Bloom

839 119 4
                                        

Siang itu tidak begitu terik seperti biasanya, kampus masih ramai dengan mahasiswa yang berlalu lalang di koridor dan taman kampus. Ada yang baru akan memulai kelas, yang baru selesai kelas atau hanya sekedar berkunjung ke kampus. Seperti Lisa, hari ini kelasnya kosong tapi gadis itu berada di kampus untuk mengerjakan tugasnya. Gadis berambut pendek jurusan hukum itu memilih duduk di bangku taman fakultasnya dari pada harus berada dikeramaian kantin. Ia hanya sendiri dan lebih merasa nyaman seperti itu. Dengan kacamata yang bertengger di hidungnya dan juga MacBook yang terbuka di depannya, Lisa terlihat serius mengerjakan tugas sampai-sampai tidak menyadari ada seseorang yang mendekat.

"Kau semakin cantik jika sedang serius begitu," ucap seorang pria yang saat ini sudah mendudukkan dirinya di depan Lisa.

Pandangan Lisa teralihkan, dengan sebelah alis yang terangkat ia sekilas melirik untuk memastikan pria siapa yang mengganggunya. Tidak butuh waktu lama untuk Lisa mendengus ketika mengenali pria dihadapannya.

"Pergilah..."

Pria itu, Ten- hanya tertawa pelan menanggapi usiran halus dari gadis cantik yang kembali fokus dengan tugasnya.

"Aku lebih tua darimu, panggil aku Oppa..." Protes pria itu, Ten merupakan senior Lisa di kampus. Dan satu fakultas hukum pun tau bagaimana gigihnya Ten mengejar cinta Lisa.

"In your dream, Sunbae..." tolak Lisa tanpa berpikir dua kali.

"Augh, dasar gadis menyebalkan..." kesal Ten yang masih menatap Lisa. Entahlah, Lisa seakan memiliki magnet yang mampu membuatnya tertarik dan sulit untuk melepaskan diri.

"Bukannya kau ada kuliah? Kenapa kau di sini?" Tambah Lisa, berusaha mengusir pria itu lagi, ia masih terus menarikan jari-jarinya di atas keyboard tanpa mau repot-repot menatap lawan bicaranya.

"Apa diam-diam kau mengetahui semua jadwal kuliahku?"

Gadis itu mendesis, Ten memang bukan tipe orang yang gampang diusir secara halus.

"Kenapa kau membenciku?" Pertanyaan Ten selanjutnya membuat Lisa menghentikan tarian jarinya, ia menatap Ten yang sedang menatapnya secara intens.

Lisa menghembuskan nafasnya pelan, "I'm not,"

"Yes you are,"

Gadis itu mendadak pening, ia bahkan melepaskan kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya pelan.

"Look, aku tidak membencimu. Hanya saja, aku tidak merasa nyaman berada di dekatmu. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian, Ten. Kau dan kepopuleranmu itu," jelas Lisa, kali ini ia berbicara dengan menatap lurus pada lawan bicaranya.

Seolah mengabaikan penjelasan Lisa, pria itu melipat kedua tangannya dan menjadikannya tumpuan di meja. Ia bahkan memajukan badannya sehingga kali ini jarak mereka hanya dipisahkan Macbook milik Lisa.

Seakan tidak mau kalah, Lisa juga melakukan hal yang sama pada Ten. Mereka seakan sedang bersiap untuk berperang dan mengabaikan fakta kalau mereka bisa saja mengundang perhatian mahasiswa lain.

"Kenapa kau tidak menerima perasaanku?" Ten memulai perdebatan kecil itu.

"Dan kenapa aku harus menerima perasaanmu?" Balas Lisa santai, ia tidak ingin kalah.

"Karena aku tampan dan kaya," Ten menunjukkan wajah angkuhnya, ia memiliki segudang rasa percaya diri untuk yang satu ini.

"Karena kau tampan dan kaya, makanya aku menolakmu." Dengan mudah Lisa mengalahkan pria itu, Ten terlihat kesal dengan menarik badannya menjauh dan kembali duduk pada posisi semula.

"Penolakan macam apa itu?" Protes Ten, ia terlihat tidak terima dengan jawaban Lisa. Oh, ayolah... bahkan para gadis seantero kampus memilih dirinya sebagai kandidat yang paling ingin dijadikan kekasih.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 21 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BLOOMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang