Jingga merebahkan diri dengan kemeja tartan berwarna merah dan celana jeans yang masih rapi. Ia sudah bersiap-siap untuk belajar dengan tutornya hari ini, tetapi tiba-tiba beliau tidak bisa mengajar hari ini karena ada kepentingan mendadak hanya menugaskan Jingga dengan beberapa soal. Jingga menghela napas karena akhirnya ia bisa sedikit bernapas di sela-sela gaya belajarnya yang sangat ambis. Jingga tidak tahu sudah hari ke berapa ia belajar dengan tutor karena kalau ditanya kira-kira berapa lama, gadis itu akan menyebut setahun lamanya. Hal itu dikarenakan gaya belajar tutornya yang selalu menekannya untuk belajar. Dalam sehari, ia belajar selama lima jam dengan tutor, belum lagi diberi tugas dan dikumpul di pertemuan selanjutnya. Esoknya, seperti itu lagi, tidak henti-henti. Makanya, hari ini, Jingga merasa sedikit bebas karena tidak duduk selama lima jam di depan orang lain dan belajar tanpa henti selama itu.
Jingga mengambil ponselnya dari laci dan berdecih karena benda itu mati, kehabisan daya baterai. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir ia memegang ponselnya, yang merupakan salah satu benda yang selalu ia gunakan, dimanapun dan kapanpun. Setelah beberapa saat mengisi daya, ponselnya hidup kembali dan gadis itu segera mengecek sesuatu. Selama hari-hari sibuk itu, pikiran Jingga hanya berpusat pada seseorang. Gadis itu selalu mengingat janjinya, tetapi untuk kali ini, ia tidak bisa mewujudkan janji yang ia buat dengan pria itu. Lukisan yang masih setengah jadi itu masih tergeletak tak berdaya di bawah kolong kasurnya selama berhari-hari, tidak pernah ia sentuh lagi. Awalnya, Jingga hanya beranggapan bahwa pria itu tidak menganggap janji itu serius, tetapi ketika melihat puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari pria itu, membuat gadis itu tidak enak hati. Ia bergegas melepas alat isi daya dari ponselnya dan bangkit dari kasur. Ia memasukkan sembarang buku ke tasnya, lalu keluar dari kamar dengan benda itu.
"Mau kemana, Ji?" tanya Ibu yang sedang menyapu ruang keluarga.
"Mau belajar bareng, Bu. Jingga pergi, ya." jawab Jingga, terburu-buru mencium punggung tangan Ibunya dan beranjak keluar rumah tanpa mengidahkan Ibunya yang berteriak, berpesan agar gadis itu pulang sebelum senja. Jingga berjalan cepat menuju tempat favoritnya akhir-akhir ini, apalagi kalau bukan Retro's Coffee. Bukan karena tempatnya, tetapi ada seseorang yang membuat toko kopi itu berbeda dari yang lain di mata Jingga. Seseorang yang seperti cahaya di saat Jingga terkurung dalam gelapnya ruangan sempit. Seseorang yang selalu ada untuk Jingga, kapanpun gadis itu membutuhkannya.
Jingga sampai di Retro's Coffee dengan napas ngos-ngosan. Ia mendorong pintu kaca transparan dihadapannya dan suhu dingin dari pendingin ruangan menyapa permukaan kulitnya. Gadis itu menyipit, mencari seseorang yang tidak tertangkap oleh sepasang matanya. Tidak ada orang di tempat ini, pelanggan maupun pekerjanya.
Kenapa tempat ini tidak dikunci?
"Oh, Jingga?"
Kemunculan Genta dari pintu belakang menjawab semua kebingungan Jingga. Gadis itu melukiskan seulas senyuman tanpa ia sadari, namun sedikit mereda ketika sosok itu belum terlihat dihadapannya.
"Hari ini Sekala cuti." ujar Genta, yang selalu tahu arti kedatangan Jingga di tempat ini. Apalagi kalau bukan untuk bertemu Sekala.
"Cuti? Ngapain?"
"Duduk dulu, Ji. Ceritanya panjang."
Jingga mengikuti Genta dan duduk dihadapan pria itu dengan sorot tatap yang penuh tanda tanya.
"Katanya mau jenguk Elsa."
Kerutan di dahi Jingga menunjukkan segala perasaan gadis itu dengan gamblang. "Elsa?Siapa?"
Genta menatap Jingga dengan heran. "Sekala nggak pernah cerita?"
Jingga menggeleng dengan cepat, membuat Genta bertanya-tanya alasan Sekala tidak menceritakan apapun tentang Elsa pada gadis ini. Menurut Genta, Sekala dan Jingga terlihat sangat dekat sehingga saling berbagi cerita mengenai teman dekat mereka yang lain tentunya menjadi hal yang lumrah. Apakah Sekala dan Jingga tidak sedekat itu? Apakah Genta hanya terlalu berlebihan menilai hubungan mereka?
"Genta..." desak Jingga, tidak sabar.
"Tapi, biar Sekala aja, nggak, sih yang cerita?" gumam Genta pelan, yang masih dapat didengar oleh Jingga. Entah kenapa, melihat gelagat Genta, membuat Jingga berdebar mengenai Sekala dan perempuan yang disebut Genta tadi.
"Mantan Sekala?" tanya Jingga, akhirnya terungkap.
Beberapa saat kemudian, Genta tertawa, membuat Jingga semakin bingung.
"Lebihtepatnya, cinta bertepuk sebelah tangan, Ji."
Awalnya Jingga berpikir, jika ia bisa menerima apapun jawabannya selain bahwa perempuan itu adalah mantan Sekala. Namun, begitu Genta menangkisnya dan bilang hubungan mereka adalah mencintai sepihak, entah kenapa membuat Jingga merasa semakin takut. Kalau mereka hanya sekedar mantan, tentu saja perasaan itu bisa hilang.Namun, cinta sepihak adalah sebuah perasaan yang kuat, rasanya seperti tidak banyak orang yang mampu memikulnya karena terlalu berat. Jika Sekala memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan, Jingga harus apa? Apa yang harus dilakukannya?
Penjelasan Genta mengenai Elsa selanjutnya membuat Jingga gelisah. Hingga di akhir cerita, ia berusaha tersenyum dan terlihat baik-baik saja di depan Genta, kemudian pamit pulang karena sebentar lagi akan senja. Genta mengantar gadis itu hingga ke depan coffeeshop, menunggu hingga gadis itu menghilang dari tatapannya. Lalu pria itu menghela napas yang panjang.
Genta tahu bahwa Jingga sedang tidak baik-baik saja.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Dandelion dan Angin
Fiksi RemajaJingga percaya adanya keajaiban setelah bertemu Sekala, seorang pelayan coffeeshop yang menyukai puisi. Bersama Sekala, membuat Jingga tahu, bahwa walaupun banyak yang meremehkan mimpinya, Jingga bisa menggapainya dengan hanya Sekala di sisinya. La...
