Hujan tiba-tiba turun menerpa Agas dan Senja yang tengah dalam perjalanan menuju rumah Senja.
Karena rumah Senja lebih jauh daripada rumah Agas, alhasil mereka sekarang berada di rumah Agas.
"Nih" Pemuda itu menyodorkan handuk yang langsung diterima oleh Senja.
"Baju lo basah, mending lo ganti pake baju kakak gue. Pilih aja di lemarinya" ucapnya sembari mengeringkan rambutnya. Mereka berada di lantai 2.
"Nggak lah, kalo hujannya reda langsung anterin gue pulang aja. Btw katanya lo tinggal sendiri?" Tanya gadis itu dengan mendekap handuk.
"Dulu, sekarang lo liat kan gue tinggal sama siapa?"
Gadis itu mengangguk, ia memang tadi bertemu dengan Lana mama tiri Agas.
"Agaaas!"
Keduanya menoleh, segera melongok ke bawah bersamaan. Seperti biasa Sinta pulang dengan meneriaki nama Agas, entah apa maunya.
Agas lalu turun ke bawah diikuti Senja.
"Eh, Senja? Kok disini?" Tanya Sinta setelah melihat Senja yang berdiri di belakang Agas.
"Hehe, tadi itu....kehujanan" jawabnya tersenyum takut.
Sinta terdiam. Di tangannya sudah ada satu plastik mie pedas kesukaannya dan beberapa kotak susu.
"Nginep sini ya?"
Senja terdiam. Sinta memintanya untuk menginap? Bagaimana dengan orangtua Agas?
"kita mukbang mie bareng-bareng" ucap Sinta.
Agas mengernyit, "Kok mie? Kenapa nggak gofood aja?"
"setuju!" Teriak gadis berseragam sekolah yang basah itu.
Agas mengerjab beberapa kali terkejut dengan semangat gadis di sampingnya itu.
"Sekarang kamu ganti baju dulu, pake baju kakak aja"
Gadis itu mengangguk tanpa banyak protes. Agas menatapnya sengit, giliran Sinta yang menawarkan langsung diterima.
Sinta terkekeh pelan sembari menatap wajah kesal Agas yang jarang ia lihat, terutama senyum yang Agas tunjukkan beberapa hari terakhir semenjak bertemu Senja.
Adiknya itu, sedikit berbeda.
.
.
.
Agas menatap dua perempuan di hadapannya yang tengah berlomba memakan mie pedas. Sambil meminum susu kotak ia memperhatikannya.
"Gas! Lempar satu susunya!" Titah sang kakak.
Pemuda itu memberikan satu kotak susu dengan wajah datarnya. Heran.
Oke, mungkin ia akan naik saja ke kamarnya daripada melihat kedua perempuan itu terus makan dan entah kapan berhentinya.
Saat hendak memasuki kamarnya, Lana menghampirinya.
"Agas, makan dulu, mama udah sia-"
"Nggak perlu, aku nggak laper" balasnya, kemudian langsung memasuki kamarnya.
Agas berdiri tepat di belakang pintu. Kesal, entah kenapa setiap bertemu wanita itu emosinya selalu muncul. Ia masih belum bisa menerimanya. Butuh waktu yang lama untuknya menerima semua itu.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pemuda itu kemudian menghidupkan layar ponselnya, memeriksa pesan yang masuk.
From : 081234xxxxxx
|hati-hati, jaga orang-orang
terdekat lo.
Agas mengernyit, ini nomor yang beberapa waktu lalu mengiriminya pesan yang serupa juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREGAS [ON GOING]
Ficção AdolescenteRanendra Aregas. Lahir di keluarga kaya raya nggak membuat gue bangga atau pun bahagia dengan kenyataan itu, tapi banyak orang bilang gue beruntung. Justru gue ingin lahir di keluarga lain, nggak seperti keluarga gue yang sekarang. Orang nggak tau b...
![AREGAS [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/250677669-64-k581980.jpg)