"Es krim-nya kenapa jadi hangat gini, sih?"
Jingga hanya bisa nyengir tak karuan. Di sisi lain, Angkasa merengut dan wajahnya kusut. Es krim, yang telah ia nanti-nantikan, kini telah berubah menjadi air dan tidak dingin, tidak seperti namanya. Angkasa sudah menduganya ketika Jingga tidak kembali sedari dua jam yang lalu.
"Lagian, tiba-tiba ketemu teman. Lupa juga kalau ada es krim." ujar Jingga, ngeles sebisa mungkin.
Angkasa menatapnya, menyelidik, seperti tengah mencium bau-bau mencurigakan. "Teman apa teman?"
"Iya, teman."
Jawaban Jingga barusan, membuat rasa curiga itu semakin besar. Sebab, Jingga menjawabnya dengan tenang-tenang saja. Angkasa kira, gadis itu akan mendengus, lalu memarahinya karena terlalu kepo dengan urusan pribadinya. Biasanya, kan Jingga begitu.
Aneh, bukan?
"Ntar aku beliin lagi, deh." ucap Jingga, lalu menuju kamarnya.
Sementara Jingga, ia menutup pintunya dengan pelan, lalu duduk di kursinya dan menyenderkan punggungnya sembari memejamkan matanya. Jingga menikmati semilir angin yang masuk melalui jendelanya yang sengaja ia buka. Ruangan ini terlalu pengap. Walaupun sebenarnya, membiarkan sirkulasi udara seperti ini tidak membuat Jingga lega sepenuhnya.
Ting!
Merasakan handphonenya berbunyi, Jingga mengambil handphone dari sakunya, lalu mengecek notifikasi ponselnya.
Sekala yang selalu ada untuk Ji
Semangat, Ji!
Melihat pesan itu, membuat Jingga tidak kuasa menahan senyum. Dilihatnya sekali lagi dan lengkungan bibirnya semakin melebar. Ia sedikit terhibur dengan uname yang dibuat Sekala tadi. Sekala yang selalu ada untuk Ji. Lucu, imut, dan... menyenangkan.
Tadi, ketika ia tidak kuasa menahan tangis, Sekala membalas pelukannya, mendekapnya dalam waktu yang tidak sebentar. Begitu tangis Jingga reda, Sekala mengajaknya duduk di halte yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Maaf, aku jadi kelihatan lemah gini." keluh Jingga, sedikit malu.
Jingga menunduk, sesekali sesegukan, sisa-sisa tangis tadi.
"Nggak kok, justru kamu terlihat kuat dimataku." sahut Sekala. Pria itu terdengar sangat memahami Jingga walau tidak benar-benar mengenalnya. Maksud Jingga, mereka hanya bertemu beberapa kali, tetapi, Sekala seperti telah bersama Jingga cukup lama. Hal itu membuat Jingga tiba-tiba merasa nyaman bersama Sekala. Seperti saat ini.
"Aku tidak memaksa kamu buat cerita, Ji. Itu hakmu," ujar Sekala pelan. "Tetapi, kalau kamu tidak memiliki telinga lain yang mendengarmu dan mulut lain yang akan memberimu nasihat, kamu boleh jadikan aku sosok seperti itu."
"Memendam semuanya itu tidak baik, Ji. Kapasitas otak memang tak terbatas, tetapi tidak berlaku untuk kapasitas hati."
Cukup lama Jingga terdiam dan selama itu pula Sekala tidak mengganggu. Pria itu hanya duduk dengan sedikit jarak yang tercipta di antara keduanya. Sesekali pria itu menggerakkan kakinya, mengusir sepi yang pelan-pelan membunuhnya.
"Orang tuaku tidak mendukungku dalam melukis."
Jingga mengucapkan dengan nada serak. Ada sedikit nada keraguan di dalamnya.
"Mereka ingin aku menjadi dokter. Aku sudah gap year selama setahun lebih demi masuk ke kedokteran, demi Ayah dan Ibuku. Namun, aku terlalu mencintai dunia lukis-melukis."
Jingga menyeka sudut matanya yang mulai berair. "Ibuku sangat bersyukur ketika ia mengira, aku telah meninggalkan dunia lukis. Katanya, hal itu hanya membuang-buang waktu dan aku sangat kecewa. Aku bertekad ingin meninggalkan dunia ini dan menjadi robot saja, demi orang tuaku."
Jingga mengepalkan kedua tangannya, mati-matian menahan rasa sesak yang ingin membuncah. Tetapi, Jingga sedikit tersentak ketika Sekala meletakkan jaketnya di atas kepala Jingga, sehingga wajah gadis itu sepenuhnya tertutup.
Jingga menoleh ke Sekala dengan pandangan gelap. "Kenapa?"
"Aku tidak akan melihatnya. Melihat tangismu, maksudnya." ujar Sekala.
Jingga mengangkat tudung hoodie itu hingga kedua matanya sukses menatap sepasang manik coklat milik Sekala. "Aku tidak akan menangis lagi, tau."
Sekala terkekeh mendengarnya. Bagi Sekala, Jingga terlihat lucu dengan hoodie di kepalanya. Sekala hanya berjaga-jaga tadi, takut jika Jingga menahan tangis karena kehadirannya. Pria itu melihat kepalan tangan Jingga yang semakin tergenggam kuat hingga bergetar. Seperti ada sesuatu yang akan membuncah.
"Kamu bisa menghubungiku. Kapanpun dan dimanapun." janji Sekala hangat.
Jingga hampir saja tersenyum, sebelum ia ingat, kalau ia tidak memiliki nomor ponsel Sekala. Bukan tidak punya. Ia blokir.
"Tapi—,"
"Pinjam ponselmu."
Lagi dan lagi, Sekala bisa membaca situasi dan kondisi Jingga.
Jingga menyerahkan handphonenya malu-malu. Tentu saja sudah sepatutnya ia malu. Beberapa hari yang lalu, dia tiba-tiba marah-marah kepada Sekala dan memblokir nomor Sekala tanpa ba-bi-bu lagi. Dan hari ini, Jingga sangat ingin memiliki nomor itu kembali.
"Aku akan berusaha untuk selalu ada untukmu." ucap Sekala sembari mengetik sesuatu diponsel Jingga.
Saat itu, Jingga tidak tahu harus berbuat apa. Ia kembali menutupi wajahnya dengan tudung hoodie karena ia yakin, wajahnya memerah dan takut Sekala akan melihatnya. Namun, begitu diingat-ingat lagi, Jingga tersenyum lebar, sehingga pipinya ikut tertarik. Ia baru tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang mendapat kalimat seperti itu. Bukankah kalimat itu terdengar sangat... romantis?
Jingga bangkit dari kasurnya dan mempersiapkan peralatan lukis dan kertas gambarnya. Kemudian, ia membuat sketsa mengenai pertemuannya tadi dengan Sekala. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk membuat sketsa dan Jingga pun telah bisa memberikan warna kepada lukisannya. Jingga mendapat inspirasi yang jarang ia tuangkan. Inspirasi yang bukan berasal dari imajinasinya sendiri, melainkan pengalaman nyatanya.
Jingga melukis pertemuan itu selama tiga jam, tidak henti. Begitu lukisan itu selesai, Jingga menghela napas lega. Selama itupula, senyum Jingga tidak luntur sedikitpun. Selesai sudah lukisan itu. 90% mirip dengan kenyataannya.
Jingga menggerakkan lehernya, menghilangkan pegal. Tiba-tiba, tatapannya berhenti di cermin dan menampilkan dirinya dengan senyum yang lebar itu. Mendadak, sepasang mata Jingga membelalak dan memegang pipinya dengan kedua tangannya. Apakah sedaritadi ia tersenyum seperti itu? Sangat terlihat seperti orang bodoh. Sangat memalukan.
Untung saja hanya ada dirinya di kamar ini.
Jingga segera menampar pipinya perlahan. Sadar, Jingga. Kamu tidak pernah tersenyum seperti itu. Apalagi lebih lebar dari separuh wajahmu.
Baiklah. Jingga hanya menganggapnya sebagai kesalahan teknis.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Dandelion dan Angin
Teen FictionJingga percaya adanya keajaiban setelah bertemu Sekala, seorang pelayan coffeeshop yang menyukai puisi. Bersama Sekala, membuat Jingga tahu, bahwa walaupun banyak yang meremehkan mimpinya, Jingga bisa menggapainya dengan hanya Sekala di sisinya. La...
