudah cukup larut bagi seorang pelajar apalagi sampai berganti hari. Mau tidak mau ia harus membawa mereka pulang.

~~¤~~

Langit pagi berubah perlahan menjadi terang. Burung burung bernyanyi kecil di balik udara dingin yang berubah menjadi hangat. Pagi yang cukup tenang untuk mulai melakukan aktivitas.

Waktu menunjukkan pukul 07.30, saatnya melakukan upacara bendera pada senin pagi. Semua siswa sudah berkumpul di lapangan dengan pakaian yang lengkap. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Agas, bad boy tapi pintar. Ia dan gengnya sama saja, bad boy tapi pintar.

Agas berjalan sambil menggendong tas di bahu kanannya. Ia berjalan dengan santai menuju gerbang sekolah yang sudah tertutup. Dari kejauhan ia melihat 2 gadis yang tengah berdiri di depan gerbang dan ikut telat bersamanya. 2 gadis itu terlihat gelisah sepertinya anak rajin dan tidak pernah telat. Ia lalu berjalan dengan santai ke arah gerbang.

" minggir! " ucapnya lantang.

Kedua gadis itu langsung menoleh. Terlihat salah satu gadis menatapnya agak lama. Gadis yang satunya hanya menatapnya sebentar.



Tanpa memperdulikan kedua gadis itu, Agas masuk dengan memanjat gerbang sekolah yang tinggi dengan lihai seakan sudah terbiasa memanjatnya. Satu lagi tambahan, tidak memikirkan akibat yang akan ia terima.

Kedua gadis itu hanya menatapnya memanjat dan terdiam seperti patung. Tak lama setelah Agas memanjat gerbang, satpam membuka gerbang untuk mereka berdua. Beruntung mereka masih dibukakan gerbang, kalau tidak mereka harus pulang tanpa menimba ilmu.

" ayok cepet! upacaranya baru mulai beberapa menit yang lalu" ucap satpam itu.

" Pak, tadi ada yang manjat gerbang kan? " tanyanya.

" daritadi saya disini ngga liat siapa siapa selain kalian "

Kedua gadis itu mengerutkan alisnya bingung, lewat mana Agas? kok bisa ngga ketahuan?
.
.
.

AREGAS [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang