Chapter 04

14 3 0
                                        

          Jingga tidak tahu harus berbuat apa.

          Semuanya terjadi begitu cepat. Dalam sehari, semuanya berubah, 180 derajat. Dia bukan lagi seorang kekasih dari Bintang yang brengsek. Dia diselingkuhi, yang tidak pernah sekalipun terlintas di benak Jingga. Seorang Bintang, yang tidak pernah berkata kasar kepadanya dan selalu memberinya kasih sayang tiada tara. Tetapi, di depan matanya sendiri, ia melihat pria itu bersama wanita lain, yang juga tidak tahu bahwa ia berpacaran dengan pria yang telah memiliki pacar.

             Sungguh pelik.

             Jangan tanya bagaimana kondisi hati Jingga saat ini. Perih, letih, dan resah. Perih karena Bintang telah membuat luka yang dalam di sana. Letih karena telah ditipu oleh sosok yang dipercaya Jingga. Resah karena takut Jingga tidak bisa melepaskan Bintang. Jingga takut, ia menerima pria itu kembali karena ia tidak bisa kehilangan Bintang.

              Jingga pun merasa kecewa pada dirinya sendiri. Apakah ia sebegitu membosankannya untuk Bintang sehingga pria itu memilih menusuknya dari belakang? Melihat wanita yang bersama Bintang tadi, Jingga merasa tersindir. Penampilan wanita itu sungguh anggun dan wajahnya cantik. Ia juga terlihat pintar. Apakah ia teman kampus Bintang?Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Jingga, terasa ingin pecah.

                "Jangan menyalahi dirimu sendiri."

                Jingga merasa ada seseorang tengah duduk di sampingnya. Jingga mengangkat wajahnya, lalu mendengus kesal.

                "Kamu mau minta kompensasi?" sindir Jingga.

                Yang diduga, mengerutkan dahinya. "Kompensasi apa?"

                "Karena tadi."

                "Karena memegang lenganku?"

                Jingga terdiam begitu mendengarnya. Tiba-tiba saja ia merasa malu karena tadi telah sembarangan menggandeng lengan orang lain dan mengaku sebagai pacarnya.

                Seseorang itu adalah pelayan coffeeshop tadi.

                "Nggak, kok. Aku ingin memberikanmu ini." ujarnya sembari memberikan segelas caramel macchiato, pesanan Jingga yang sempat tertunda.

                Jingga berdecak. "Buang aja!"

                Pria itu tidak terlihat terkejut mendengar bentakkan Jingga. Pria itu memasang wajah tenang, membuat Jingga semakin kesal. Dia tetap menyodorkan caramel macchiato itu. Apakah pria ini tidak mengerti Bahasa Indonesia?

                "Mubazir."

                "Kamu minum aja!"

                "Aku nggak suka kopi."

                Jingga tidak percaya. Apakah ia sedang bercanda?

                "Kamu mau ngejekkin aku, ya?"

                Lagi-lagi, pria itu bingung. "Aku nggak bermaksud begitu, kok!"

                "Bilang aja kalau kamu kasihan sama aku!" seru Jingga membara. "Menarik, kan melihat perempuan yang marah-marah karena melihat pacarnya selingkuh?"

                Jingga menenggelamkan wajahnya di lengannya. Hanya berpikir bahwa orang-orang menikmati pertunjukkan tadi, membuat Jingga merasa sesak. Ia bisa membayangkan bagaimana orang-orang membicarakannya, lalu tertawa karena itu terlalu konyol. Lalu menjadi pembahasan menarik bila sedang mengobrol dengan orang-orang.

                Mereka tidak akan pernah mengerti perasaan Jingga karena tidak pernah mengalaminya.

                Sebelum kejadian seperti ini, Jingga selalu menganggap remeh kasus perselingkuhan. Contohnya saja, ketika Amel, teman sekelasnya yang diselingkuhi pacarnya, Adit, anak kelas sebelah. Gadis itu sampai tidak masuk selama seminggu dengan alasan sakit. Setelah masukpun, ia tidak bersemangat untuk sekolah, sehingga guru BK, orang tua, dan wali kelas membantu Amel untuk bangkit. Dulu, Jingga mengira bahwa semua itu terlalu lebay. Lagipula, mereka belum berpacaran dalam waktu yang dibilang lama. Hanya dua bulan. Namun, sebegitu besar dampaknya.

                Tetapi, kini, Jingga mengerti perasaan Amel. Benar-benar paham.

                "Kamu boleh kecewa, kok. Kamu juga boleh marah, bahkan melampiaskannya ke suatu objek," ujar pria itu tanpa ada tanda-tanda kemarahan di setiap katanya. "Karena semua itu membuktikan kalau kamu juga manusia."

                  Jingga benci dihibur. Sungguh. Karena ketika dihibur, Jingga merasa bahwa ia sangat lemah dan mudah sekali untuk dihancurkan. Bahkan, tidak jarang Jingga membentak Angkasa ketika pria itu menghiburnya agar ia lebih kuat untuk menjalani hidupnya. Sekalipun itu Angkasa, Jingga tetap benci. Benci dengan apapun yang berbentuk menghibur.

                Jingga tidak butuh dihibur.

                Tetapi, kenapa perkataan pria ini membuat Jingga merasa sedikit lega?

                Setidaknya, pria itu menyadarinya, bahwa ia adalah manusia. Ketika ia terlalu lemah, ia pun masih tetap manusia. Ketika ia berada di titik terendah dihidupnya, ia tetap seseorang bernama Jingga Andira. Ketika ia terus-terusan gagal dan merasa hina, ia masih menjadi seseorang.

                Jingga berdiri, lalu berbisik.

                "Jangan sok-sokkan menceramahiku dengan kata-kata murahan itu."

                Jingga tetaplah Jingga, yang tidak akan membiarkan prinsipnya bergeser sedikit saja.

                Pria itu menahan lengan Jingga, hendak memberikan caramel macchiato tersebut. Namun, Jingga mendorong lengannya hingga minuman itu jatuh dan tumpah. Jingga tidak peduli. Ia tetap berjalan lurus, ingin segera pulang ke rumah dengan tampilan kacau seperti ini.

                Pelayan itu menatap punggung Jingga hingga gadis itu menghilang dari pandangannya. Lalu, ia berjongkok, membersihkan sisa-sisa minuman itu. Jika kamu bilang ia dendam dengan gadis itu, tentu saja jawabannya tidak. Ia hanya bersimpati melihat gadis itu.

                Baginya, hati adalah sesuatu yang berharga untuk disakiti.

                Dan gadis itu, hatinya sedang terkoyak, sangat dalam.

****

Dandelion dan AnginTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang