Ang | 07

33 3 0
                                        


Tarik nafas, part ini mengandung banyak sekali bumbu dapur.

Jangan lupa,, menjadi pembaca yang baik.
Salam hangat dari aku.
Selamat malam Minggu untuk kamu.

.....................





















Saat ini, apa aku sedang merindukan orang yang dulu pernah aku genggam namun sekarang sudah terlepas.







Gadis mengajak Casandra ke kantin fakultas Teknik untuk bertemu temannya. Setelah dosen benar, benar pergi dari kelas.

Di perjalan wajah Casandra memang sudah sangat muram, bagaimana tidak jika menemukan orang yang dulu sangat peduli, sekarang sudah dingin bagai orang asing. Padahal dulu pernah mempunyai perasaan yang sama dan saling menyayangi.

"Sa Lo tunggu di sini dulu ya, gue mau mesen makanan." Ujar Gadis lalu meninggalkan Casandra di tempat duduk kantin pojok sendirian.

Casandra manaruh kepalanya di meja dengan tangan sebagai penyangga kepalanya. Pikirannya saat kacau, tak berujung. Lebih tak logis, pikirannya saat ini tentang pria bernama Angkara.

"Sa! Sa! Sa! Sa!"

Seseorang memanggil namanya sambil menepuk pundaknya sedikit keras.

"Apasih Dis!! Ganggu tau!" Amara Casandra memuncak, namun saat mengangkat kepala menatap siapa yang memanggil, ternyata Casandra salah orang.

"Gue Sesil njir, di panggil Bu Caca di perpustakan Lo. Sekarang!!" Ujar wanita yang memakai poni di rambutnya, wanita di depan adalah teman organsiasi seni yang Casandra ikuti juga.

"Emang darurat banget ya Sel? Gue capek banget nih," keluh Casandra.

"Darurat lah, yakali Bu Caca manggil Lo ketua Organisasi Seni gak penting!!"

Sesil yang sudah duduk di depan Casandra terus saja memaksa agar segera menemui Bu Caca di perpustakaan.

"Sel, gue mau menghilang hari ini aja ya. Pliisss, bantuin Lo kan sekretaris Sel."

Permohonan Casandra tidak di acuhkan oleh Sesil.

"Denger ya Bu ketum, bu Caca manggil Lo bukan gue. Udah gih sana, entar gue lagi yang kena amukannya"

Bernafas berat.

Tangan Casandra memperbaiki tali sepatunya, menatap sinis ke arah Sesil yang tersenyum tengil gara-gara sudah berhasil menjalankan misi juga menganggung ketenangan Casandra.

Dapat beberapa langkah Sesil memanggil Casandra dengan nada terkegut.

"Sa! Sejak kapan muka Lo butek gitu? Hampir sama kek got depan rumah gue."

Mendengar perkataan Sesil, yang awalnya Casandra ingin berbalik tidak jadi dan langsung mempercepat langkah kakinya. Bukan marah tetapi memang benar adanya muka Casandra saat ini seperti gembel, semua ini gara gara Angkara.

Gadis datang duduk di meja yang di duduki Casandra tadi dengan nampan berisi dua mangkuk Bakso dan satu es teh juga es coklat.

ANGKARA | OngoingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang