Chapter 26

3 1 0
                                        

Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Saat ini adalah waktu dimana sebagian besar orang terlelap dan menjelajahi mimpi mereka masing-masing. Tetapi, Jingga tidak bisa melakukan hal itu saat ini. Sepasang matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamarnya yang kosong, hanya lampu yang tergantung di sana. Tidak sekalipun bibirnya menguap lebar karena kantuk, justru anggota tubuh itu terkatup, seolah-olah tidak berniat untuk dibuka. Jingga berbaring menghadap ke kanan, lalu ke kiri, telentang, dan berbalik melakukan hal-hal sebelumnya. Gadis itu melakukannya sedari tadi, terlihat sangat gelisah.

Tentu saja Jingga gelisah karena kejadian tadi siang.

Ya. Jingga mengajak Sekala untuk berkencan. Tetapi, bukan itu titik permasalahannya.

"Ayo pacaran," ujar Jingga dengan menatap sepasang mata Sekala. "Karena aku nggak mau kehilangan Sekala."

Gadis itu masih ingat dengan jelas ekspresi terkejut Sekala mendengar keberaniannya yang sangat tidak tahu malu itu. Tetapi, pada saat itu, Jingga sama sekali tidak malu untuk memposisikan dirinya sebagai cewek yang nembak cowok, yang biasanya, cowok-lah yang menembak cewek. Istilahnya, sih cewek itu dikejar, bukan mengejar. Namun, Jingga tidak peduli dengan berbagai hal yang akan ia dapatkan karena hal itu. Satu-satunya yang Jingga pedulikan adalah ia tidak akan kehilangan Sekala.

Pria itu sangat berarti untuk Jingga.

"Jawab dong, Ka?" desak Jingga, tidak sabaran.

Sekala berusaha menyunggingkan bibirnya, tersenyum tipis pada Jingga. "Kenapa tiba-tiba?"

"Aku hanya ingin memilikimu." jawab Jingga dengan cepat.

"Karena Ji takut kehilangan Sekala?"

Jingga mengangguk, mengiyakan.

Sekala memegang kedua bahu Jingga dengan pelan dan kedua mata mereka bertemu. Jingga tidak bisa berbohong jika ritme jantungnya berdebar sangat cepat. Apakah sebesar ini rasa sukanya pada pria itu? Melihat wajah Sekala sedekat ini, membuat isi perut Jingga seolah-olah sedang menari. Peredaran darah Jingga pun seperti dialiri kelopak bunga pink yang sangat membuatnya bahagia. Apa-apaan ini? Kenapa kali ini, jatuh cinta membuat Jingga seperti seseorang yang paling beruntung di dunia ini?

Tetapi, kebahagiaan itu, dipatahi oleh satu kalimat yang keluar dari mulut Sekala.

"Kamu bisa memilikiku tanpa berpacaran, Ji dan aku tidak akan pergi kemanapun."

Senyum Jingga luntur seketika dari wajahnya. "Jadi Sekala nolak aku? Kenapa?"

"Karena aku nyaman seperti ini, Ji."

Jingga tidak bisa menerima alasan Sekala yang terasa seperti mengambang tidak jelas. "Kamu bisa bilang, kalau kamu nggak suka sama aku, Ka."

Sekala menggeleng dengan cepat. "Bukannya aku nggak suka sama kamu, Ji."

"Kalau suka, kenapa nolak?" tanya Jingga, to-the-point. "Kalau kamu nyaman, hubungan kita mau bagaimanapun, akan terasa nyaman."

"Aku hanya ...."

Jingga menghela napasnya dengan kasar. Bahkan, Sekala tidak mampu melanjutkan kata-katanya, mencari alasan lainnya untuk menolak ajakan Jingga untuk berkencan, yang kira-kira akan diterima oleh orang keras kepala seperti gadis itu. Jingga akan menerima jika jawaban Sekala menolaknya adalah karena pria itu tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bagaimanapun, tidak ada yang bisa memaksakan perasaan orang lain, kan? Tetapi, Sekala tetap bersikeras bahwa bukan itu alasan Sekala menolak ajakan Jingga.

Tiba-tiba, terbesit sebuah alasan yang paling masuk akal bagi Jingga untuk Sekala yang menolak ajakannya untuk berkencan.

"Elsa, kan?"

Sekala menatap Jingga dengan ekspresi terkejut. Sepertinya, pria itu tidak pernah menyangka bahwa Jingga akan tahu tentang Elsa.

"Ji tau dari mana tentang Elsa?" tanyanya.

"Ternyata benar."

Jingga berbalik, memalingkan dirinya dari Sekala.

"Bilang aja kamu suka sama Elsa. Kenapa cari-cari alasan lain buat nolak aku?!" seru Jingga kesal. "Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi!"

Jingga langsung berlari meninggalkan Sekala yang sibuk meneriakkan namanya. Ia terlalu malu untuk berhadapan dengan Sekala. Hei, pria itu memiliki seorang gadis pujaan di hatinya. Jingga tahu itu, tetapi kenapa ia masih dengan beraninya menyatakan perasaannya pada Sekala dan meminta penjelasan yang rinci mengapa pria itu menolak dirinya? Jingga malu karena pada awalnya, ia ingin Sekala bilang secara terang-terangan bahwa pria itu tidak suka padanya, tetapi ia merasa sakit begitu mengetahui fakta bahwa ada seorang wanita yang bernama Elsa, yang akan selalu ada di tempat yang paling spesial di hari Sekala. Jingga merasa bahwa dirinya munafik. Pada kenyataannya, ia tidak ingin Sekala menolaknya dan menerima saja ajakannya untuk berpacaran dengannya. Ia tidak ingin mendengar berbagai alasan penolakan dari Sekala. Sekali lagi, Jingga ingin egois jika menyangkut tentang Sekala.

Jingga tidak ingin Elsa merebut Sekala darinya.

Di dini hari ini, Jingga tidak bisa tidur, memikirkan deklarasinya tadi, bahwa ia tidak ingin bertemu lagi dengan Sekala. Ya, Jingga tidak akan menemui Sekala lagi, apapun yang terjadi!

Jingga menarik selimutnya hingga benda itu menutupi seluruh bagian tubuhnya dengan sempurna. Di kegelapan tersebut, Jingga tetap tidak bisa tidur dan hatinya masih dipenuhi dengan rasa gelisah.

Sial.

Mengapa Jingga menjadi tidak yakin dengan tekadnya yang baru saja ia koarkan pada dirinya sendiri?

*****

Dandelion dan AnginTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang