11: Familiar (2)

2.1K 320 10
                                        

Target 27 vote.

Jika tercapai malam Minggu aku akan up~

happy reading.

.
.
.

"itu ... Sangat aneh." Gumamku saat mendengar penjelasan dari Rio dan Tia.

Mereka baru saja menjelaskan tentang suasana di gerbang menuju rumah kaca ini. Dan mereka mengatakan bahwa setelah memasuki tempat itu, entah kenapa berkabut tebal.

Para pelayan yang biasanya datang untuk merusak atau mengotori tempat ini bahkan tidak bisa masuk. Tia bilang mereka malah berjalan kembali ke tempat semula atau malah terkadang berlari ketakutan.

Sangat aneh, tapi ada untungnya juga untuk kami. Sepertinya aku harus berterima kasih banyak-banyak jika bertemu dengan orang yang membuat semua hal ini terjadi.

"Biarkan saja, selama tidak ada di antara kita yang terluka. Bahkan sebenarnya itu adalah hal yang bagus kan?" Tanya ku ke Aeleen yang di angguki oleh nya.

"Itu benar, kita malah beruntung dengan adanya kabut itu. Jadi kurasa lebih baik di biarkan saja."

Walau tampak ragu, tapi keduanya tampaknya setuju dengan ucapan kami.

"Emm ... Baiklah, waktunya makan yang mulia." Teriak Aeolabi dan kami segera menghampiri dirinya. Tentunya dengan kedua hewan itu yang mengikuti kami.

"Hari ini kami hanya bisa membawa buah-buahan. Maafkan kami yang mulia."

"Kenapa kalian minta maaf? Justru kami senang kalian membawakan kami buah. Kami rasanya sudah bertahun-tahun tidak memakannya. Iyakan Aaron?"

Aku menoleh dan mengangguk membenarkan ucapan Aeleen.

Aku mengambil apel dan segera memakainya. Begitupun juga dengan Aeleen dan yang lainya. Namun serigala dan rubah itu hanya diam tertidur di samping kami.

"Omong-omong yang mulia. Apa itu spirit beast anda?"

Aku dan Aeleen menjawab dengan gelengan kepala atas pertanyaan yang di ajukan oleh (•name•).

"Tapi, mereka tampak ingin menjalin kontrak sihir dengan kalian." Kali ini Aeolabi yang berbicara.

"Benarkah? Tapi keduanya bilang bahwa mereka sudah memiliki tuan." Aku mengangguk mendengar ucapan Aeleen.

"Kenapa tidak kalian tanyakan saja yang mulia?"

Aku dan Aeleen saling bertatapan ragu sebelum menatap kedua hewan itu. Sebenarnya, kami tau kok. Kalau mereka adalah familiar kami. Tapi kami berpura-pura tidak tau.

Ah, soal pertemuan pertama yang tadi itu lain cerita. Saat itu kami benar-benar terkejut dan juga takut hingga kami tidak mengingat mereka.

"Emm, apa kalian ingin menjadi familiar kami?" Aeleen bertanya pada keduanya yang langsung mendapatkan respon positif.

"... Bagaimana cara mengikat kontrak?" Tanya ku pada semuanya.

"Anda hanya perlu memberikan nama pada mereka tuan."

Aku mengangguk mengerti, "bagaimana kalau Akari?"

Aku segera menoleh kearah Aeleen. Ia sangat cepat. Malah terlalu cepat. Tapi, tampaknya rubah berekor sembilan itu tampak menyukainya.

Kini aku mengalihkan pandanganku kepada sang serigala yang masih setia menatap ku. Hmm, kurasa lebih baik memberikan nama yang sesuai dengan sang serigala.

Si Kembar Antagonis || The Antagonistic TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang