Ang | 24

9 1 0
                                    






Setelah beberapa kejadian yang diperbuat Aldo itu, Casandra memilih untuk mempunyai supir pribadi yang dapat menjemputnya tepat waktu atau tidak, mungkin dirinya akan mengendarai motor sendiri menuju sekolah.

Berdiskusi saat makan malam, bersama orang tuanya. Akhirnya keesokkan harinya Casandra benar-benar mempunyai supir pribadi seperti permintaan. Ayahnya pun setuju, juga agar sedikit mengurangi uang yang Casandra keluarkan untuk memesan taxi online. Mamanya sama sekali tidak mengijinkan Casandra untuk kemana-mana sendiri tanpa didampingi sampai dirinya sebesar sekarang.

Casandra turun dari mobil, mengucapnya terima kasih kepada pak Supardi. Supir antar jemputnya yang sudah bekerja satu bulan lalu, semenjak kejadian itu. 

Melewati beberapa kelas, sambil memperhatikan beberapa orang yang sudah mempunyai pasangan. Benarkah? ini masih wilayah sekolah, bukannya sangat tidak dianjurkan?

atau dirinya yang iri?

Baru saja melihat beberapa anak yang berpacaran disekolah, dari arah berbeda menuju kelasnya. Dirinya melihat Angkara dan Ila yang sedang berjalan sambil bercengkrama, pemandangan yang sudah biasa dilihat setiap paginya.

Casandra mulai mempercepat jalannya, sudah tidak ingin pagi-pagi membuat moodnya tidak baik. Ia harus mempersiapkan untuk ujian yang sudah akan dilaksanakan minggu depan, untuk bisa mendapat nilai yang baik juga menaiki kelas akhir dalam sekolah derajat SMA ini.

Sampai dikelas, Casandra duduk di bangku biasanya. Membuka buku pelajarannya, saat ingin membaca dirinya dikejutkan oleh Ila yang menyapa dengan senyuman.

"pagi San,"

"pagi juga La"

Tidak sama dengan Ila, Angkara malah berlalu tanpa menyapa. Tidak usah berharap menyapa, melihat ke arah Casandra saja tidak sama sekali. Setelah mengantar ke rumah tempo hari itu, sudah tidak ada percakapan atau sekedar berbicara antara dirinya dan Angkara.

Entah Angkara menjauhi atau memang, semua yang sudah terjadi tidak menimbulkan apapun bagi Angkara?

Jadi, harusnya dirinya dalam bahaya dulu. Baru Angkara peduli dan menganggap dirinya sebagai pacarnya dulu?

harusnya seperti itu dulu?

sangat susah, mendapatkan perhatian dari Angkara bukan!

Beberapa teman kelas, sudah memasuki kelas lalu duduk di tempat duduknya masing-masing. Dua menit berlalu, berulah bel masuk tanda pembelajaran akan dimulai. Wali kelas mereka datang masuk dengan.

Seorang laki-laki yang memakai seragam dari sekolah lain, ikut bersama wali kelas memasuki kelas.

Ila menyenggol sikut tangan Angkara.

"kenapa La?" tanya Angkara

Ila menunjukkan ke depan kelas, seorang anak laki-laki yang sedang berdiri di depan kelas. 

Dari seragamnya pun Angkara sudah sangat faham, bahwa anak laki-laki dari sekolah lain, yang akan pindah ke sekolah ini. Lebih tepatnya di kelasnya.

Sebentar apakah Ila menyukai laki-laki itu pada saat pandangan pertama?

Sebelum Angkara menanyakan itu, wali kelas. Kelasnya memberi perintah semua anak yang ada di kelas diam.

"Ini anak baru yang akan pindah di kelas ini. Perkenalkan nama kamu" titah Bu Esya sang wali kelas kepada anak laki-laki itu.

"Dikta Ananta Pratama"

"Dikta duduk sebelah bangku kosong bersebelahan dengan Ila ya. Anak-anak diam, sebentar lagi Bu reta akan datang dan mulai memberikan kisi-kisi tentang ulangan tengah semester. Jadi tetap kondusif, setelah saya keluar."

ANGKARA | OngoingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang