"Sunbae!" Teriakan nyaring dari seseorang berhasil menarik perhatian seisi kantin.
Lisa, mahasiswa semester tiga jurusan seni hanya tersenyum manis membalas tatapan mahasiswa lain yang menatapnya aneh. Dengan langkah kecilnya ia mendekati meja yang diduduki satu orang yang bahkan tidak terganggu dengan teriakannya.
"Sunbae, sunbae, sunbae!" Ulang gadis itu berkali-kali setelah berhasil mendudukkan diri di hadapan orang yang disapanya.
"Hm?" Gumam Ten, pemuda yang sedang di tatap Lisa penuh puja itu fokus menyantap hidangan siangnya. Bukan tidak terganggu, hanya saja ia sudah terbiasa dengan sikap Lisa.
"Sunbae, kau sendirian?"
Pemuda itu mengangguk, "Tapi aku sedang menunggu kekasihku." Balas pemuda itu, ia mendongakkan kepalanya tersenyum hangat seperti biasa.
Lisa terdiam beberapa detik, senyuman Ten benar-benar bukan hal baik untuk jantung dan hatinya. Membahayakan. Tapi untuk detik berikut alisnya mengkerut seakan baru tersadar dengan apa yang diucapan Ten.
"Sunbae sudah punya kekasih?"
"Hm, kau tidak tahu?" Jawaban lugas tanpa dosa dari Ten membuat gadis itu mendecih kesal.
Lisa mengatakan meskipun ia menyukai dan mengejar Ten, bukan berarti ia stalker yang mencari informasi seperti seorang psikopat. Gadis itu juga dengan yakin mengatakan kalau status Ten saat ini tidak akan membuatnya menyerah, toh ia tinggal menunggu mereka putus. Semudah itu.
Ten yang mendengar itu dibuat takjub dengan pikiran Lisa, ia bahkan menggelengkan kepalanya pelan. Berdebat dengan Lisa bukan pilihan yang bagus untuk saat ini.
"Kau ini..." pemuda itu berdecak sebal.
"...lagi pula kita kan bisa berteman seperti yang lainnya," tambahnya ketika cola yang ditegaknya berhasil melewati kerongkongan.
Lisa mengibaskan tangannya, ia dengan cepat menolak ide Ten barusan. Gadis itu sudah punya Bambam, pemuda sok tampan dari jurusan musik yang sudah berteman dengannya sejak jaman sekolah menengah. Ia tidak butuh tambahan teman, yang lebih ia butuhkan saat ini adalah seorang kekasih.
"Oppa, sudah lama? Maaf aku terlambat..." suara manis seorang gadis menyapa inderan pendengaran mereka.
Lisa menoleh mendapati seorang gadis cantik yang sedang menatap Ten dengan wajah tersipu. Melihat itu rasanya Lisa ingin menumpahkan sekaleng cola tepat di atas kepala gadis yang ia yakini sebagai kekasih Ten itu.
"Loh? Lisa?" Suara gadis itu kembali terdengar membuat Lisa yang sedang mengalihkan pandangannya kembali menoleh.
Lisa mengeryit, wajah gadis yang kini sudah duduk bersebelahan dengan Ten terasa tidak asing diingatannya.
"Ah, Sorn kan?" Tebak Lisa ketika ia mengingat gadis itu. Sorn, salah satu mahasiswa di jurusannya dan beberapa kali berada di mata kuliah yang sama dengannya.
Sorn mengangguk, masih dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia sempat berbasa-basi sebentar dengan Lisa yang hanya dibalas dengan jawaban seadanya.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Ten setelah tadi ia sibuk dengan ponselnya. Pemuda itu tersenyum lembut menatap Sorn. Jujur saja itu membuat Lisa mendengus kesal.
"Kami sempat beberapa kali berada di kelas yang sama," itu Sorn yang menjawab, Lisa lebih memilih diam memperhatikan sepasang kekasih di hadapannya.
Hatinya memanas saat tangan Ten terulur dan membenahi anakan rambut Sorn yang sempat terurai, ia benar-benar jengah dihadapkan dengan adegan manis barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOOM
Fiksi PenggemarBLOOM merupakan kumpulan one shot/double shot dengan karakter utama Ten dan Lisa tetapi dengan latar dan karakter yang berbeda disetiap cerita. Berisi tentang kisah cinta, entah cinta monyet, cinta sepihak, cinta mati, cinta rahasia, cinta basi dan...
