bagian ke dua sejarah terbentuknya geng Angkara bernama
melanjutkan part kemarin, bukan melanjutkan kisah yang telah berlalu hehe
eh baru sadar gue jomblo:( hehe selamat malam minggu!!!!!
salam kenal Angkara, selamat datang , lo masuk ke dalam dunia gue.
- bragas
membalas pesan Ila dengan memberitahukan kondisi saat ini dengan sedikit kebohongan, supaya tidak membuat Ila berpikir yang macam-macam.
salah satu bodyguard ayahnya menghampiri Ang, membawa beberapa salinan baju juga membawa makanan. Angkara mengambilnya dan pergi menuju toilet untuk menganti seragamnya dengan kaos. Saat berada di cermin Angkara berpikir, apakah seseorang dalam pantulan ini akan bahagia? apakah kisah bahagia juga akan mengahmpiri hidupnya?
"sejauh mana gue harus berjalan untuk mengapai kebahagian? apa salah kalau gue berharap bahagia?" ujar Angkara.
detik berikutnya dirinya keluar dari toilet membuang seragamnya yang ia kenakan tadi, kembali pada tempat semula lalu dokter yang menangani laki-laki tadi keluar dari ruang gawat darurat. menutup pintunya kembali, mencari siapa yang akan bertanggung jawab juga membericakan luka-luka laki-laki itu.
"keluarga? kamu adiknya?" tanya dokter kepada Angkara.
"iya dok" jawab Angkara, awalnya dia ragu tetapi berhubung tidak ada siapa, juga Angkara tidak tahu keluarganya, maka dirinyalah yang mengaku-ngakui. Setelah itu Ang langsung diarahnya menuju ruang kerja dokter, untuk membicarakan apa yang laki-laki itu alami.
beberapa menit berada di dalam ruang kerja dokter, keluar dan menutup pintu. Angkara sedikit bingung akan identitas laki-laki, sedangkan tadi dokter membicaran penyakit yang ia sendiri tidak faham. Memberitahu juga ponsel dan dompet laki-laki tadi ada di sebalah meja ranjang laki-laki itu.
Angkara masuk ke dalam kamar inap laki-laki itu yang sudah di pindah ke ruang vvip perintah ayahnya. Mulai mencari ponsel dan dompet laki-laki itu, ternyata benar ada di meja. Mencoba menghidupkan ponsel laki-laki itu, ternyata masih berfungsi memunculkan lookscreen bergambar tong sampah. Untung saja tidak di kunci atau memakai kata sandi, memudahkan Angkara mencari informasi.
Angkara memilih melihat isi kontak laki-laki itu, satu nama yang muncul di pikiran Angkara untuk mencari nama kontak itu ada atau tidaknya. Ternyata ada, berpikir ia kakan langsung menelpon atau besok saja. Terlihat juga jam sudah menunjukkan 00.56 tapi ini dalam keadaan genting juga serius. Keluarga laki-laki yang Ang tolong harus menerima kabar terkait anaknya yang sedang berada di rumah sakit.
"Hallo" ujar Angkara saat telpon tersambung.
"Kakak kemana aja kak? Mama nunggu kaka kok gak pulang-pulang? kaka dimana?" beribu pertanyaan muncul di seberang telpon.
"Kak Braga? Kenapa gak jawab mama?" suara rendah dan cemas karena tidak kunjung di jawab terdengar dari suara orang tua laki-laki di sebrang sana, membuat Ang sedikit memikirkan kata yang pas untuk di katakan.
"Hallo tante" jawaban dari Angkara.
"ini siapa ya? kok ponsel anak saya ada di kamu?" suara dari sebrang lebih ke tingkat kecemasan tinggi.
"Saya Angkara tante, yang menemukan anak tante di semak-semak belakang sekolah saya dengan berlumuran darah dan sekarang ada di rumah sakit ruang ugd nomor 782 " ujar Angkara dengan satu tarikan nafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKARA | Ongoing
Romancesemua tidak akan bertahan lama. jika tidak sebab usia, sebab perubahan manusia. yang akan ada sampai akhir. adalah diri sendiri. -Angkara- ... © Imas Udhatur Rohmah Di mohon untuk plagiat!!! Jangan mendekat🥺 Karena saya sulit, untuk menulis ini🤍 D...
