Tiga

76 22 4
                                        

Kemana dia??
.
.
.

Agas memarkirkan ninjanya di tempat biasa, dimana itu merupakan tempat parkir khusus bagi para anggota Perion. Diantara deretan motor yang lain, motornya terlihat paling mencolok dan mahal.

Agas berjalan menaiki tangga menuju kelasnya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, terlihat tulisan besar di atas pintu, 'XII IPA 2'. sambil memegang buku di tangannya, Agas memasuki kelas, menuju tempat duduk Teo. Saat ia masuk semua mata menuju kepadanya dan semua yang berada di dalam kelas mengecilkan suaranya.

" gue traktir pas istirahat " ucapnya kepada Teo sambil meletakkan buku di mejanya.

"okee deall" balas Teo yang langsung paham.

Ya, Teo mengerjakan pr milik Agas. Mereka sepakat untuk melakukan itu jika sama sama menguntungkan.

Agas lalu pergi ke bangku paling belakang dan duduk tenang sembari menggenggam ponsel miliknya.

Memang sudah biasa Agas dan para member lain minta diajarkan oleh Teo. Kecuali Agass, Teo diminta untuk mengerjakan pr-nya dengan sebuah imbalan.

Dari kejauhan, terlihat Vigar tengah berjalan menuju kelas diikuti Rendy dan Ibram. Saat mereka sudah berada di depan kelas, kelas menjadi diam, sang ketua kelas datang.

" kenapa pada diem woy! Sunyi kayak kuburan! Nggak kayak anak ips yang seru-seru " ucap Rendy.

" bacod! "

Rendy dan Ibram saling menatap. Gimana mau ngomong kalo sekali ngomong langsung skakmat?
Tidak semua anak ipa seserius seperti perkiraan orang. Anak IPA juga bisa bercanda.

Jika satu sekolah takut pada guru dengan peraturan yang dibuat, maka itu berlaku juga bagi murid kelas  XII IPA 2 yang wajib mengikuti peraturan yang diberi oleh Perion. Pasalnya, 5 member inti Perion masuk kelas itu dan mereka termasuk yang ditakuti.

" done broo, besok besok beliin gue ps"

" oh mau ps? kalo gitu gantiin gue tiap ujian, langsung gue kasih ps terbaru" ucap Agas.

"mau Gas sumpah, sini gue gantiin lo pas ujian" Kata Rendy.

Teo yang ada di samping Agas langsung  tertawa ngejek "yang ada Agas ngga lulus bjirr"

Rendi malah ikut tertawa. bukan marah, tapi ia lebih mengakui bahwa ia memang tidak sepintar Viral, Agas, dan Teo. Apalagi liat background keluarga Teo, mentalnya udah insecure duluan.

FYI, papa Teo adalah seorang dosen matematika, sedangkan ibunya adalah dosen bahasa Inggris di universitas yang sama. So, pasti ia juga ada keturunan Genius.

Karena latar belakang dan kegeniusannya itu, ia dijuluki sebagai RAJANYA MTK oleh teman sekelasnya. Karena semua yang bersangkutan dengan menghitung sudah diluar kepalanya. Tapi diluar hitung menghitung, terlebih lagi sejarah, sekali lagi SEJARAH, Teo angkat tangan. Berbeda dengan Vigar yang menguasai semua pelajaran.

Sepasang sepatu berwarna pink terlihat dari dalam kelas. Pemakainya adalah seorang perempuan. Dia, Senja Athanasiya berdiri di depan pintu kelas Agas. Semua mata menyorotnya. Gadis itu malangkahkan kakinya masuk ke dalam, dan berdiri membelakangi papan tulis.

" Buat Teo, Agas, Vigar, Rendy, sama Ibram, disuruh ke kantor sekarang "

Agas menoleh ke arah gadis itu, "siapa yang nyuruh? "

" pak Jondan " Balasnya cepat dan langsung pergi begitu saja dari kelas mereka.

"hmm, bau bau surat peringatan kecium banget, ngalahin bangke tikus" gumam Rendy.

AREGAS [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang