Chapter 07

12 3 0
                                        

Angkasa mengajak Jingga makan malam di meja untuk hari ini. Jingga hanya menurutinya. Lagipula, hari ini Ayahnya ada di rumah, setelah dinas ke luar kota selama seminggu. Itung-itung, kumpul-kumpul dengan keluarganya, setelah lama tidak seperti itu. Jingga sering mengurung diri di kamar dan keluarganya sudah memahaminya. Oleh karena itu, melihat Jingga menuju meja makan, Ibu tersenyum cerah.

                Sedangkan Ayahnya, memasang ekspresi biasa saja.

                "Ayo dimakan." ucap Ibu.

                Jingga mengambil piringnya dan mengambil nasi dan lauk pauk. Hari ini, lauknya adalah ikan bakar dan capcay, makanan kesukaan Jingga. Namun, Jingga sedang tidak selera, sehingga ia hanya mengambil porsi sedikit.

                "Gimana belajarnya, Jingga?" tanya Ayah, disela-sela makan.

                "Begitulah."

                "Begitulah apanya? Masih ada yang tidak paham?"

                Jingga berdehem. "Masih ada beberapa soal yang belum bisa kupecahkan."

                Jingga melirik Ayahnya yang tengah memotong ikan bakar. Tiba-tiba rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya, takut Ayahnya marah karena jawabannya barusan.

                "Kamu sudah belajar hampir dua tahun, loh Ji. Soalnya itu-itu aja lagi. Kenapa masih ada soal yang membuatmu sulit?" tanya Ayah dingin.

                Dingin, membuat Jingga tidak mampu melahap makanannya lagi.

                Angkasa memandang Jingga dengan kasihan. "Nanti Angkasa ajarin, Yah."

                "Kamu itu lagi koas, Angkasa. Fokus saja pada pendidikanmu," ujar Ayah. "Nanti Ayah panggil guru les untuk Jingga."

                Jingga hanya bisa menunduk. Memanggil guru les menandakan bahwa Ayah meragukan kemampuannya sendiri. Itu artinya, Ayah mulai tidak percaya kalau Jingga tidak bisa masuk ke kedokteran karena kemampuannya. Hal itu membuat Jingga tidak percaya diri.

                "Jingga ada teman yang bisa bantu, Yah," ucap Jingga, memberanikan diri untuk berbicara. "Dia adalah mahasiswi di kedokteran UNPAD."

                Sebenarnya, lagi-lagi, ucapan Jingga barusan adalah sebuah dusta. Sekali lagi, Jingga tidak memiliki teman hingga saat ini. Namun, Jingga terpaksa karena ia tidak ingin ada guru les. Dengan adanya guru les yang kemungkinan hampir setiap hari akan datang ke rumah dan mengajarinya, ia tidak akan bisa melukis dengan bebas. Mungkin, Jingga akan ditekan untuk belajar terus-menerus tanpa henti dan membuatnya tidak bisa melukis. Jingga tidak akan bisa seperti itu.

                Melukis adalah separuh jiwanya. Mimpinya.

                "Kalau begitu, terserah kamu."

                Ucapan Ayah barusan, membuat Jingga bersyukur. Walau tahu bahwa berbohong itu tidak benar, tetapi Jingga terpaksa melakukannya untuk dirinya sendiri. Sudah cukup berjuta-juta kali ia melawan dirinya sendiri. Jingga hanya ingin menyenangkan dirinya melalui lukisan. Seperti orang-orang yang bermain sepak bola karena suka, walau takdir mengatakan bahwa ia harus menjadi pegawai. Seperti penulis yang membuat novel-novel untuk mencurahkan perasaannya, walau dikehidupan nyata, ia bekerja sebagai guru. Walau semua orang membenci Jingga karena ia suka melukis, setidaknya Jingga ingin, ia mencintai dirinya sendiri karena suka melukis. Walau semua makhluk di dunia ini memandangnya pendosa karena ia terlalu banyak membohongi keluarganya karena mimpinya, Jingga harap, ia akan menerima dirinya sendiri.

                Jingga hanya berharap, ia mencintai dirinya sendiri, terlepas semua orang mencintainya atau tidak.

                "Bagaimana kabar Bintang? Sudah lama ia tidak ke rumah." ujar Ibu, mengalihkan pembicaraan.

                Tetapi, topik kali ini, membuat Jingga semakin membeku. Jingga tidak ingin mendengar nama pria brengsek itu. Jingga ingin kata itu menghilang di dunia ini. Kalau kalian bertanya apakah Jingga masih sakit hati, tentu saja. Luka dari sebuah pengkhianatan tidak akan sembuh dalam waktu yang singkat. 

                Angkasa pun tersentak dibuatnya. Ia melirik ke Jingga yang tiba-tiba saja pucat. Hari itu, ketika Jingga menceritakan segalanya, Angkasa ingin ke rumah Bintang dan menghajar pria itu karena telah mematahkan hati adiknya. Namun, seakan-akan tahu, Jingga melarangnya. Jingga juga melarangnya untuk tidak memberitahu siapapun, terutama Ayah dan Ibu. Jadi saat ini, Angkasa hanya bisa diam dan membiarkan Jingga melakukan hal yang ia inginkan.

                "Ah, dia jurusan ke kedokteran, kan? Apakah temanmu itu adalah teman Bintang?" sambung Ayah.

                "Tentu saja bukan. Bintang, kan di UI." ujar Ibu, terkekeh. "Udah pintar, ganteng, terus baik pula. Jingga pintar, ya milih pacar."

                Jingga menunduk, lalu tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Pujian-pujian Ibu barusan membuatnya muak seketika. Baik apanya? Bahkan, dia itu lebih jahat dari seorang preman. Dan Jingga pintar memilih pacar? Rasanya, Jingga ingin membenturkan kepalanya karena 'terlalu' pintar karena ia menerima Bintang menjadi pacarnya, dulu.

                "Ayah juga merestui hubungan kalian karena Bintang adalah sosok yang hampir sempurna. Setidaknya, ia tidak menjerumuskan Jingga ke hal-hal yang negatif karena pria itu tidak akan melakukan hal-hal seperti itu." ujar Ayah yang telah menyelesaikan porsi makannya.

                Angkasa semakin tidak nyaman dengan topik ini. "Ayah, tau Galih, kan? Teman SMA Angkasa, yang sering ke sini dulu. Bulan depan, ia mau menikah. Ceweknya orang Pekanbaru."

                "Benarkah?"

                "Jingga mau ke kamar dulu."

                Jingga bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju kamarnya. Angkasa yang melihatnya, hanya bisa menghela napas. Tentu saja, pembicaraan tadi telah membunuh perasaan Jingga sebanyak dua kali. Angkasa tidak ingin adiknya seperti itu, tetapi ia pun tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin membantu Jingga. Namun, situasi dan kondisi keluarganya tidak memungkinkannya melakukan hal itu. Ia hanya takut, tindakannya akan merugikan Jingga.

                Sementara Jingga, begitu ia menutup pintu kamarnya, kakinya terkulai hingga ia jatuh ke lantai. Ia menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana sembari menenangkan dirinya sendiri.

                Jingga harus kuat. Jingga tidak boleh menyerah.

                Walau saat ini, ia sangat ingin menyerah.

****

Dandelion dan AnginTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang