Chapter 22

2 1 0
                                        

              Hari ini adalah hari rabu, hari kerja untuk pekerja dan hari sekolah untuk pelajar. Pada hari-hari seperti ini, Retro's Coffee akan sepi pengunjung dan mulai ramai ketika jam empat sore, jam pulang sekolah hingga malam hari. Maka dari itu, Sekala dan Genta memakan makan siangnya dengan damai di salah satu meja di coffeeshop ini. Genta membeli rice box dari salah satu resto makanan cepat saji terkenal di Indonesia untuk makan siang hari ini. Kalau urusan makanan, Sekala tidak masalah dengan apapun karena seleranya mengikuti dengan apa yang ada, sementara Genta sangat cerewet dengan makanan. Selera makannya setiap hari berubah-ubah, sesuai suasana hatinya. Seperti hari ini, suasana hatinya sedang bagus dan ia melewati gerai resto makanan cepat saji itu ketika pergi bekerja tadi pagi, jadi ia ingin memakan makanan resto tersebut. Maka dari itu, Sekala memberikan sepenuhnya menu makan siangnya pada Genta.

              Siapa yang membayarnya?

              Tentu saja Retro's Coffee.

              Sepupu Genta itu terlalu baik. Ia memberi gaji bulanan, tidak termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam yang telah disediakan lima puluh ribu tiap harinya. Selain itu, jika penjualan perbulan bagus, ia tidak segan-segan memberi bonus pada Sekala dan Genta. Jika Sekala dan Genta hendak menikmati menu-menu dari Retro's Coffee, sepupu Genta sangat merelakannya tanpa menerima biaya apapun alias gratis. Sepupu Genta benar-benar mempercayakan Retro's Coffee sepenuhnya pada Genta dan Sekala.

              "Liatin hape terus. Nunggu chat siapa, sih?" tanya Genta yang telah selesai makan.

              Sekala bergegas memakan makan siangnya kembali dan berpaling dari ponselnya karena kepergok dengan Genta, membuat laki-laki itu menggeleng kepalanya. Jarang sekali melihat Sekala seperti itu, salah tingkah.

              "Btw, Jingga udah lama nggak ke sini, tumben."

              Sekala memanggut tanpa disadari dan melirik ponselnya yang tidak memiliki notifikasi dari gadis itu. Beberapa hari ini, ia menunggu pesan dari Jingga, sesuai pesan gadis itu sebelumnya yang mengatakan akan memberinya sesuatu. Namun, saat ini, Jingga tidak menghubunginya, entah itu menelepon atau mengirim pesan. Sekala tahu, Jingga sedang sibuk saat ini. Tetapi, entah kenapa, ia sangat tidak sabar untuk sesuatu yang akan diberikan Jingga padanya. Sepertinya, sesuatu itu sangat spesial karena Jingga yang begitu merahasiakannya.

              "Ah, iya," ujar Genta, teringat sesuatu. "Kemarin, aku ketemu Elsa."

              Melihat tatapan penuh tanda tanya dari Sekala, dengan cepat Genta berbicara lagi. "Bukannya aku nggak mau ngajak kamu, tapi aku ke sananya malam, sekitar jam 11. Ngga tahu kenapa, kangen aja kali, ya?"

              Sekala menghela napas, paham. Ah, sudah lama Sekala tidak menemui gadis itu. Ia sangat sibuk beberapa bulan terakhir sehingga tidak bisa meluangkan dirinya untuk bertemu Elsa. Elsa, nama panjangnya Elsa Xaviera adalah sahabat Sekala dan Genta. Karena sesuatu hal, sudah lama mereka bertiga tidak berkumpul dan bermain seperti biasa. Gadis periang yang selalu mengikutinya kemana-mana itu, kini sedang tidak bisa menggunakan kaki kecilnya. Pemilik senyum yang paling cerah di dunia itu, kini sedang tidak bisa menunjukkannya.

              "Aku akan menemuinya akhir pekan ini," ucap Sekala pelan, "Kurasa, aku juga kangen sama Elsa."

              Genta mengangguk karena ia pun merasa demikian.

              Mereka sangat merindukan peri kecil yang hilang di antara mereka.

*****

Dandelion dan AnginTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang