7.

40.6K 3.5K 129
                                        


Hari ini, Marvin sedang bermalas-malasan di kamarnya. Seperti biasa, Rio berdiri di samping ranjang dengan postur tegap, sementara Marvin menatapnya dengan malas. Dia dilarang keluar kamar oleh Valdo—bahkan untuk ke kamar mandi pun, dia harus memanggil Rio. Astaga, dia hanya terjatuh, bukan lumpuh!

“Kenapa rasanya aku seperti tahanan kalau begini?” pikirnya.

"Rio, duduklah! Sumpah, gue capek lihat lu berdiri terus," seru Marvin.

"Saya sudah terbiasa, Tuan Muda," balas Rio sopan.

"Iya, gue tahu. Tapi lebih baik sekarang lu duduk."

"T-tapi, Tuan—"

"Duduk, Rio!" tegas Marvin, kali ini tak ingin dibantah.

"Baiklah," ujar Rio pasrah, lalu duduk di lantai.

Marvin mengernyit, merasa kesal. "Siapa yang nyuruh lu duduk di lantai, GorioRio?!"

"Tapi, kalau saya duduk di atas, itu tidak sopan, Tuan Muda."

"Berhenti membantah dan duduk dengan benar di sofa itu!" perintah Marvin, menunjuk sofa di sudut kamar.

Tanpa protes lagi, Rio berjalan menuju sofa dan duduk dengan postur tubuh yang tetap tegak. Marvin mendesah, menatapnya dengan sabar. "Duduklah dengan santai! Sakit mata gue lihat lu duduk kayak robot," gerutunya.

Rio akhirnya mengendurkan bahunya dan mencoba lebih rileks. Dalam hati, dia bertanya-tanya, “Apa Tuan Muda sedang mengalami fase seperti perempuan? Apa itu PMS? Tapi Tuan Muda kan lelaki ..”

PMS, Rio, PMS!

"Nah, gitu kan enak dilihat," ucap Marvin puas.

Marvin beranjak dari tempat tidur, dan seperti sudah diprogram, Rio langsung ikut bangkit dari sofa. Marvin, yang kaget karena tiba-tiba Rio sudah berdiri di hadapannya, langsung menatapnya tajam. "Astaga, Rio! Bisa nggak sih lu nggak bikin kaget?!" kesalnya.

"Tuan Muda mau ke mana?" tanya Rio, mengabaikan protes Marvin.

"Gue mau ke kamar mandi!"

"Mari saya antar," sahut Rio sigap.

"Nggak usah!"

"Tapi, perintah Tuan Valdo, Anda tidak boleh berjalan sendiri dulu, Tuan Muda," ujar Rio tenang.

"Nggak usah bawel! Gue cuma mau ke kamar mandi! Minggir!" Marvin mendorong Rio ke samping dan berjalan keluar.

Saat ini, Marvin duduk di ruang santai lantai satu, tepat di depan TV. Di sekelilingnya, ada camilan yang tadi dia minta dari para maid. "Tuan Muda, berhentilah memakan camilan. Ini sudah waktunya makan siang," ujar Rio.

Lagi-lagi, suara manusia kejadian di sampingnya itu membuat kuping Marvin berkedut kesal. “Tak bisakah manusia ini membiarkan gue tenang sehari saja tanpa ocehannya?” batin nya.

Marvin mengabaikan Rio dan tetap fokus pada TV. Namun, tiba-tiba Rio mengambil paksa semua camilan di depannya. "Oy, anjing! Balikin!" seru Marvin, menatap Rio dengan kesal.

"Tidak bisa, Tuan Muda. Ini sudah jadwal makan siang Anda, dan setelahnya Anda harus beristirahat," jawab Rio tenang.

Marvin menggerutu dan berusaha merebut kembali camilannya, tetapi Rio terus menjauhkan makanan itu darinya. Sampai akhirnya, mereka berdua terjatuh—dengan posisi Rio di bawah dan Marvin di atasnya. "Ada apa ini?"

Suara berat itu membuat keduanya sontak menoleh. Arka, yang baru saja pulang, berdiri di ambang pintu, menyaksikan adegan aneh di hadapannya.

Marvin buru-buru bangkit, diikuti oleh Rio yang segera merapikan pakaiannya dan menunduk hormat. "Tuan Muda Marvin, menolak makan siang dan berbicara kotor, Tuan," lapor Rio.

Marvin menatapnya tajam. “Ya ampun, kenapa si ember ini hobi banget ngadu?! Kapan-kapan harus gue sumpal pakai kain pel,” batin Marvin kesal.

"Apa itu benar, baby?" tanya Arka, suaranya rendah namun tegas.

"Lagian aku udah kenyang sama camilan, Kak," bela Marvin.

"Tapi kamu tetap nggak boleh melewatkan jam makan siang," balas Arka.

Marvin mendengus kesal. "Ya mau gimana? Aku bosan. Masa iya harus lihat muka menyebalkan si Rio terus? Capek juga."

Arka terkekeh kecil. "Ya sudah, sekarang makan." Dia menarik lengan Marvin, tapi sang adik tetap diam di tempat.

"Mau Kakak adukan ke Daddy, hmm?"

"Hah?! Kakak sekarang juga tukang ngadu?" sinis Marvin.

"Baiklah. Jadi, sekarang apa maumu?"

"Aku cuma malas makan itu-itu aja," alasan Marvin.

Arka mengernyit. “Bukankah di sini ada koki profesional yang bisa membuat apa saja? Tinggal minta.” batin Arka. "Bukankah kamu bisa meminta menu apa pun pada koki?" tanya nya.

"Ck, bosan," gumam Marvin.

Arka tersenyum tipis. Ada sesuatu dalam nada Marvin yang terdengar lucu di telinganya. "Baiklah. Lebih baik kita makan di luar saja. Ayo ikut Kakak," ajaknya.

Marvin mengangguk. Lumayan, setidaknya gue bisa keluar. "Rio, siapkan kebutuhan Marvin. Kita akan makan di salah satu restoran ku. Pastikan stafnya bisa berbahasa Indonesia," perintah Arka.

"Baik, Tuan Muda."

Mendengar kata "Indonesia" Marvin mendadak merasa rindu. Dia merindukan suasana di sana. Dia juga rindu kedua temannya. “Apa kabar mereka sekarang?” pikirnya.

Melihat tatapan Marvin yang mendadak sendu, Arka menepuk bahunya pelan. "Kenapa?" tanyanya.

"Oh, nggak apa-apa," balas Marvin cepat.

"Mau jujur atau Kakak paksa?"

"Dasar tukang paksa," gumam Marvin pelan.

"Kau bilang sesuatu, baby?" tanya Arka, membuat Marvin sedikit panik.

"Ah, nggak."

"Jadi, katakan sebelum Kakak paksa," ujar Arka, suaranya lembut tapi tegas.

Marvin mendesah pelan. "Aku cuma rindu suasana Indonesia, Kak."

"Apa kau ingin kembali ke sana?"

Marvin menggeleng. "Entahlah. Aku rindu kedua temanku."

Arka menatap adiknya dalam. "Kau tak lagi merindukan perempuan itu, kan?" tanyanya dengan nada dingin.

Marvin diam sejenak. "Aku tidak."

Jujur, dia merindukan ibunya. Tapi dia sadar diri—ibunya tak menginginkannya. Lebih baik dia memendam saja perasaan itu. Tapi tetap saja, rasanya sakit.

Melihat tubuh Marvin bergetar, Arka segera menariknya ke dalam pelukan. "Tenanglah. Jika kau rindu temanmu, Kakak bisa membawanya ke sini," ucapnya lembut.

Marvin tak sanggup menahan air matanya. Dia menangis di pelukan Arka. "Kak, apa aku memang nggak pantas dilahirkan? Apa aku anak pembawa sial sampai Ibu nggak menginginkanku?"

"Jangan berkata seperti itu. Kamu berharga bagi kami," bisik Arka.

Marvin terdiam, lalu memeluk erat kakaknya.

"Tapi Kak …. "

"Hm?"

"Kayaknya Kakak butuh mandi. Bau amis," ucap Marvin polos.

Arka tertawa kecil. Dasar adik menyebalkan.

Marvin Arsenio  ✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang